Soraya berdiri sambil celingak-celinguk menatap satu persatu karyawan Rads-fur yang keluar dari ruangan mereka karena memang sudah jamnya pulang kantor. Sesekali, gadis itu akan melompat-lompat kecil atau mendongak memperhatikan mereka dalam jarak sepuluh meter, sampai-sampai, ia tidak sadar kalau sejak tadi, Enggar menatapnya dengan tatapan bingung.
"Woi!" seru lelaki itu kemudian, membuat Soraya terperanjat. Kata-kata mutiara--umpatan kecil--praktis keluar dari bibirnya saat itu juga.
"Bang! Kaget, anjir!" pekiknya sambil melayangkan tangannya pada lengan Enggar.
Lelaki itu meringis sambil mengusap lengannya yang terasa pedas sehabis ditampol Soraya barusan. "Ya lagian, elo. Ngapain sih dari kemaren? Nyariin siapa?"
"E-enggak, kok. Nggak nyariin siapa-siapa." Soraya membuat alasan, kemudian mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.
"Halah, boong." Enggar jelas tak percaya dengan jawaban gadis itu. Pasalnya, ini bukan kali pertama ia melihat rekan kerjanya itu tampak mencari-cari sesuatu. Rasanya tidak mungkin, kan, kalau tidak ada yang dicari? "Nyariin siapa lo, gue tanya?"
"Nggak ada, Bang, apaan sih!?" Soraya kemudian memilih untuk menghindar. Ia berjalan cepat meninggalkan Enggar yang sialnya malah mengikuti langkahnya dan tiba-tiba saja, lelaki itu sudah berjalan tepat di sampingnya sekarang.
"Lo nyariin Pak Lingga, ya?"
Mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Enggar, membuat Soraya seketika melebarkan kedua matanya--melotot horor--ke arah Enggar yang sekarang cengengesan karena merasa tebakannya tadi benar.
"Bener, kan? Lo nyariin Pak Lingga?"
"E-enggak, kok, enak aja!" Soraya dengan cepat berusaha menyangkal, tetapi sepertinya, Enggak sudah tak mau tahu lagi. Lelaki itu terlihat percaya diri dengan tebakannya tadi.
"Ngaku aja, kali, Ya," ujarnya. "Lagian, santai kok. Gue pernah liat lo ngobrol sama Pak Lingga beberapa kali."
Soraya meringis, sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Yah, ketahuan deh, pikirnya. Namun, bagaimana lagi? Enggar sudah tahu, artinya mulai sekarang, ia perlu sedikit menjauh dari Lingga demi meminimalisir omongan orang yang tidak-tidak. "Cuma ngobrol, nggak apa-apa, kan?"
"Ya nggak apa-apa, lah!" Enggar menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Pak Lingga mah emang enak diajak ngobrol sama siapa aja, kok. Humble orangnya. Gampang diajak bercanda. "
Mendadak, gadis itu senyum-senyum sendiri. Memang benar apa yang dikatakan oleh Enggar. Lingga memang suka bercanda.
"Satu lagi, nih. Pak Lingga mah nggak usah dicari. Dia emang jarang ke kantor, kok. Bulan kemaren aja nggak tau lagi kerasukan apa makanya ngantor terus. Biasanya, dia lebih suka WFH sih. Makanya kek keajaiban banget kalo dia ke kantor setiap hari."
Gadis dengan tinggi 160 sentimeter itu mengerutkan dahinya. "Emangnya boleh, ya, kerjanya bebas gitu? Maksudnya, masuk kantornya sesuka hati gitu?"
Pertanyaan polos yang diberikan oleh Soraya malah membuat Enggar tertawa. Padahal, benar kan yang dikatakan Soraya? Alhasil, gadis itu kembali bertanya, "Kok ketawa, sih?"
Enggar menggeleng. "Ya nggak apa-apa, sih. Namanya juga bos. Bebas."
Bos? Soraya mengerutkan dahinya. "Emangnya Kak--eh, maksudnya Pak Lingga bos di sini?"
"Hah!? Lo ke mana aja, anjir, masa nggak tau? Pak Lingga GM-nya Rads-fur, woy!"
Soraya auto ngang-ngong. Gadis itu mengerjap dua kali. "GM itu apa?" Maklum, nih. Agak bolot sedikit dia tuh, sebenarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan Pesonamu
RomansaSERI SEMESTA BERSAMA [3]: DIA YANG TER-ISTIMEWA 16+ Jomlo adalah aib! Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Radesta Lingga Argantara selama kurang lebih lima tahun terakhir. Mentang-mentang dirinya pernah memiliki lebih dari satu kekasih, lalu ket...
