13. Suami Orang?

116 13 0
                                        

"Ah! Sorry, gak sengaja."

Soraya menarik napas dalam, lalu mengembuskannya. Ini kali kedua dan kejadian yang sama terulang kembali. Pekerjaannya mengepel lantai terpaksa harus dilakukan dari awal, ditambah lagi harus bekerja cepat menahan air kotor yang mulai menyebar sepenjuru lantai ruangan. Panik, jelas? Akan tetapi, Soraya mencoba lebih rileks setelah membaca situasi.

Logikanya, tidak mungkin seseorang terjatuh ke lubang yang sama dua kali, bukan? Kecuali kalau seseorang itu bodoh atau sengaja melakukannya. Kira-kira seperti itulah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan sosok Clarita Riodra---salah satu karyawan yang bekerja di divisi pemasaran Rads-fur.

Seperti yang sudah dikatakan di awal, ini adalah kali kedua wanita itu 'tidak sengaja' tersandung ember berisi air pel yang jelas-jelas berada di pojok ruangan. Dalam artian, sama sekali tidak menghadang jalan walaupun memang, letaknya tidak jauh dari pintu. Akan tetapi, ayolah. Selama benda itu tidak berada tepat di depan pintu, artinya masih bisa dihindari, bukan?

Namun, sepertinya hal itu tidak berlaku untuk si paling 'tidak sengaja'. Buktinya, beberapa hari kemudian, wanita itu hampir saja tersandung 'lagi' oleh ember berisi air untuk mengepel tersebut, padahal jelas-jelas, Soraya sudah memindahkannya ke tempat yang cukup aman dari lalu lalang siapa pun. Kalau saja Soraya tidak memergokinya dan berkata, "Awas, Mbak!" Mungkin kejadian yang sama akan terulang untuk yang ketiga kalinya.

"Duh, ya ampun! Sorry, sorry. Hampiiir, aja," desahnya seolah-olah merasa lega. "Makasih, ya."

Mungkin wanita itu agak buta, pikir Soraya demi memuaskan hatinya yang merasa kesal. Namun, terpaksa ia mengukir senyum tipis. "Iya nggak apa-apa, Mbak. Lain kali hati-hati, soalnya jam-jam segini udah jamnya saya ngepel."

Pukul tiga lewat lima belas adalah jadwalnya Soraya mengepel. Sekalian pertukaran sif yang dimulai lima belas menit lalu. Sebab, ruangan sudah lebih dulu disapu oleh staf yang bekerja di sif pagi sebelum mereka bersiap untuk pulang, lalu staf di sif berikutnya yang akan melanjutkan pekerjaan.

Tempat yang dibersihkan pun merupakan area yang sering dilewati para karyawan. Katakanlah ruangan ini adalah clear area yang menghubungkan antara ruangan-ruangan dari divisi satu ke divisi lainnya. Tepatnya, area yang Soraya pel sekarang adalah tempatnya orang berlalu-lalang.

Masalahnya, ini masih dalam jam kerja. Sedikit kemungkinan untuk para karyawan berlalu-lalang, kecuali beberapa orang yang ditugaskan untuk menemui pimpinan divisi masing-masing atau ke pimpinan lain yang kedudukannya lebih tinggi. Seperti untuk meminta tandatangan atau surat persetujuan. Selebihnya, aman.

Dari kurang lebih dua sampai empat orang yang lewat ketika Soraya sedang melakukan pekerjaannya, kenapa hanya Clarita saja yang 'kebetulan' lewat dan 'tidak sengaja' menendang ember berisi air kotor itu, eh? Sangat kebetulan sekali, bukan?

Saking sebalnya, sebenernya Soraya ingin sekali melemparkan kain-kain yang ia gunakan untuk mengelap air yang bertumpahan tadi ke wajah Clarita, kalau saja ia tidak ingat posisinya. Lagi pula, ini baru awal bulan kedua dirinya bekerja. Benar-benar awal bulan. Tanggal 1. Tanggal gajian.

Tidak tahu, sih, tepatnya gaji tersebut ditransfer di jam berapa, intinya sudah pasti hari ini. Pasalnya, Soraya ingin menagih janji seseorang, haha.

Sementara itu, di sisi lain, Soraya tidak sadar kalau ternyata sejak tadi apa yang ia kerjakan sedang dipantau seseorang. Ya, siapa lagi sih, manusia gabut di dunia ini kalau bukan Lingga? Namun, lelaki itu sejak tadi memasang raut kesal. Terbukti dengan dahinya yang berkerut dan tangannya yang terlihat mengepal di atas meja.

"Nggak bisa, nih, kalo begini," ujarnya sambil meraih cangkir berisi kopi miliknya, lalu menyesap cairan hangat itu perlahan. "Lagian ada urusan apa juga Aya sama ... siapa sih nama tuh cewek?"

Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan PesonamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang