Soraya adalah tipe orang yang menikmati hari liburnya dengan sepenuh hati. Gadis itu bahkan benar-benar tidur sepanjang hari karena begadang hingga pagi. Kalau diingat-ingat, ia baru tertidur pukul setengah tujuh pagi dan baru terbangun di jam dua siang. Tenang, tenang. Ia benar-benar tertidur, kok, bukan simulasi meninggal. Sebab ada lebih dari empat kali ia terbangun karena ingin buang air kecil.
Namun, akibat tidur seharian, ia jadi melewatkan jam makannya dan sekarang, perutnya terasa sangat-sangat lapar. Hanya saja, dirinya terlalu malas untuk sekadar keluar kamar. Lebih tepatnya sih, karena ia malas mandi dan mengganti daster kebanggaannya menjadi pakaian yang lebih pantas untuk dipakai keluar.
Sialnya, ia tidak memiliki stok makanan sama sekali hari ini karena mi instan dan telur terakhirnya sudah dimakan semalam. Jadi, ya mau tak mau ia harus bangkit dari tempat tidur yang telah memeluknya seharian itu.
Beruntungnya sejak kemarin, Soraya sama sekali tidak mendapati chat atau telepon dari sang atasan. Ya, kecuali dari Tante Ninda waktu itu yang pada akhinya hanya mampu ia balas dengan jawaban singkat, "Belum ada, Tante." Karena ya, satu-satunya perempuan yang sedang dekat dengan Lingga hanya dirinya seorang. Tentu saja dirinya ini tidak masuk ke hitungan Tante Ninda, ya. mungkin di pikiran wanita paruh baya itu, memangnya Soraya itu siapa? Hanya orang yang bekerja dengan anaknya, kan? Tidak lebih dari itulah.
Kalau ditanya apakah ia kecewa? Jawabannya tentu saja iya. Apalagi beberapa waktu sebelum ia dipertemukan dengan keluarga besar Lingga di hari ulang tahun si kembar Sesha (Lau) dan Dekha (Vale), lelaki itu sempat memberinya harapan sampai hatinya melambung tinggi ke udara. Sayangnya, belum sampai terbang lebih tinggi, kakinya lebih dulu ditahan oleh restu dan kriteria calon menantu idaman Tante Ninda. Jelas, dari poin utamanya saja ia tidak bisa menyanggupinya, apalagi yang lain?
Makanya sejak saat itu pula, Soraya pelan-pelan mulai menjauh sambil menebalkan hati dari berbagai macam gombalan yang dilayangkan oleh sang atasan, seperti hari-hari biasanya. Ia bahkan mulai terang-terangan mendekatkan atasannya itu dengan gadis-gadis yang mereka temui selama bekerja, sampai-sampai tak jarang Lingga dibuat merajuk karena kelakuan sang asisten yang menyebalkan. Ya, habisnya bagaimana, ya? Salahkan Tante Ninda, lah, yang meminta macam-macam. Ibaratnya yang butuh jodoh siapa, kenapa malah Soraya yang dibebankan tugas untuk mencarinya? Jodoh untuk dirinya saja belum kelihatan, kok, malah mengurusi jodoh orang lain.
Mengingat rasa malasnya akan semakin menjadi-jadi kalau diturutkan terus-menerus, Soraya akhirnya memaksakan diri untuk mandi dan langsung berpakaian dengan cepat. Seperti tujuan utamanya yaitu mencari makan karena perutnya semakin kelaparan. Tidak mau yang ribet-ribet dan tak sampai dua puluh menit, gadis itu kembali ke indekosnya dengan satu porsi nasi plus ayam geprek yang sudah dilengkapi dengan es teh seharga lima belas ribu per-paketnya. Lumayanlah, tidak terlalu mahal dan tidak juga terlalu murah.
Kebetulan, Soraya sengaja tidak membawa ponselnya karena tempat yang menjual ayam geprek tadi letaknya tidak begitu jauh. Hanya lima menit dengan mengendarai sepeda motor. Yang bikin lama hanya saat mengantre tadi karena pelanggan yang datang cukup ramai.
Namun, karena tidak membawa ponsel itu jugalah, Soraya tidak tahu kalau ternyata, sudah ada lima belas panggilan tak terjawab dan dua puluh delapan pesan masuk di ponselnya. Coba tebak, siapa manusia gabut yang memberondongnya dengan chat dan telepon hingga sebanyak itu? Ya, tepat sekali. Lingga-lah pelaku satu-satunya. Ini pun ia baru sadar saat makanan yang dibelinya sudah habis setengah dan satu panggilan masuk dari nomor yang sama kembali datang.
Soraya mendesah lelah. Padahal ini masih jatah liburnya, lho. Lingga ini sesekali memang minta ditampol, ya, sepertinya?
"Ya, halo. Kenapa Pak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan Pesonamu
RomanceSERI SEMESTA BERSAMA [3]: DIA YANG TER-ISTIMEWA 16+ Jomlo adalah aib! Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Radesta Lingga Argantara selama kurang lebih lima tahun terakhir. Mentang-mentang dirinya pernah memiliki lebih dari satu kekasih, lalu ket...
