Dalam posisi terlentang, Soraya menatap langit-langit kamar indekosnya dalam diam. Lampu yang dibiarkannya dalam keadaan mati, menjadi saksi bawa sejak kembali dari apartemen milik sang atasan, gadis itu tidak melakukan apa pun kecuali berbaring.
Napasnya teratur, matanya sesekali berkedip. Hanya itu yang ia lakukan selama belasan menit terakhir. Satu tarikan napas panjang diambil. Soraya memejamkan mata dan meneguk salivanya.
"Kalau kalian memang sudah serius, ya, lanjutkan. Jangan menggantung anak orang terlalu lama, Lingga. Kalau perlu menikah Minggu depan, kenapa tidak?"
Kalimat-kalimat panjang yang dilontarkan oleh Om Argantara sebagai ayah dari atasannya tadi seketika terngiang-ngiang di kepala. Serius? Menikah? Minggu depan? Ah, shit. Soraya rasa kepalanya hampir meledak.
Seusai 'kepergok' berada di dalam kamar dengan beberapa bercak kiss mark yang tak sanggup tertutupi, keduanya diminta duduk menghadap. Menceritakan semuanya secara detail. Memang sih, tidak ada yang terjadi. Maksudnya ... ke arah yang lebih ... 'panas', begitu. Hanya sekadar ... berciuman secara intens? Cuddle? Dan ... yups, 'tidur bersama'. Sebatas itu, kan, simple-nya?
Walaupun awalnya Tante Ninda terlihat marah, tetapi entahlah. Soraya tidak mengerti saat tiba-tiba saja wanita tua itu mendadak diam dengan wajah tak terbaca. Membiarkan sang kepala keluarga yang mengambil alih semua percakapan.
Menurut Soraya, Om Argantara terlalu menganggap sepele masalah ini. Atau, beliau memang terlalu tidak ingin ikut campur dengan masalah percintaan sang anak? Atau memang dasarnya saja Lingga yang brengshake kali, ya?
Ah, tidak-tidak. Soraya mendadak menggeleng dalam diam. Jelas-jelas kejadian semalam adalah ulahnya. Buktinya, ia yang memulai duluan. Ia yang memancing Lingga hingga terjadilah ciuman panas yang berakhir dengan tidur bersama sambil cuddling begitu. Intinya sih, sama-sama salah, lah!
"Rencananya kemarin Lingga emang mau bawa Soraya ke rumah. Kenalin ke Mama sama Papa sebagai ... calon istri, gitu. Tapi ya ... gitu deh."
Soraya otomatis membuka mata saat kembali mengingat perkataan Lingga pagi tadi. Mengangkat tangan kirinya yang mendadak tersemat sebuah cincin perak berkilau yang begitu cantik di jari manisnya. Ia bahkan tidak sadar, sejak kapan cincin itu berada di sana? Ia baru menyadarinya saat Lingga tiba-tiba menarik jemarinya dan mengusap benda berkilauan itu dengan lembut, memberi isyarat kepada ayah dan ibunya bahwa ia benar-benar serius kali ini.
Tetapi maksud Soraya tuh, sejak kapan hei!? Sejak kapan Lingga memasangkan cincin itu ke jari manisnya!? Tidak ada aba-aba, loh! Apa saat ia tidur semalam?
"Jadi? Sudah siap tanggal pernikahannya? Atau mau tunangan dulu?"
Soraya deg-degan. Jujur. Pikirnya, ini serius se-satset ini?
"Bulan depan fiks sih, Pa. Iya kan, Ay? Kita urus surat-menyuratnya dulu. Baru ajuin ke KUA."
Saat itu, Soraya hanya bisa mengangguk patah-patah sambil tersenyum tipis. Ia takut bereaksi berlebihan karena yang terpikir di kepalanya saat ini adalah ia dan Lingga baru saja kepergok 'tidur bareng!'. Gong sekali hidupnya ini, ya Tuhan.
"Atur saja. Papa percayakan semuanya sama kamu. Iya kan, Ma?"
Soraya bangkit dari posisi berbaringnya. Setelah dipikir-pikir, ada sesuatu yang mencurigakan. Tidak mungkin semulus ini, kan, kisah percintaannya dengan Lingga? Ah, maksudnya bukan mendoakan atau berharap sesuatu yang buruk, tetapi ... Tante Ninda ini lho, yang mencurigakan.
Saat masih bersembunyi di kamar Lingga, ia bahkan bisa mendengar suara wanita itu yang terdengar berapi-api. Ia bahkan sempat meminta kejelasan dengan nada penuh emosi. Lalu, kenapa tiba-tiba saja jadi pendiam?
KAMU SEDANG MEMBACA
Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan Pesonamu
RomantikSERI SEMESTA BERSAMA [3]: DIA YANG TER-ISTIMEWA 16+ Jomlo adalah aib! Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Radesta Lingga Argantara selama kurang lebih lima tahun terakhir. Mentang-mentang dirinya pernah memiliki lebih dari satu kekasih, lalu ket...
