Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

42. Gawat

168 12 10
                                        

"Benar-benar kamu, ya. Udah jadi anak durhaka beneran!?"

Lingga yang baru saja membuka pintu apartemennya, langsung disambut dengan omelan dari sang ibu yang persis seperti petasan. Ia lantas menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, sambil menguap. Jujur nih, walaupun syok karena kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba, tetapi hal itu tidak menghilangkan kantuknya sama sekali.

"Berantakan banget, habis ngapain?"

Lelaki jangkung itu refleks melebarkan mata, lalu menatap tubuhnya sendiri. Perasaan dia sudah mengenakan pakaian kok, demi menutupi jejak-jejak kiss mark yang ditinggalkan oleh Soraya. Lalu, apa yang ibunya itu maksud?

Semula, Lingga mungkin berpikir begitu. Namun, saat ia melihat keadaan ruang tamunya yang berantakan seperti kapal pecah, membuat lelaki itu meneguk saliva susah payah.

Ah, ini gara-gara semalam. Karena terbawa nafsu yang meledak-ledak, mereka sempat menghabiskan waktu cukup lama untuk berciuman di area itu. Beberapa benda bahkan jatuh berserakan begitu saja dari tempatnya karena ulah tangan-tangan mereka yang tak sabaran. Contohnya seperti bantal sofa sampai kotak tisu pun berceceran di lantai.

"Biasalah, habis bikin prakarya." Lingga menyahut asal. Benar sih, prakarya. Tetapi, yang ia maksud tentu saja bukan berbentuk barang.

Mama Ninda berdecak, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa. Menyusul sang suami yang sudah duduk nyaman sambil memakan kacang almond yang tersedia di salah satu stoples di atas meja. Mengabaikan kondisi ruangan sang putra yang berantakan tanpa ada niat untuk membantu membereskannya sama sekali. Biarlah, itu kan, urusan Lingga.

"Lagian kenapa sih, pake acara dikunci ganda segala pintunya? Kan ribet. Kayak mau ada siapa aja."

"Ya nggak kenapa-kenapa sih, Ma. Biar aman aja."

"Emangnya biar aman dari siapa?"

"Mama, lah!"

"Anak setan!"

"Sudah-sudah, kalian ini kalo ketemu ribut mulu! Pusing Papa liatnya!" Papa Argantara seketika memijat kepalanya yang berdenyut. Selalu saja seperti ini kalau istri dan anak bungsunya itu bertemu. Ribut. Tetapi kalau tidak bertemu, saling cari, rindu walaupun harus dibalut gengsi setebal harapan.

"Ya habisnya anak Papa, tuh! Ditanyain yang bener, juga, jawabnya malah wleo-wleo nggak jelas kayak gitu." Mama Ninda jelas tidak mau kalah. Lingga memang musuh bebuyutannya sepanjang hidup.

Sementara Lingga? Si anak durhaka itu malah tertawa seolah-olah tak merasa bersalah, kemudian menjawab dengan agak serius sedikit. "Mama nih. Memangnya nggak boleh ya, kalo pintunya dikunci ganda? Kan tujuannya demi kemanan aja."

"Halah. Bilang aja kamu nyembunyiin sesuatu, kan!?" tembak Mama Ninda.

Lingga gelagapan, tetapi jujur, dia bisa mengondisikan ekspresi dan gesture wajahnya dengan baik. "Nyembunyiin apa emangnya? Mama aneh-aneh aja."

"Ya siapa tau kamu nyembunyiin perempuan."

Waduh! Gawat nih, kalau sampai ibunya tahu.

"Tumben kamu tidur pake baju, Ga?"

Waduh part 2. Ini kenapa pakai acara menyinggung soal 'tidur menggunakan pakaian atau tidak' segala, sih? Oke, mungkin ibunya memang sudah sangat-sangat hafal dengan kebiasaan sang anak, tetapi kenapa harus di masa seperti ini? Apa tidak ada opsi lain yang bisa dipertanyakan? Semua pasti ada alasannya kan? Semisal ... sengaja tidur menggunakan pakaian karena kedinginan? Atau sakit? Kenapa tidak? Mama Ninda memang spesialis penyulut emosi.

"Ya, pengin aja. Emang nggak boleh?"

Satu-satunya kesalahan Lingga cuma satu. Ia mengenakan kaus o neck--kaus yang memiliki potongan leher bulat--yang terlihat longgar saat dikenakan. Nah, masalahnya, salah satu kiss mark yang ditinggalkan oleh Soraya berada tepat di tulang selangka bagian kiri lelaki itu. Kelihatan? Jelas! Bahkan saat ini, Mama Ninda tampak menyipitkan matanya saat melihat sesuatu yang mencurigakan.

Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan PesonamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang