"Kalau gitu, jangan berhenti." Soraya berujar dingin.
Lingga yang masih terbakar emosi memilih diam, fokus menatap ke depan. Tanpa sadar, tiba-tiba saja kemejanya ditarik serampangan dan saat menoleh, sebuah benda kenyal mendadak menempel di bibirnya.
Lelaki itu kontan mengerjap saat adegan yang sama sekali tidak pernah terbayangkan terjadi. Lingga jelas kaget. Lebih kaget lagi saat dengan kesadaran penuh, ia menyadari bahwa Sorayalah yang memulainya.
Namun, Lingga segera sadar bahwa apa yang terjadi adalah kesalahan. Apalagi mengingat situasi antar keduanya yang cukup panas akibat emosinya tadi.
Didukung dengan pemikiran waras yang mendadak muncul sebagai pengingat di kepala, Lingga refleks menjauhkan wajah. Niat hati supaya ciuman antara dirinya dan Soraya terlepas. Beruntungnya lelaki jangkung itu masih dalam kesadaran penuh. Mengingat kalau apa yang terjadi antara mereka saat ini, juga keberanian Soraya yang entah datang dari mana itu terjadi karena emosi sesaat antar keduanya.
Namun, agaknya Soraya tidak memberinya pilihan lain. Sebab, saat Lingga berusaha menjauh, gadis itu semakin kuat mencengkeram kerah kemejanya. Ciuman yang semula hanya sebatas kecupan tanpa pergerakan, kini berubah menjadi jauh lebih berani, semakin dalam dan menuntut.
Lingga menggeram pelan saat menyadari bahwa pertahanan dirinya hampir hancur dan dirinya mulai terbawa nafsu. Satu tarikan napas diambil. Tangan yang semula mencoba mendorong tubuh Soraya menjauh, kini berbalik menarik pinggang Soraya lebih dekat. Membiarkan dirinya terombang-ambing terbawa arus dan tenggelam dalam suasana panas yang gadis itu ciptakan di awal.
Semua amarah di hatinya mendadak luruh. Melebur bersama gairah yang tiba-tiba datang mengambil alih. Keduanya sama-sama meleburkan pertahanan diri masing-masing. Hasrat yang selama ini tertutup keraguan dan segala perasaan yang belum sempat terucap, kini melebur. Bersatu padu menjadi sebuah ciuman panjang, saling menuntut.
Soraya lagi-lagi menjadi orang pertama. Kalau tadi dirinya menjadi yang pertama memulai, sekarang, ia pula yang mengakhirinya. Ciuman panjang antara keduanya barusan menyisakan napas yang saling berkejaran.
Mereka sama-sama diam dengan dada naik turun--mencoba mengatur kembali napas yang memburu. Keduanya saling tatap dalam hening sebelum akhirnya beberapa detik kemudian, Soraya merasakan sapuan lembut jemari Lingga di bibirnya, diikuti tatapan mata sang atasan yang menatap tepat di sana dalam tatapan hangat dan membara.
Sekali lagi, Soraya mendekatkan wajah. Mengecup bibir sang atasan, memancing kembali gairah yang sempat terhenti. Kali ini, tidak ada balasan yang memuaskan dari lelaki jangkung itu. Membuat sang dara memilih jalan lain dengan cara memberikan kecupan kecupan ringan berkali-kali di bibir yang sialnya terasa manis dan memabukkan.
Sial. Dalam posisi ini, Lingga sadar jika mereka tetap berada di sini, ia tidak yakin bisa menahan diri lebih lama. Keberanian Soraya membuatnya merasa kalau ini adalah permulaan dari segalanya. Karena terus dipancing, lagi-lagi pertahanan dirinya runtuh. Ia balas mengecup bibir ranum itu dan membawanya kembali ke dalam kecupan panjang.
Beruntungnya, lagi-lagi kewarasan masih mengambil alih. Lingga segera dibuat sadar kalau menghabiskan malam panas di dalam mobil yang berhenti di tengah jalan bukanlah pilihan yang tepat. Soraya pun merasakan hal yang sama. Terbukti dengan bagaimana si gadis perlahan menarik diri dari ciuman panjang mereka dan mengusap bibirnya dengan punggung tangan.
Karena tidak ingin membuat situasi semakin memanas--karena gairah, ia memilih kembali duduk di kursinya seolah tak terjadi apa pun. Bibir bagian bawahnya digigit kuat untuk menahan malu yang tiba-tiba saja muncul ke permukaan. Pikirnya, apa yang ia lakukan tadi? Mengapa dirinya bisa seberani itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan Pesonamu
RomanceSERI SEMESTA BERSAMA [3]: DIA YANG TER-ISTIMEWA 16+ Jomlo adalah aib! Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Radesta Lingga Argantara selama kurang lebih lima tahun terakhir. Mentang-mentang dirinya pernah memiliki lebih dari satu kekasih, lalu ket...
