"Kayaknya kalau saya perhatikan, kamu kurang serius membantu saya."
Soraya duduk termenung di dalam kamar indekosnya yang sengaja dibiarkan gelap. Hanya ada bias cahaya yang terpancar dari sela-sela ventilasi pintu sebagai penerangan. Kedua kakinya menjuntai di ranjang, diam tak bergerak sama sekali, tidak seperti biasanya.
"Setiap saya tanya siapa aja yang sedang dekat dengan anak saya, kamu selalu bilang nggak ada. Seolah-olah kamu yang paling tahu soal anak saya."
Suara dari kipas angin yang sejak tadi sengaja dinyalakan untuk mengusir nyamuk adalah satu-satunya pemecah keheningan di dalam kamar indekosnya itu.
"Saya jadi curiga, sebenarnya apa yang kamu lakukan? Sampai-sampai semua perempuan yang coba saya kenalkan ke anak saya selalu berakhir gagal."
Soraya mengembuskan napasnya perlahan, lalu mengubah posisi duduknya menjadi berbaring menyamping dengan kedua kaki terlipat. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai kusut dan berantakan. Tidak sempat rasanya untuk sekadar menyisir atau mengikatnya.
"Pokoknya ini kesempatan terakhir. Kalau tiga perempuan yang akan saya kenalkan kali ini nggak ada yang berhasil satu pun, saya bakal minta Lingga buat pecat kamu. Ingat, kamu itu cuma kerja dengan anak saya."
Seolah baru tersadarkan, Soraya langsung bangkit dari posisi berbaringnya, kemudian mendengkus kuat sambil menggerutu. "Anaknya yang belum dapat jodoh, kenapa harus gue yang dikejar-kejar kek gini!?"
Gadis 22 tahun itu berdiri dari tempat tidurnya, menyalakan lampu kamar yang sejak berjam-jam lalu sengaja tidak dihidupkan. Rencananya sih, supaya mendukung suasana. Niatnya sih, ia ingin menggalau sebentar, tetapi ternyata gagal. Yang ada malah bikin emosi kalau mengingat-ingat bagaimana suara Tante Ninda di telepon waktu itu. Sombong dan angkuh sekali.
Pikir Soraya, kenapa sih wanita tua bangka itu tidak membiarkan anaknya mencari jodohnya sendiri? Pakai bawa-bawa dirinya yang jelas-jelas hanya sebatas 'rekan kerja' seperti yang dikatakan tadi. Lalu, kenapa repot-repot memakai jasanya segala?
Jujur, Soraya muak. Lama-lama dirinya yang mencoba terlihat seperti 'orang baik' di depan wanita itu ternyata memuakkan juga. Padahal ia pikir, menjadi orang baik akan memudahkan langkahnya. Sialnya, tidak juga. Hidupnya masih begitu-begitu saja.
Ia memang bukan orang jahat, sih. Hanya mulutnya saja yang agak kasar-dulu. Setelah keseringan 'kabur', perlahan-lahan ia mencoba mengubah dirinya menjadi sosok yang 'lebih baik'. Walaupun rupanya, tidak semudah itu ya. Kalau punya uang banyak yang unlimited, rasanya ia ingin operasi plastik saja supaya tidak perlu kabur-kaburan lagi.
"Kayaknya udah saatnya gue resign dari kerjaan ini." Soraya tampak menimbang-nimbang kalimat yang terlintas di kepalanya barusan.
Ia menghela napas. "Tapi kalo resign, duit gue belum banyak-banyak banget. Belum bisa kabur ke luar negeri kalo cuma segini."
Sesuai yang atasannya katakan waktu itu, Soraya benar-benar akan bekerja bersama Lingga hingga keuangannya stabil. Tiba-tiba terlintas di kepala untuk 'kabur' ke luar negeri tepat setelah tiga bulan bekerja bersama lelaki itu. Alasan lainnya ya karena sepertinya kota ini sudah tidak lagi aman untuk tempat bersembunyi.
Ya, sejak awal hidupnya kan memang nomaden. Isinya kabur-kaburan melulu seperti orang yang terjerat utang. Hm, memang 'utang' sih, tetapi bentuknya bukan berupa uang.
Untuk kesekian kalinya dalam hari ini, Soraya menghela napas panjang. Lebih tepatnya mendesah dan mendengkus karena isi kepalanya yang terlalu ruwet.
Sejak siang hingga sore dirinya sengaja menciptakan suasana galau di kamarnya, tetapi ternyata tidak ada yang berubah. Hanya galau-galau sebentar saja, selebihnya sudah. Tidak ada sedikitpun air mata yang keluar sejak tadi. Namun, ternyata semua keruwetan hidupnya tidak berhenti sampai di situ.
Malamnya, Lingga datang dan mengajaknya jalan-jalan di malam Jumat yang bertaburan bintang. Soraya bahkan sempat bertanya apakah mereka akan melakukan perjalanan spiritual karena agak lain saja suasana malam ini dan lelaki itu yang tiba-tiba mengajaknya bepergian-seperti biasa.
Padahal aslinya, Lingga hanya ingin mengajaknya mencari makan malam dan mereka berakhir menyantap sajian bebek khas Madura di tempat langganan lelaki itu. Setelahnya, ia kembali diajak mengelilingi kota seolah tidak ada tujuan dengan lagu 17 milik PinkSweat$ yang sengaja diputar terus-menerus selama belasan menit.
Saat ditanya apa alasannya, Lingga hanya menjawab, "Enggak juga. Lagi suka kamu aja."
Karena suasana di dalam mobil saat itu terasa agak aneh tanpa pembahasan yang jelas, alhasil Soraya tiba-tiba terpikir untuk melancarkan misi yang diberikan oleh Tante Ninda beberapa hari lalu. Wanita itu bahkan sampai seniat itu hingga mengirimkannya file berisi profil tiga orang perempuan cantik dengan pekerjaan bagus kepadanya untuk diberikan kepada Lingga.
Soraya rasa, ini adalah waktu yang pas. Akan tetapi, sesaat setelah membacakan profil perempuan ketiga, tiba-tiba saja Lingga menghentikan mobilnya. Ia juga sampai tidak menyadari bahwa ternyata, entah sejak kapan laju mobil yang lelaki itu kendarai berubah menjadi jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Bodohnya, Soraya berpikir bahwa atasannya itu sudah tidak sabar melihat bagaimana wajah-wajah dari tiga perempuan yang barusan ia bacakan profilnya. Makanya, gadis itu dengan santainya mengulurkan ponsel dan bertanya, "Kak Lingga mau liat, kah? Nih-"
"Soraya kamu ini bodoh atau bagaimana?"
"Huh?"
Soraya jelas kaget saat Lingga tiba-tiba mengatainya bodoh seperti barusan. Ia pikir, memangnya apa kesalahannya sampai-sampai dicap bodoh begitu? Namun, namanya juga ratu hah-heh-hoh. Makanya kata pertama yang ia berikan sebagai respons adalah itu.
Namun, Soraya tidak bodoh saat mendadak merasakan aura di sekitarnya berubah menjadi sangat-sangat mencekam. Tidak heran sih, kalau ini malam Jumat. Masalahnya, bukan mencekam karena suasana horor atau bagaimana, tetapi karena sosok tinggi besar yang duduk di balik kemudi kini menguarkan aura menyeramkan dengan wajah masam yang entah sejak kapan menguasai dirinya.
"Saya suka kamu. Kamu masih nggak ngerti sama tiga kata itu?"
Dingin. Soraya merasakan kalimat yang terdengar barusan begitu dingin hingga menusuk tulang. Mulanya, ia ingin diam saja karena mendebat Lingga dalam keadaan seperti ini adalah sia-sia. Hanya saja, ia tetap dengan bodohnya merasa kalau ini adalah saat yang tepat untuk memenuhi keinginan Tante Ninda supaya semuanya segera berakhir.
"Kak, tolong sekali ini aja. Kak Lingga harus pilih salah satu dari mereka buat-"
"Kamu itu kerja untuk saya, Soraya. Bukan untuk Mama saya. Jadi tolong, berhenti mendengarkan perintah-perintah nggak masuk akal yang mama saya katakan."
Gadis itu menghela napas pendek sambil menutup kedua matanya selama beberapa detik. "Oke. Tapi bisa nggak Kak Lingga menuhin satu aja keinginannya Tante Ninda sekarang? Tolong, pilih salah satu supaya beliau tau kalau saya udah memenuhi apa yang beliau suruh, Kak. Tolong."
"Buat apa? Orang yang saya suka itu kamu, Soraya. Kamu. Satu-satunya orang yang bakal saya bawa untuk bertemu orang tua saya itu kamu. Memangnya kamu pikir saya ajak kamu pergi malam ini nggak ada alasannya seperti biasa? Enggak, Aya. Tapi kamu bikin semua rencana saya hancur."
"Kak-"
Lingga langsung bergerak memegang kedua bahu Soraya dan menatapnya tepat di mata. "Kamu lupa ajakan saya waktu itu? Komitmen, Aya. Saya ajak kamu berkomitmen. Kamu pikir selama ini saya bodoh karena nggak sadar kalau kamu perlahan menjauh? Dengan ngasih opsi-opsi bodoh, perempuan-perempuan antah-berantah yang coba kamu dekatkan ke saya dan semua perintah yang mama saya kasih, kamu pikir saya nggak sadar?"
"Seharusnya kalau dari awal kamu nggak mau, bilang. Jangan bertingkah seolah-olah saya masih punya harapan. Kamu pikir, selama ini saya cuma main-main?"
"Kak ...."
"Saya cuma minta satu hal, Aya. Tolong. Cukup dengar apa yang saya bilang. Dan kalau kamu nggak mau, cukup berhenti. Berhenti bikin saya terus-menerus jatuh cinta sama kamu."
~|40|~
Minggu, 23 Februari 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan Pesonamu
RomanceSERI SEMESTA BERSAMA [3]: DIA YANG TER-ISTIMEWA 16+ Jomlo adalah aib! Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Radesta Lingga Argantara selama kurang lebih lima tahun terakhir. Mentang-mentang dirinya pernah memiliki lebih dari satu kekasih, lalu ket...
