Nertaja —sang Putri Majapahit— bersikukuh mengajak Sudewi keluar istana. Walaupun semalam nyawanya terancam bahaya, gadis kecil itu seolah lupa. Ia merasa kondisi tubuhnya baik-baik saja seperti sedia kala. Nertaja sampai menarik-narik tangan Sudewi agar mengikuti keinginannya.
"Kau baru saja sembuh, Nertaja. Lebih baik kita berkeliling di dalam keraton ini saja. Kandamu pasti melarang," tolak halus Sudewi.
Nertaja menghentak-hentakkan kakinya. Kemudian mengerucutkan bibir. "Tidak mau! Yunda semalam berkata akan menemaniku. Kalau begitu, Yunda berbohong," adunya tak ingin mendengarkan Sudewi. Gadis kecil itu sengaja memajukan bibirnya untuk mendapatkan belas kasihan sang Dewi. Ya, tentu saja itu merupakan akal-akalan khas anak-anak supaya Sudewi menurutinya.
Sudewi melihat ke lorong keraton romonya. Hanya ada paricaraka dan prajurit yang berlalu lalang. Beberapa waktu lalu, Hayam Wuruk memutuskan untuk meninggalkan kamar Nertaja. Nampaknya, laki-laki itu sedang ada urusan penting.
"Kanda tidak ada di sini, Yunda Sudewi. Kita bisa pergi diam-diam."
Sudewi jelas menolak ide Nertaja. Kalau ia sedang sendiri, itu masuk akal. Akan tetapi, sekarang ia bersama Nertaja. Kehidupan luar istana berbahaya untuk putri kerajaan seperti adik Hayam Wuruk itu. Lantas, Sudewi menggeleng kuat. Terlalu berisiko. Ia tidak ingin Nertaja celaka. "Tidak, Nertaja. Jikalau kita akan meninggalkan keraton, kita harus memberitahu kandamu terlebih dahulu."
Nertaja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tiba-tiba ide gila muncul di otaknya. "Bagaimana jika kita mengajak Kanda?" sarannya yang langsung dihadiahi oleh pelototan Sudewi.
Gila! Bagaimana mungkin Sudewi menghabiskan waktu bersama kakak Nertaja? Bahkan pertemuan singkat mereka selalu meninggalkan kesan buruk. Tidak, Sudewi tak ingin menerjunkan diri ke jurang yang dipenuhi buaya. Jikalau bisa, ia tidak ingin bertemu Hayam Wuruk untuk sementara waktu. Atau Sudewi berharap keajaiban datang, yaitu laki-laki itu kembali ke Kotaraja Trowulan karena urusan mendadak. Sangat klise, pikir Sudewi.
"Tidak, Nertaja. Gusti Yuwaraja sedang sibuk."
Sudewi berjalan lunglai di belakang Nertaja dan Hayam Wuruk. Ingin sekali rasanya ia mengutuk situasi yang menyebabkan dirinya berhadapan dengan kakak Nertaja itu. Keinginan Sudewi kandas ketika Hayam Wuruk menerima ajakan Nertaja. Sudewi sudah berusaha mati-matian untuk membujuk Nertaja agar tetap di keraton. Namun, usahanya mengkhianati hasil.
Mereka bertiga memakai pakaian layaknya rakyat biasa. Hayam Wuruk mengenakan Bhusana Gagampang Putra, sedangkan Sudewi dan Nertaja mengenakan Bhusana Gagampang Putri. Para prajurit Bhayangkara menjaga mereka dari kejauhan, supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Sesampainya di pasar, Nertaja langsung berlarian menghampiri pedagang.
"Kanda, Yunda, aku lapar," ucap Nertaja sembari menunjuk skul dinyun pada salah satu meja pedagang.
Hayam Wuruk mengamati makanan yang ditunjuk adiknya. Ia juga memperhatikan pedagang itu dalam menyendok skul dinyun pada daun pisang. Kebersihan tempat turut menjadi sasaran penilaian calon pewaris Majapahit itu.
"Tolong berikan aku ini dua bungkus," pinta Hayam Wuruk yang langsung diangguki oleh pedagang.
Tak lama kemudian dua bungkus skul dinyun berada di tangan Hayam Wuruk. Ia mengeluarkan beberapa koin gobog. "Ambillah sisanya."
Sudewi yang melihat kedermawanan calon raja itu terenyuh. Walaupun mulutnya sepedas cabai jawa, tetapi Hayam Wuruk memiliki sisi kebaikannya sendiri. Mungkin memang Sudewi belum mengenal sepenuhnya laki-laki itu, sehingga banyak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
"Makanlah," ujar Hayam Wuruk mengulungkan salah satu skul dinyun kepada Sudewi.
Sudewi menggeleng pelan. Ia tidak merasa lapar. "Mohon ampun, Yang Mulia Yuwaraja. Bukannya hamba tidak ingin menerima pemberian Baginda. Akan tetapi, hamba sudah makan dan tidak merasa lapar," jawab Sudewi sembari membungkukkan tubuhnya. Ia berusaha sebisa mungkin agar Hayam Wuruk tidak tersinggung.
KAMU SEDANG MEMBACA
APSARA MAJA : SANG PUTRI
Historical Fiction-Historical Fiction- {Apsara Majapahit I} Apsara adalah makhluk kayangan (bidadari). Diambil dari bahasa Jawa Kuno, yaitu apsari yang terdapat dalam pupuh 27 bait 1 Kakawin Nagarakretagama. Namanya memang tak semegah Gayatri Rajapatni ataupun Tribhu...
