9. Campur Tangan

130 14 0
                                        

Baru saja Lingga menduduki singgahsananya di kantor, ia langsung dibombardir dari segala sisi oleh setumpuk dokumen yang harus diperiksa dan ditandatangani. Maklum, kalau boleh agak sombong sedikit, posisinya lumayan tinggi di kantor milik abangnya ini. Hanya saja, hobinya WFH alias work from home, alhasil lelaki jangkung itu terbilang jarang sekali ke kantor.

Makanya, ketika ia berada di kantor, semua jenis pekerjaan yang sekiranya tak bisa dikerjakan dari jarak jauh, langsung menumpuk di depan mata. Meronta-ronta minta dikerjaan. Belum lagi sejak tadi, beberapa kepala divisi tempatnya bekerja, mondar-mandir memasuki ruangannya untuk berbagai keperluan.

Seperti contohnya, Lita dari kepala staf kebersihan Rads-fur, perusahaan furniture milik keluarga yang saat ini sudah dipegang sepenuhnya oleh sang kakak, Vandra, datang ke ruangannya sambil cengengesan. Sewaktu ditanya apa keperluannya, wanita itu menjawab, "Ini Pak Lingga. Mau minta izinnya buat penambahan karyawan baru untuk bagian kebersihan. Bapak tahu, kan, dua hari lalu, Yoga mengundurkan diri? Nah, itu dia Pak, kami butuh rekan tambahan untuk bagian ini."

Lingga lebih dulu menghela napas pendek. "Oke," balasnya singkat. "Buat aja lowongannya. Ambil paid promote di akun informasi loker di Instagram, nanti saya yang bayar."

"Sudah, Pak!" Lita menjawab semangat. "Sudah saya buat, tinggal di-upload."

Lingga mengangguk dua kali. "Oke. Tagihannya kirim ke saya saja nanti, ya."

"Baik, Pak!" Setelahnya, Lita terlihat senyum-senyum. Bukannya langsung pergi setelah apa yang ia inginkan dikabulkan oleh sang atasan, wanita yang hari ini mengenakan seragam kerjanya itu malah tetap berada di sana seolah-olah apa yang diinginkannya belum dipenuhi semua.

Hal itu jelas membuat Lingga mengerutkan dahinya. "Apa lagi?" tanyanya. Oh, jangan berpikir macam-macam dulu. Lingga dan karyawannya memang sering begini kalau bertemu. Tidak terlalu formal, seperti teman saja pada umumnya.

Lita malah semakin cengengesan. "Itu, Pak. Nanti Bapak yang interview, ya?"

"Nggak ada." Lingga menyahut agak galak. "Tugas kamu, lah. Enak aja."

"Yah, Pak Lingga mah. Tolong, dong, Pak. Masih sibuk ini saya karena kekurangan staf."

Kukuh, lelaki itu menggeleng. "Saya yang pilih-pilih pelamar aja. Kamu yang interview."

"Oke deh, kalau begitu." Lita menghela napas pendek. "Ya udah saya permisi dulu, ya, Pak. Bye!"

Lingga mendengkus. Untung saja Lita lebih tua darinya sedikit. Coba kalau tidak, sudah dipites itu kepalanya. Punya karyawan rata-rata tidak punya akhlak. Selalu menganggap Lingga sebagai teman tongkrongan. Ya, salahnya juga sih, sebab dulu saat baru-baru menjabat di Rads-fur, ia berkata, "Kalau sama saya, dibawa santai saja." Iya, sih, santai, tetapi maksudnya tuh tidak begini jugalah.

Terlepas dari itu semua, setidaknya Lingga merasa bebannya tidak terlalu berat. Karyawan yang menganggapnya sebagai teman biasa, membuat semua pekerjaan dapat didiskusikan dengan baik, tetapi tetap santai.

Tak lama berselang, lelaki berusia 27 tahun itu mendapati sebuah email masuk. Biasanya, email tersebut memang dikhususkan untuk pelamar pekerjaan yang akan melamar di Rads-fur. Pikirnya, lumayan cepat juga mencari karyawan baru untuk posisi yang ditawarkan.

Terhitung, ada tiga email yang masuk dan saat itu juga, Lingga membuka satu persatu email tersebut dan membaca CV serta surat lamaran yang dikirimkan. Dua surat lamaran pertama berasal dari laki-laki. Dan dua-duanya pernah bekerja di pabrik garmen, tetapi di tempat yang berbeda. Namun, alasan keduanya berhenti dari pekerjaan yang sebelumnya, membuat Lingga mengerutkan dahi.

Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan PesonamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang