"Percuma punya muka cantik kalo nggak bisa ngehasilin duit!"
"Kamu pikir, enak ngasih kamu makan setiap hari? Capek! Makanya, kerja! Biar tau gimana rasanya cari duit!"
"Heh, saya kasih tau ya, ke kamu. Zaman sekarang, susah buat dapet duit. Muka kamu itu aset. Jual, lah! Biar bisa kaya raya."
Pukul dua lewat enam belas dini hari, Soraya tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang membasahi pelipis dan lehernya. Rambut gadis itu juga sampai terlihat lembap karena berkeringat. Sambil mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan, Soraya berusaha mengatur napas yang terasa sesak.
Sudah lebih dari seminggu terakhir, Soraya selalu saja memimpikan hal yang sama, kalimat yang sama hingga sensasi yang sama. Hal ini jelas sangat menganggu kehidupannya sehari-hari karena biasanya setelah terbangun seperti ini, ia jadi sulit tidur kembali. Padahal, ia harus pergi bekerja di jam tujuh atau delapan pagi seperti biasanya, tergantung jadwal sang atasan. Akan tetapi, gara-gara hal ini, Soraya terkadang agak terlambat atau bisa tiba-tiba saja tertidur di kantor.
Tak jarang, ia selalu mendapat teguran dari atasannya karena sering tiba-tiba tertidur begitu. Bukan apa-apa, nih, Lingga takut kalau asistennya itu sakit, tetapi tetap ia suruh bekerja. Bisa-bisa dituntut nanti dirinya karena memaksa seseorang yang sedang sakit untuk bekerja.
Sambil memijat dahinya yang terasa berdenyut, Soraya berbaring telentang dengan mata terpejam. Pikirannya terasa penuh dan berisik. Sekali lagi, ia menghela napas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk. Kakinya sengaja ia juntaikan pada sisi ranjang.
Kebetulan, ia sudah pindah ke indekos yang baru kira-kira dua Minggu setelah kejadian waktu itu--saat ada beberapa orang yang mulai mengetahui keberadaannya. Itu pun atas bantuan Lingga. Katanya, ada salah seorang teman yang memiliki satu kamar kosong di indekos miliknya. Soraya sempat curiga kalau atasannya itu berbohong, tetapi ekspresi Lingga waktu itu terlihat begitu serius. Jadi ya sudahlah. Kebetulan, ia juga benar-benar harus pindah ke tempat tinggal yang baru.
Kalau ditotal-total, sudah lebih dari dua bulan ia menempati indekos ini. Masih sama dengan yang sebelumnya, jenis kos-kosan bebas yang bisa menerima tamu laki-laki dan perempuan, tetapi untuk penghuninya sendiri khusus putri. Biaya sewanya delapan ratus ribu perbulan dengan fasilitas ranjang dan kasur tidur, kipas angin, lemari pakaian, meja lipat. Juga terdapat dapur dan kamar mandi yang digunakan bersama oleh empat kamar. Setidaknya, tidak terlalu mengantre, lah, kalau semisal sedang terburu-buru. Untuk biaya listrik, air, gas dan Wi-Fi juga sudah include.
Alasan kenapa Soraya mau menempati indekos dengan harga yang 'lumayan' ya apalagi memangnya kalau bukan karena gaji yang ia terima pun 'lumayan'. Di bulan pertama, ia mendapatkan gaji di angka empat, tetapi di bulan kedua mulai ada kenaikan barang seratus sampai dua ratus ribu. Lingga bilang, sih, itu bonus. Gaji pokoknya tetap empat.
Tidak tahu juga, lah. Suka-suka Lingga saja. Ia juga bingung sebenarnya dengan sistem gaji yang diberikan oleh lelaki itu. Pasalnya, terakhir kali ia menerima gaji--di bulan ketiga--jumlah yang diterimanya adalah lima juta lebih lima puluh ribu. Ketika ditanyakan, lelaki itu dengan santainya menjawab, "Anggap aja buat nyicil hantaran."
Bah. Hantaran katanya. Yakin sekali sepertinya lelaki itu kalau mereka benar-benar akan menikah. Kalau Soraya sendiri sih, ya, agak tidak yakin. Pasti tahulah apa yang menjadi alasannya?
Niat hati ingin langsung mandi untuk menyegarkan diri, seketika tertunda karena ponselnya berdering. Diraihnya benda pipih yang baru dibelinya sebulan lalu itu dan menjawab telepon yang masuk. Bukan berniat pamer, nih, tetapi alasan Soraya membeli ponsel baru adalah untuk kepentingan pekerjaan juga. Pasalnya sudah beberapa kali ia sempat ditegur karena terlalu lambat merespons chat atau telepon karena ponselnya lemot.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan Pesonamu
Storie d'AmoreSERI SEMESTA BERSAMA [3]: DIA YANG TER-ISTIMEWA 16+ Jomlo adalah aib! Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Radesta Lingga Argantara selama kurang lebih lima tahun terakhir. Mentang-mentang dirinya pernah memiliki lebih dari satu kekasih, lalu ket...
