17. Mode Serius, Katanya

104 17 5
                                        

Dengan wajah kusut dan daster berantakan karena tidur pakai gaya bebas, Soraya terpaksa berjalan menuju pintu kamarnya karena ada yang mengetuk. Ia pikir, pasti salah satu teman indekosnya yang datang, mungkin Mbak Sabrina yang sering sekali meminta bantuannya untuk membetulkan keran kamar mandi karena tidak ada yang bisa diandalkan selain Soraya di sana.

Sambil mengacak rambutnya yang sudah seperti singa--mengembang acak-acakan--Soraya memutar handle pintu dan menyembulkan wajahnya malasnya sambil memejamkan mata untuk mengumpulkan nyawa. "Iya, kenapa Mbak?" tanyanya dengan suara serak.

Namun, bukannya suara Mbak Sabrina yang Soraya dengar, melainkan suara tawa kecil seseorang yang agak kurang familiar sampai tawa itu berubah menjadi sebuah tanya. "Kamu baru bangun tidur?"

Mata yang semula masih lima watt mendadak menyala terang dan nyawa yang belum terkumpul semua seketika itu juga berdesakan membangun kesadaran. Soraya kontan melebarkan kedua matanya saat melihat persepsi sosok tinggi besar yang berdiri di depan pintu kamar indekosnya. Sepersekian detik, ia menatap tepat di mata sosok itu sampai beberapa saat kemudian, dengan cepat pintu yang dicat putih gading itu ditutup begitu saya.

Soraya merasakan jantungnya berdebar kencang, sembari menyandarkan punggung pada daun pintu. Salah satu tangannya ia letakkan di dada dan bibirnya merapal. "Gue pasti cuma mimpi, kan?"

Tenang, tenang. Soraya tidak habis melihat genderuwo, kok. Buktinya, sekarang sosok yang berdiri menjulang di depan pintu itu kembali mengetuk pintu kamarnya berkali-kali sambil berujar, "Aya? Kok saya dikunciin!?"

Mendengar itu, Soraya jelas langsung panik. Ia segera berlari menuju meja kecil yang baru dibelinya beberapa waktu lalu dan mengambil cermin serta sisir di sana. Melihat penampilannya yang wow, super berantakan sekali dan meringis merutuki nasib. Dengan cepat, ia menyisir rambutnya berharap hal itu dapat memperbaiki penampilan. Beruntungnya, tidak ada belek dan aliran sungai bekas air liur yang menghiasi wajahnya saat itu. Setidaknya, Soraya bisa menghela napas lega.

Sebenarnya sih, ia sudah bangun dari tadi, hanya saja masih agak malas-malasan di kasur. Biasalah, namanya juga pengangguran.

Setelah merasa kalau penampilan agak rapi sedikit, Soraya langsung berderap menuju pintu lalu membukanya. Menampilkan wajah sosok yang kini menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Kirain tadi kamu nggak nerima tamu."

Soraya langsung menghela napas lega. Berpikir kalau dirinya sempat berhalusinasi, tetapi ternyata aman. Sosok yang berdiri di depan pintu kamarnya memang benar seseorang yang ia kenal. Ya, tentu saja itu Lingga. Memangnya siapa lagi yang punya tubuh tinggi menjulang di sini kalau bukan oknum inisial L itu, eh?

Akan tetapi, bukannya menjawab apa yang Lingga katakan, Soraya malah bertanya, "Kok, Kak Lingga tau kosan saya?"

Lingga mengangkat bahu, pura-pura tak tahu. "Ini saya nggak disuruh masuk dulu?"

"Emangnya boleh?"

"Kok nanya?"

"Hah?"

"Kan yang ngekos di sini kamu, bukan saya."

Soraya mengerjap dua kali. "Terus kenapa Kak Lingga di sini?"

Bingung? Tentu. Bukan cuma Soraya yang bingung, tetapi Lingga juga. Seketika, keduanya menyadari kalau percakapan mereka kali ini terkesan absurd sampai Lingga akhirnya berujar, "Saya udah izin sama penjaga kos kamu."

"Terus? Diizinin?"

Beruntungnya, Lingga termasuk salah satu manusia yang memiliki kesabaran ekstra. Makanya, atas pertanyaan Soraya barusan, lelaki itu masih sempat-sempatnya tersenyum. "Menurut kamu kalau saya udah ada di depan kamar kamu, kira-kira dikasih izin, nggak?"

Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan PesonamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang