Sepengetahuan Soraya, rambut lelaki memang lebih cepat panjang ketimbang rambut perempuan. Kebetulan, buktinya ada di depan matanya sekarang.
Yap. Belum ada setahun ia bekerja dengan Lingga, kalau tidak salah sudah dua kali lelaki itu memotong rambutnya menjadi lebih pendek, tetapi sekarang karena beralasan sok sibuk, rambut atasannya itu sudah panjang. Bahkan bisa dibilang gondrong, lah.
Lingga juga waktu itu tiba-tiba bilang, "Nggak usah potong rambut aja kali ya, Ay?"
"Ya, terserah Kak Lingga aja, sih. Kan rambutnya Kakak." Begitu balasan Soraya. Padahal, dalam benak ia agak bertanya-tanya. Perasaan, ia belum pernah menemukan pekerja kantoran yang gondrong seperti Lingga begini.
Ya, memang belum gondrong banget, sih. Panjang rambut lelaki itu kira-kira sampai menutupi lehernya sendiri, lah. Cuma kalau untuk ukuran bos, mungkin lebih baik potongan rambutnya selalu rapi, ya? Seperti contohnya sang pemilik Rads-fur, lah. Pak Vandra itu atau seperti potongan rambut lelaki yang normal-normal saja, lah.
Ah, lupa. Lingga kan memang agak tidak normal, ya.
Kendati begitu, pada akhirnya Lingga tetap mengajak sang asisten untuk pergi merapikan rambutnya di barbershop langganan. Ini kali pertama Soraya menemani lelaki itu potong rambut, by the way. Entah sedang ada angin apa, Lingga memaksanya untuk ikut. Alibinya, "Siapa tahu kamu mau ikutan nyalon."
Terserah Lingga saja, lah, pokoknya. Soraya manut. Toh, sepanjang perjalanan yang ia lakukan hanya diam karena bosnya sendiri pun seperti tidak terlalu bertenaga untuk mengoceh seperti biasanya.
Mulanya Soraya agak skeptis karena niat Lingga, kan, pergi ke barbershop, ya? Tetapi kenapa sekarang keduanya malah ada di mal? Ternyata, ia yang agak udik ini baru tahu kalau tempat langganan bosnya itu memang berada di salah satu mal terbesar sepenjuru kota. Sudah terkenal juga, pula. Milik salah satu selebgram, katanya sih.
Namun, tidak seperti niat awal-potong rambut-Lingga malah meleng ke sebuah self photo studio yang berada di sana. Katanya, "Tiba-tiba saya pengin foto bareng kamu."
"Tinggal foto biasa aja, kenapa sih?"
"Terserah saya nggak sih?"
"Ya udah sana Kak Lingga masuk sendiri."
"Nggak mau, maunya sama kamu."
"Maksa?"
"Iya."
Akhirnya, lagi-lagi Soraya iya-iya saja saat dibawa Lingga memasuki studio foto yang dimaksud. Ia bahkan dengan tenang membiarkan Lingga memesan dan membayar jasa self photo studio dalam diam. Soalnya kalau berisik, ia takut kalau disuruh bayar juga, haha. Soalnya kan, pergi ke tempat seperti ini tidak ada di dalam list alias dadakan. Walaupun selama menjadi asisten pribadi Lingga, ia tidak pernah membayar sepeserpun atas segalanya, tetapi kan tidak lucu kalau sewaktu-waktu diminta split bill.
Setelah menghabiskan waktu sekitar setengah jam, keduanya keluar dari studio foto sambil tertawa-tawa. Ternyata, seru juga ya. Soraya pikir, ia akan mati gaya di dalam sana. Rupanya tidak. Lingga juga terbilang orang yang cukup pandai mengajari orang lain dalam bergaya.
Soraya bahkan sempat nyeletuk, "Kak Lingga kenapa nggak jadi fotografer aja, sih? Kayaknya cocok, deh."
Mendengar celetukan asisten pribadinya itu, Lingga tersenyum. "Memangnya iya, ya?"
Gadis dengan pipi tembam itu mengangguk. "Iya tau. Walaupun tadi tuh konsepnya self photo, tapi liat cara Kak Lingga ngajarin saya caranya 'bergaya' di foto, kayak ... seru aja gitu."
"Mungkin ... di another life saya bakal jadi fotografer aja kali, ya?"
Soraya tertawa. "Jauh amat another life. Memangnya Kak Lingga percaya reinkarnasi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan Pesonamu
RomansaSERI SEMESTA BERSAMA [3]: DIA YANG TER-ISTIMEWA 16+ Jomlo adalah aib! Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Radesta Lingga Argantara selama kurang lebih lima tahun terakhir. Mentang-mentang dirinya pernah memiliki lebih dari satu kekasih, lalu ket...
