Kebiasaan yang selalu dilakukan Soraya ketika bangun tidur adalah meregangkan otot-otot di tubuhnya sambil berguling ke kanan dan kiri. Selain itu, salah satu kakinya akan bergerak-gerak mengusap ujung sisi tempat tidur dengan gerakan memutar. Kegiatan kurang berfaedahnya tersebut, ditutup dengan menguap lebar sambil mengacak-acak rambut dan wajahnya. Barulah setelah itu ia membuka matanya yang masih terasa berat dengan sedikit dipaksakan.
Biasanya sih, ia akan mengumpulkan nyawa sekitar lima belas menit dengan berbaring dan menatap langit-langit kamar. Namun, kali ini berbeda. Terutama setelah mendengar suara tawa kecil seseorang yang terdengar begitu dekat.
"Astaga ya Tuhan!" pekik gadis itu ketika pertama kali membuka mata dan mendapati sesosok tinggi besar berdiri di hadapannya. Tenang, tenang. Ini bukan hantu, memang, sebelum Soraya menyadari satu hal. "Loh!? Kok ada Kak Lingga!?"
"Mm? Surprise ...?" balas sosok yang tak lain dan tak bukan adalah Lingga. Lelaki itu sekarang tersenyum bodoh sambil tetap melakukan kegiatannya.
Panik? Jelas saja. Soraya bahkan lupa kalau dirinya saat ini sedang berada di kediaman lelaki itu selama beberapa menit. Ketika sadar, refleks gadis itu langsung memperhatikan ke sekitar. Perasaan, ia tertidur di sofa, lalu kenapa sekarang dirinya berada di kamar!?
Tatapannya seketika berubah horor saat melihat ke arah sosok Lingga yang terlihat santai mengeringkan rambutnya menggunakan handuk sementara tubuhnya yang besar itu tertutupi handuk kimono berwarna putih. Soraya kontan meneguk saliva susah payah. Berkali-kali ia memandang ke arah sang atasan, kemudian melihat posisinya sekarang yang berada di atas tempat tidur.
"Aaaak!" Pikiran kotor seketika menyeruak di kepalanya, membuat gadis kelahiran oktober itu refleks berteriak sampai membuat Lingga yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya, menatap asisten pribadinya itu dengan heran. Apalagi saat melihat gadis itu tampak menyingkap selimut yang ia kenakan dan mengerang frustrasi.
"Ssut!" Lingga refleks menyentil dahi gadis itu pelan, tetapi entah karena lebay atau bagaimana, Soraya tetap mengeluh kesakitan sambil mengusap dahinya. "Mikir jorok, ya, kamu?"
"Sakit, tau!" Soraya cemberut sambil tetap mengusap dahinya. "Lagian Kak Lingga ngapain cuma pake handuk doang!?"
"Ya ... terserah saya, dong?"
"T-tapi kan--"
"Apa?"
Soraya memicingkan matanya. "Ini beneran Kak Lingga, kan!? Bukan setan, kan!?"
Lingga menghela napas frustrasi. "Menurut kamu aja deh, Ay. Ganteng gini, dibilang setan."
"Tapi kan Kak Lingga harusnya baru pulang lusa!"
"Kan surprise tadi saya bilang!?" Lelaki kelahiran Desember itu mengacak rambutnya frustasi. Awkward dan absurd sekali suasana di antara keduanya saat ini. "Lagian menurut kamu memangnya apa alasan saya suruh kamu ke apart? Ya buat sambut saya, lah! Kamu pake acara tidur segala, lagi!"
"Ya, namanya juga ngantuk! Sori, deh, sori." Soraya makin cemberut. "Tapi kan Kak Lingga bisa bangunin!"
"Kamu kan kebo. Tidurnya pules banget sampe hujan badai aja nggak sadar!"
"Lho, justru karena lagi hujan badai makanya saya tidur!"
Bayangkan saja bagaimana chaos-nya suasana yang terjadi saat ini. Keduanya bahkan lupa kalau status mereka adalah atasan dan bawahan. Mereka malah terlihat seperti sepasang kakak beradik yang sedang bertengkar karena berebut perhatian orang tua.
Tak lama berselang, Soraya memilih langsung bangkit dari tempat tidur dengan terburu-buru. Niatnya sih, ingin cepat pulang, tetapi sepertinya tidak semudah itu karena Lingga mendadak menegurnya, "Mau ke mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan Pesonamu
Lãng mạnSERI SEMESTA BERSAMA [3]: DIA YANG TER-ISTIMEWA 16+ Jomlo adalah aib! Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Radesta Lingga Argantara selama kurang lebih lima tahun terakhir. Mentang-mentang dirinya pernah memiliki lebih dari satu kekasih, lalu ket...
