Ekstra Part | Bu Yao

5.3K 305 5
                                        

Jarinya terangkat, menyentuh benda berkelip yang menghiasi rambutnya. Usapan pelan itu terasa nyata. Bibir yang terpoles lati aruna melengkung ke atas. Katakan, siapa yang mampu menolak pesonanya? Ia yang indah, ia yang megah, pantaslah dunia memanggilnya bidadari. Rupa rupawan laksana Kamaratih menatap hangat keempat temannya. Mereka menganga, nampaknya tak ada yang mampu meruntuhkan kecantikan itu. Satu di antaranya mendekat, hendak menyentuh bahu sang dara. Namun, segera ditepis oleh yang lain. Ia mengingatkan, jangan sentuh hadiah dari langit. Ah, memanglah berlebihan, mereka pun saling berbalas tawa. Suasana hangat itu membuat si gadis terenyuh. Demi apa pun, ia tak ingin hidup di lain masa, masa yang tak ia temui teman-teman hebat seperti mereka.

"Sudewi, kau cantik sekali," seloroh Rarasati, setelah tawa mereka reda, raut-raut berubah serius.

Anggukkan serentak menjadi jawaban. Benar, sang dewi itu memanglah teramat rupawan. Bu yao yang bertengger indah hanyalah pelengkap. Tanpanya, Sudewi tetaplah cantik. Rarasati menyadari, tuannya merupakan bunga yang baru saja mekar. Pantas saja Sudewi dijuluki Wengker Kishori. Namun, tatapan Rarasati meremang. Kishori? Bagaimana dengan lukisan itu? Apakah benar Sudewi telah selamat dari jangkauan para penguasa Majapahit? Rarasati meremas sinjang-nya pelan. Samar-samar ia melihat rombongan yang tak biasa. Tidak seperti saudagar kaya, bukan pula seorang pejabat desa. Rombongan itu terlihat ... mengagumkan-menakutkan di waktu yang bersamaan. Tiada yang bisa menandingi rombongan agung Wilwatikta. Kesakralan mereka tiada banding. Rarasati merasakan dadanya sesak, peluh mulai bercucuran. Sejenak, ia berpaling dari Sudewi, menghindari tatapannya adalah satu-satunya cara yang ampuh.

Hati kembali tenang, tetapi yang mengusik jauh terlampau nyata. Melalui ekor matanya, Rarasati dapat melihat pantulan bu yao yang seolah menampilkan wajah mengerikan. Tidak, bahkan jauh lebih buruk dari yang ia kira. Rarasati menajamkan penglihatannya, tetapi sia-sia, tak ia dapatkan tanda-tanda. Gadis itu gusar, bahaya tengah mengintai. Namun, apa daya? Ia tak bisa melihat segalanya secara utuh dan tetap menjadi rahasia. Sungkan untuk membuka tutur, Rarasati enggan menyebar kabar burung. Lantas, senyuman canggung ia tampilkan saat Li Zhu melempar lelucon aneh. Ya, pemuda itu tidak henti-hentinya mengingatkan Sagara agar tak lupa membayar utangnya. Ah, para pria memang tidak pandai membaca situasi, keluh Rarasati dalam hati. Rarasati terbungkam, tak ada lagi harapan ketika rombongan mencurigakan segera berlalu. Mereka tidak meninggalkan jejak apa pun kecuali wajah bingung pemilik kedai.

"Sungguh kau akan meminang seorang putri, Sagara?" Li Zhu tidak berhenti dengan godaan-godaannya, sedangkan Arya Maheswara bersedekap dan memilih untuk menjadi penonton setia.

Sudewi yang tadinya hanya melempar senyuman, kini rautnya berubah. Nampaknya, pertanyaan Li Zhu turut memantiknya. Lantas, ia menggeleng pelan. "Sagara akan meminang putri yang akan mengasihinya," sahutnya pelan diiringi napas berat. Sudewi melihat sekilas para sahabatnya. "Nampaknya kita terlalu jauh." Ia tahu, kelu saat menjawabnya. Namun, lagi-lagi ia harus mengerti bahwa keadaan dan keinginan tidak selalu berbanding lurus.

Sagara sempat tertahan, hendak menjawab meski enggan. Akan tetapi, anggukkan kepalanya menjadi saksi bahwa ia berdamai dengan kondisi. Tak elak, semua mata pun tertuju ke padanya. Sagara mengulas senyuman tipis. Pemuda itu tahu bahwa setinggi-tingginya harapan, ia harus tahu bahwa bumi tak akan pernah bisa menyentuh langit. "Mungkin Ibu Bumi akan mengutukku apabila menyeret sang putri ke dalam perutnya. Seorang putri tidak mungkin hidup di bumi, hendaknya ia berada di langit bersama para bidadari. Ah, putri itu memang salah satu bidadari, bukan?" Sagara melirik, gadis itu terdiam, hanya melihat dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Aku akan berjuang, mempertahankan sebisaku, meski aku tahu. Kita semua tahu bahwa sulit untuk sampai ke tuju," lanjutnya dengan nada getir yang sebisa mungkin ia tutupi.

"Seorang putri yang berbudi luhur tidak pantas hidup di nirayaloka. Jika seseorang memberi nirayaloka, maka ia tidak pantas untuk kau kasihi, Dewi." Rarasati menyambung, lalu mengusap bahu Sudewi pelan. Lantas, ia memegang bu yao yang sedari tadi mengganggu pandangan serta mengusik hatinya. "Akan lebih baik jika kau menyimpannya saja, Sudewi, jika tidak ..." Rarasati menahan napasnya sebelum kembali berbicara "... bandit akan mengambilnya." Kali ini, ia tak ragu. Benar adanya bahwa para bandit sering kali mengancam harta benda dan nyawa penduduk. Namun, bandit yang dilihatnya tidak pada umumnya.

Ketakutannya menjadi nyata. Para paricaraka Wengker berbondong-bondong membawa kotak-kotak kayu yang berisi barang-barang Sudewi dari kereta menuju ke dalam keraton. Rarasati memaksa memasuki kerumunan yang penasaran. Ada apa gerangan? Tidak henti-hentinya ia bertanya. Mengapa kenangan itu dibawa kembali? Rarasati berhasil sampai di depan. Jarak yang jauh membuatnya hanya bisa melihat dalam gamang, tak sampai bertukar pandang dengan sang dewi. Sedikit yang ia tahu, Sudewi tampak tak terima, tetapi ia tak memiliki daya untuk mempertahankan barang-barang miliknya.

Rarasati menggigit bibir bawahnya. Napasnya terengah-engah di saat ia mematung. Sungguh janggal, dayang itu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Beruntungnya salah satu paricaraka yang membawa barang-barang Sudewi mendekatinya, kemudian ia menahan lengan paricaraka itu. Segera saja benda berkilauan menyambut netra yang menyipit. Mulut Rarasati menganga dengan suka rela. Bu yao. Ya, bu yao itu pemberian Sagara untuk Sudewi. Tidak salah lagi, Rarasati hendak menyentuhnya, tetapi paricaraka tersebut segera melenggang pergi dengan tatapan sinis.

Apakah yang dilihatnya beberapa waktu lalu adalah seorang Maharaja Majapahit?

Rarasati bergegas menemui kepala dayang. Ia tahu, peringatan bahaya menggema. Rarasati tak peduli, bagaimanapun caranya, ia harus mendampingi Sudewi. Ya, berdua menjalani pengabdian abadi yang menyesakkan itu. Rarasati tidak ingin istana raja merenggut sahabatnya. Dewi Sita saja bisa tersingkir dari istana suaminya, bagaimana dengan Sudewi? Ah, Rarasati tak ingin membuang waktu, ia bersimpuh dan memohon agar dirinya dapat mengabdi sebagai dayang di Kedaton Trowulan nan agung. Rarasati mengabaikan segala tatapan sinis dan suara-suara sumbang tersebut. Oh, budak kecil itu ternyata memiliki nyali untuk membuat permohonan. Rarasati tahu, begitu kurang ajar seorang hamba yang rendah menjadi pengikut setia calon Parameswari Wilwatikta. Namun, kesediannya tak terbantah, keinginannya untuk menemani Sudewi semakin menggebu-gebu. Ya, setidaknya ia menjadi rumah bagi hati tuannya yang pilu.

28 Juni 2025

***

Hallo! Selamat datang dan selamat bertemu kembali.

Bagaimana dengan ekstra part ini? Masih adakah puzzle-puzzle lainnya yang dinarasikan melalui tokoh lain? Masih, dong! Stay tune, ya!

Sekian, sehat selalu dan luv u 🫶

APSARA MAJA : SANG PUTRICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang