Soraya pikir, menerima tawaran Lingga untuk bekerja bersamanya adalah pilihan yang tepat. Namun, siapa yang menyangka kalau ternyata hari ini, tepat di hari ke tujuh belas dirinya bekerja bersama lelaki itu, Soraya sudah menemukan apa artinya 'bosan' yang Lingga katakan waktu itu. Hah. Seketika, ia merasa bodoh. Harusnya ia bisa mengira-ngira, apa alasan Lingga sampai membawa-bawa kata bosan di dalam kalimatnya supaya tidak menyesal di kemudian hari seperti sekarang.
Sayangnya, beras sudah menjadi nasi. Tinggal ditambah lauk saja supaya tambah enak dimakan. Jadinya, ketimbang banyak mengeluh, Soraya tetap menjalankan tugasnya walaupun untuk hari ini harus dilakukan dengan agak setengah hati.
"Pagi-pagi udah cemberut aja. Jangan ngambek, dong, Ayaaa."
Barusan itu adalah teguran dari Lingga. Sosok yang pagi-pagi buta tiba-tiba saja menelepon dan memintanya untuk segera datang ke kediaman lelaki itu. Tentu saja untuk bekerja karena memang, tugas Soraya seperti itu sekarang.
Datang ke kediaman sang atasan, menyiapkan pakaian dan sarapan untuk lelaki yang berjarak usia lima tahun darinya itu sebelum berangkat ke kantor. Kesannya, memang seperti pembantu, yagesya, hanya saja sebutannya lebih terdengar elegan sedikit, 'Personal Assistant'.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan Soraya menunjukkan wajah kurang sopannya kepada sang atasan seperti saat ini. Kalau saja ini adalah jadwalnya bekerja, mungkin Soraya akan melakukannya dengan senang hati seperti biasa. Masalahnya, hari ini adalah hari liburnya! Lingga sendiri yang sudah menyepakati itu. Namun, sialnya lelaki itu sendirilah yang mengingkarinya.
Waduh, pokoknya kalau sudah begini, bisa-bisa Soraya mengutangi lelaki itu seumur hidup karena demi apa pun, dipaksa bekerja di hari yang seharusnya menjadi hari libur adalah sebuah penyiksaan! Kalau saja tidak ada iming-iming bonus gaji, mungkin Soraya tidak akan berdiri di hadapan atasannya itu saat ini.
"Baju sama perlengkapan Bapak untuk tiga hari ke depan udah saya masukin koper semua. Sarapannya tadi saya beliin roti bakar, bisa dimakan di mobil nanti sambil jalan. Minumnya teh hijau hangat, sesuai permintaan. Udah saya siapin di tumbler," jelas Soraya panjang lebar sambil membawa sebuah jas berwarna biru dongker bergaris tipis ke hadapan atasannya itu.
Sementara, Lingga yang mendengar ucapan Soraya tadi langsung mendengkus. "Kamu lupa kalau di luar jam kerja harus panggil saya pake sebutan apa?"
Soraya mendengkus. Dengan santai, gadis itu menyahut, "Bapak juga lupa, kah, kalau ini hari libur saya?"
Lingga kontan merapatkan bibir. Kedua matanya pun ditutup rapat selama beberapa detik, seraya menghembuskan napas panjang. "Oke, fine. Kita impas," balasnya tak ikhlas. "Habis ini kamu boleh tidur lagi, kok. Tapi harus janji dulu, nggak boleh kangen ya, sama saya?"
Sumpah demi apa pun, Soraya rasanya ingin bilang, dih! kalau saja tidak ingat yang namanya sopan santun. Ia membalas seraya tersenyum manis yang terlihat agak dibuat-buat. "Bapak tenang aja, selama nggak ada Bapak, saya pasti bakal bekerja dengan sangat baik. Yang betah di sana ya, Pak. Kalo boleh, menetap aja di sana nggak apa-apa, kok."
"Tega banget sih, kamu, Ay." Lingga cemberut. Merajuk ceritanya sih, tetapi sayangnya, ia tidak melakukannya di depan orang yang tepat.
"Jangan drama terus, deh, Pak! Entar telat, diomelin sama Pak Vandra!" oceh Soraya sambil melebarkan jas yang berada di tangannya sejak tadi. "Ini cepet pake dulu jasnya!"
"Kamu kayak ibu-ibu," ujar Lingga sambil mengikuti titah Soraya yang kini membantunya mengenakan jas. Sudah seperti sepasang suami istri, bukan, mereka ini? Hanya saja, terkadang Soraya terkesan seperti sosok istri kejam yang bermulut tajam anti gombal-gombal club!
KAMU SEDANG MEMBACA
Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan Pesonamu
RomanceSERI SEMESTA BERSAMA [3]: DIA YANG TER-ISTIMEWA 16+ Jomlo adalah aib! Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Radesta Lingga Argantara selama kurang lebih lima tahun terakhir. Mentang-mentang dirinya pernah memiliki lebih dari satu kekasih, lalu ket...
