Lima hari berlalu setelah gajian, Soraya tak juga mendapati keberadaan Lingga di Rads-fur. Gadis itu bahkan sudah mengelilingi seisi kantor, memeriksa satu persatu ruangan dari divisi A, B, sampai F. Akan tetapi, lelaki tiang itu tak juga terlihat batang hidungnya.
Sesekali, ia melompat-lompat kecil saat melewati dinding-dinding kaca yang menjadi sekat antara divisi satu dan divisi lain. Tak jarang, Soraya juga sering iseng menunggu di depan lift yang biasa digunakan oleh si tiang berjalan itu setiap tak sengaja bertemu dengannya. Namun, hasilnya tetap sama. Nihil.
Soraya mendesah seraya membuka aplikasi M-Banking miliknya di ponsel. Gadis itu menggigit bibir. Gajinya kemarin hanya tersisa setengah. Setengahnya lagi sudah dibuat untuk membayar indekos, lalu membeli stok makanan, belanja bulanan seperti sabun mandi, sabun cuci dan lain sebagainya, serta membeli standing hanger untuk menjemur pakaian. Banyak, lah, pokoknya yang ia beli sampai-sampai uangnya hanya tersisa setengah begitu.
Ya sudahlah, pikirnya. Mungkin, Lingga sudah tidak ingat akan ajakannya waktu itu. Lagi pula, memangnya siapa dirinya sampai harus mengharapkan sesuatu seperti itu?
Soraya kemudian memilih kembali ke belakang, tempat yang disediakan khusus untuk para staf kebersihan. Di sana, ia bertemu dengan Angga---salah satu staf kebersihan yang lain---yang kebetulan berada di satu sif yang sama dengannya karena menggunakan sistem rolling sift. Omong-omong, Soraya menjadi satu-satunya perempuan di tim dengan tiga lelaki. Tentunya, Mbak Lita tidak masuk hitungan karena tugasnya agak berbeda daripada yang lain.
"Nggak cari makan, lo, Ya?"
Soraya menoleh setelah mendengar Angga bertanya kepadanya. Gadis itu kemudian menggeleng. "Enggak, bekel."
Lelaki yang usianya tujuh tahun di atas Soraya itu mengangguk. "Gue cari makan dulu keluar."
Sepeninggal Angga, Soraya langsung membuka tas selempang miliknya dan mengeluarkan bekal yang ia masukkan ke sana. Nasi goreng dadakan yang dibuat setengah jam sebelum jam kerja. Iya, Soraya agak telat tadi. Untung tidak dipecat.
Sambil makan, gadis itu termenung. Kayaknya, gue terlalu banyak berharap, ujarnya dalam benak seraya menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.
~|14|~
"Mama kan udah bilang, jangan maenan hp dulu biar cepat sembuh! Memangnya susah, kah, nurut kata-kata Mama sekali aja!?"
Lingga mendengkus, seraya menggulirkan matanya saat mendengar celetukan sang ibu barusan. Sudah tahu anaknya sakit, wanita paruh baya itu bukannya tobat berceramah ini itu, yang ada malah makin jadi. Sumpah, deh, lama-lama Lingga saja yang tobat kalau begini terus.
"Dimakan buburnya. Habisin. Capek-capek Mama masak, kalo cuma dimakan sesuap, awas aja kamu. Mama jejelin sama mangkok-mangkoknya baru tau rasa!"
Lelaki jangkung itu melongok sedikit menatap mangkuk berisi bubur yang dibawakan oleh ibunya. "Kok kayak bubur beli di mamang-mamang depan?"
"Mama masak sendiri, ya! Mau Mama bawain sepanci-pancinya terus Mama siramin ke muka kamu, hah!?"
"Galak banget," koor Lingga, membuat Mama Ninda hampir saja serius hendak menumpahkan bubur yang dibawanya tadi ke wajah anak bungsunya yang laknat itu kalau-kalau tidak ingat dosa.
"Cepet dimakan sebelum Mama racunin ya kamu!"
"Kan udah, Ma." Lingga lagi-lagi menyahut, sekalian agak menyindir juga, sih. "Emang Mama lupa anaknya sakit gara-gara apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan Pesonamu
RomanceSERI SEMESTA BERSAMA [3]: DIA YANG TER-ISTIMEWA 16+ Jomlo adalah aib! Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Radesta Lingga Argantara selama kurang lebih lima tahun terakhir. Mentang-mentang dirinya pernah memiliki lebih dari satu kekasih, lalu ket...
