39. Tiga Kata

75 11 8
                                        

Entah sedang ada angin apa, tiba-tiba saja di malam yang bertabur bintang kali ini, Lingga mengajaknya jalan-jalan. Tidak aneh, sih, sebenarnya. Tetapi yang agak berbeda adalah ini malam Jumat. Malam yang menurut orang-orang sih, malam sakral. Agak horor-horor gimana gitu.

Soraya bahkan sempat bertanya, "Ini kita mau perjalanan spiritual ke mana, Kak?" Agak sedikit bercanda gitu maksudnya.

Namun, siapa sangka kalau ternyata Lingga malah menyahut dengan wajah yang sengaja dibuat seserius mungkin. "Pantai Selatan," ujarnya sambil menoleh singkat, lalu kembali fokus pada jalanan di hadapannya. Omong-omong, ia sedang menyetir sekarang.

Jawaban dari Lingga praktis membuat Soraya berdecak. "Jauh amat," cetusnya. "Yang serius kenapa sih, Kak?"

Lingga tertawa saja saat tahu kalau bercandaannya barusan ternyata gagal. Soraya tidak sepengecut itu untuk ditakut-takuti. "Cari makan, lah. Laper. Kamu kayak nggak tau saya aja."

Ya iya, sih, pikir Soraya. Soalnya kebiasaan Lingga kalau tiba-tiba mengajaknya pergi di luar pekerjaan ya sudah pasti untuk mencari makan di luar. Atau di beberapa kesempatan, ia juga diajak untuk mengunjungi rumah anggota keluarganya seperti yang sudah-sudah. Itu pun kalau ada acara tertentu saja sih.

"Makan apa ya kira-kira yang enak?"

Walaupun sebenarnya agak kurang sopan, tetapi seringnya Lingga selalu minta direkomendasikan oleh Soraya perihal makan malam. Jadilah gadis itu memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut untuk mencicipi makanan-makanan yang sedang ingin ia makan. Seperti contohnya malam ini.

"Bebek enak kayaknya, Kak," ujarnya sambil membuka ponsel. Biasa, cari referensi.

"Boleh juga. Kebetulan saya punya tempat makan bebek yang enak. Mau ke sana?"

Soraya menoleh. "Gas!"

Kalau soal makan, dua manusia ini boleh diadu. Paling klop pokoknya kalau urusan mengisi perut begini. Mereka akhir-akhir ini bahkan cukup sering berbagi rekomendasi makanan-makanan enak yang mereka suka dan mencicipinya bersama. Entah itu dengan cara mendatangi tempatnya langsung atau sekadar memesan lewat aplikasi pesan-antar daring.

Walaupun bisa dibilang, beberapa rekomendasi makanan yang Soraya berikan terkesan murah meriah, tetapi Lingga sampai saat ini tidak pernah merasa risi dengan itu. Toh, namanya juga pemakan segala. Lain dengan rekomendasi makanan darinya yang memiliki rentang harga 'lumayan'. Di awal-awal ia bahkan merekomendasikan makanan dengan harga paling rendah 75.000 rupiah untuk sepiring makanan.

Setibanya di lokasi warung nasi bebek yang Lingga maksud, keduanya langsung memesan menu seperti biasa. Karena sudah beberapa kali ke sana, ia jadi sudah tahu menu apa-apa saja yang enak.

Selera keduanya pun terbilang sama. Untuk potongan daging bebeknya, baik Lingga maupun Soraya sama-sama memilih bagian paha. Yang berbeda hanya di porsi nasinya saja, haha. Kalau Soraya cukup dengan satu porsi, Lingga bisa sampai tiga. Biasalah, porsi kuli memang agak lain.

Selesai makan dan mengobrol hal-hal random, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Dari obrolan mereka tadi, Soraya bisa menarik kesimpulan kalau atasannya itu masih belum berniat pulang. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas malam. Masih awal, katanya.

Aslinya, Soraya juga tidak tahu sih, atasannya ini akan membawanya ke mana. Hanya saja, entah kenapa sejak tadi musik yang berputar di mobil milik sang atasan terus-menerus memutar satu lagu yang sama. 17 dari Pink Sweat$. Walaupun ia juga menyukai lagu ini, tetapi kenapa sih, sejak tadi hanya lagu ini saja yang terus-terusan diputar oleh atasannya itu?

Iseng, Soraya bertanya, "Kak Lingga lagi suka lagu ini, ya?"

