"Terus-terus!"
"Ahh, lo curang!" Azello berucap tidak terima.
"Lah? Gue nggak ngapa-ngapain," kata Deon.
"Lo kan nggak sakit, jadi menang."
"Halah, alasan. Ngaku aja kalau kalah."
"Sini, siapa lagi yang mau lawan gue."
Tak ada jawaban, tapi Galaksi mengambil alih stick PS yang dipegang Azello. Lalu duduk di lantai, sebelah Deon.
"Ayo Gal, kalahin Deon."
"Kebelet."
Azello turun dari brankar dengan agak kesulitan karena selang infusnya sudah tertekuk karena dia bermain game tadi.
Kale yang peka pun membantu.
"Eh, ngapain ikut masuk?!"
"Bisa?"
"Bisalah! Keluar."
Azello mendorong Kale, lalu menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Gubrak
Mendengar suara itu, mereka segera masuk ke asal suara.
Azello sudah jatuh tertelungkup dengan tangan berdarah karena jarum infusnya tercabut.
Deon meringis melihatnya.
Kale dan Galaksi langsung menolong Azello. Mengangkatnya kembali ke atas brankar.
Galaksi menekan tombol emergency agar dokter atau suster cepat kemari.
"Sakit Zel?" tanya Deon, dia menggoyangkan badan temannya itu karena Azello hanya dia tak merespon.
Azello melihat tangannya.
"Sakit huaaa!!! Perih!!"
"Dedek jangan nangis dong, nih abang kasih permen, puk puk puk."
"HUAAAA!!!"
Kale menatap tajam Deon, agar dia diam.
"Kenapa bisa jatuh?" tanya Galaksi.
"K-kesandung bawah tiang, hiks."
Azello menatap penuh dendam tiang infus itu.
Dokter dan suster datang dan langsung memberikan tindakan.
"Sudah, lain kali hati-hati."
"Kok dipasang lagi, Dok?" protes Azello yang baru sadar jika sekarang jarum infusnya berpindah ke tangan kanan. Tangan kirinya sudah terperban rapi menutup luka tadi.
"Katanya mau cepat pulang. Tunggu badan kamu fit."
"Dokter jahat, kejam kayak ibu tiri."
Azello mendeklarasikan jika sekarang dia membenci hal-hal yang berbau dokter. Lebih tepatnya dia tak mau lagi berurusan dengan profesi yang satu itu. Memangnya siapa juga yang ingin sakit?
Dokter itu hanya balas tersenyum maklum lalu pamit bersama suster tadi.
"Jadi inget adik sepupu gue, sama kayak lo. Kalian seumuran, dia cengeng."
"Jadi lo ngatain gue cengeng?!"
Tentu saja Azello tak terima. Dia tidak cengeng!
"Enggak, cuma kalian hampir mirip. Tapi lo lebih ajaib."
"Emang gue jin apa?!"
Deon mengangkat tangannya menyerah. Dia kemudian kembali duduk, tidak baik memancing emosi bocah yang sedang marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZELLO [END]
Roman pour Adolescents"Woy, Kuning!" Duagh "Manggil gitu lagi, gue galiin kubur lo!" Pemuda bar-bar bernama Azello itu sungguh tak bisa diajak bercanda. Senggol sedikit langsung bacok. Tapi itu candaan yang menyebalkan, enak saja rambutnya ini blonde you know! Bukan kuni...
![AZELLO [END]](https://img.wattpad.com/cover/354235123-64-k629878.jpg)