Lingga yang diberikan pertanyaan begitu, langsung menoleh singkat sambil tersenyum, lalu kembali fokus menyetir. "Enggak juga. Lagi suka kamu aja."

"Hah?" Sebagai ratunya hah-heh-hoh, jelas reaksi pertama yang Soraya berikan adalah 'hah?'.

Lelaki itu tidak menjawab, entah sedang berlagak sok misterius atau bagaimana. Yang jelas, keduanya saat ini hanya diam ditemani lagu dari salah satu penyanyi asal Amerika tersebut yang terus-menerus diputar sejak belasan menit yang lalu.

Karena tidak suka suasana yang terkesan agak canggung seperti sekarang, Soraya akhirnya berusaha untuk mencari kira-kira topik apa yang cocok dibahas di situasi seperti ini?

"Oh iya!" Soraya langsung bersuara saat mengingat sesuatu. Hal itu berhasil membuat Lingga mengalihkan atensinya sebentar dari fokusnya menyetir. "Saya baru inget. Kemarin, mamanya Kak Lingga ada ngirimin sesuatu ke saya. Lupa tunjukin ke Kak Lingga."

"Hm?" Lingga menggumam sambil melirik gadis itu dengan sudut matanya. "Mama saya ngasih sesuatu? Apa?"

"Bentar ya Kak." Soraya tampak sibuk mengutak-atik ponsel di tangannya, tampak memggulir benda pipih itu dengan agak terburu-buru. "Nah, ini dia. Kak Lingga nanti pilih ya. Saya bacain profilnya."

"Profil apa?"

"Pertama. Kiara Sitha Bramantyo. 27 tahun. Single. Designer sekaligus owner Kisitha Boutique. Tinggi 163 sentimeter. Yang ini cantik banget, Kak. Nanti saya forward fotonya."

"Aya."

"Sstt, nanti dulu liatnya yaaa. Saya tau Kak Lingga penasaran secakep apa dia. Fokus dulu nyetirnya oke? Saya lanjut bacain yang kedua."

Suasana di dalam mobil malah menjadi semakin terasa aneh dan hening, tepat saat Lingga mematikan musik yang sejak tadi diputar. Namun, entah memang sengaja atau tidak, Soraya berlagak seolah ia tidak menyadari kalau lagu 17 yang sejak tadi berputar berulang-ulang kini sudah tak lagi terdengar. Ia juga tidak mau melirik bagaimana ekspresi wajah sang atasan yang berubah agak kurang mengenakkan sejak beberapa saat yang lalu.

Seolah tak terjadi apa-apa, Soraya kembali melanjutkan apa yang ia bacakan tadi. "Profil kedua. Trishania Saskoro. 26 tahun. 170 sentimeter. Duh, ini cocok nih, sama Kak Lingga tingginya. Biar nggak terlalu jomplang!" Soraya menggulir layar ponselnya. "Model sekaligus brand ambassador Pretty-gurl Skin."

"Soraya."

"Bentar-bentar, Kak! Ini yang ketiga paling keren, sih! Namanya Jihanna Shannon. 27 tahun, 162 sentimeter. Owner sekaligus chef dari Jhanss Hotel and Resto di Bali! Ini sih cocok banget buat Kak Lingga. Cantik banget lagi dia Kak. Asli deh, ini Kak Lingga milih sambil merem juga nggak bakal rugi."

Entah sejak kapan Lingga tiba-tiba mengendarai mobilnya jauh lebih cepat dari sebelumnya, tetapi tiba-tiba saja saat lelaki itu mengerem mendadak, Soraya langsung merasakan tubuhnya terdorong ke depan, lalu terhempas ke belakang karena tertahan seat belt. Jantungnya seketika berdebar lebih kencang saat mulai merasakan adanya aura tidak nyaman yang menguar dari lelaki di sampingnya.

Akan tetapi, Soraya berusaha positive thinking. Ia berpikir, mungkin saja Lingga penasaran dan ingin cepat-cepat melihat wajah-wajah dari tiga perempuan yang tadi ia bacakan profilnya. "Kak Lingga mau liat, kah? Nih—"

"Soraya kamu ini bodoh atau bagaimana?"

"Huh?"

"Saya suka kamu. Kamu masih nggak ngerti sama tiga kata itu?"

~|39|~
Jumat, 21 Februari 2025

~|39|~Jumat, 21 Februari 2025

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Badmood ya bwang 🙏🏻

Terombang-ambing Diriku Dalam Lautan PesonamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang