"Zello, kamu tau Kak Keegan?" tanya Levin.
"Tau, kenapa?"
"Nggak papa sih, dia terkenal ya di sekolah ini?"
"Enggak tuh, biasa aja," balas Azello masih fokus dengan tugasnya.
"Kenapa emang?" akhirnya Azello bertanya.
"Kamu ada hubungan apa sama Kak Keegan?"
Levin penasaran karena saat pulang sekolah kemarin dia melihat Azello dan Keegan pulang bersama.
"Dia fans gue, biasalah orang ganteng banyak fansnya." Azello berkata dengan penuh percaya diri, Levin tertawa geli.
Mereka memang satu kelompok di tugas kewarganegaraan. Hanya dua orang, Galaksi ada bersama yang lain karena pembagian kelompok memang acak, terserah sang guru saja.
"Oh iya gue belum sempet nanya. Lo homeschooling ya dari kapan?"
"Sejak SD, kayaknya kelas 3."
"Apa?!" Azello sudah tak bisa fokus lagi dengan tugasnya. Hampir semua teman satu kelasnya menatap ke arahnya. Tapi tak berlangsung lama karena mereka sudah terbiasa dengan tingkah Azello. Untung saja guru mereka sedang keluar.
"Kalau gue nggak bakal kuat sih. Gila aja sendirian doang sama guru privat, lo hebat banget."
"Ya mau gimana lagi," nada suara Levin terdengar sedih.
Hal itu membuat Azello menepuk dua kali pundak Levin.
"Nggak papa, toh sekarang lo udah bisa sekolah kayak yang lain kan."
Levin balas mengangguk. Azello sudah tak ingin bertanya lagi, ia bersimpati dengan Levin. Dia takut jika bertanya lebih lagi nanti Levin tersinggung atau sedih karena mereka kan baru kenal, tidak sedekat itu.
"Gue udah selesai, lo?" Azello meletakkan pulpennya. Karena memang mereka membagi tugas tadi, Azello mengerjakan nomor awal dan Levin yang akhir.
"Udah juga."
Mereka berdua menggabungkan tugas mereka, setelah itu mengumpulkannya ke meja guru.
"Sini." Galaksi menginterupsi kedua remaja yang tengah mengobrol itu.
Galaksi meminta Azello untuk kembali duduk di bangkunya. Dia juga sudah selesai dan teman satu kelompoknya sudah dia usir tadi. Memang agak kejam.
"Kangen ya?" kata Azello iseng.
"Hm."
Azello melongo, padahal dia kan hanya iseng. Kenapa juga Galaksi harus mengiyakan. Padahal sejak tadi mereka juga ada di ruangan yang sama.
Galaksi merangkul Azello.
"Jangan terlalu deket sama Levin."
"Kenapa emang?"
"Dia aneh."
Mendengar itu, Azello mengernyit, tak mau ambil pusing dia malah menyenderkan kepalanya di bahu Galaksi lalu memejamkan matanya. Menunggu bel istirahat datang.
Azello merasakan badannya diguncang pelan, lalu membuka matanya.
"Udah jam istirahat, nggak mau makan?"
"Enggak, mager," balas Azello malas. Galaksi masih mencoba membujuk Azello ke kantin, tapi tetap ditolak.
"Nanti gue bawain roti," kata Galaksi yang akhirnya menyerah lalu pergi.
Azello menengokkan kepalanya ke kanan, Levin sudah tidak berada di tempat. Dia mengendikkan bahunya, mungkin temannya itu sudah di kantin.
Akhirnya Azello keluar dari kelas karena bosan. Bukan, ia tak ingin ke kantin, entah mengapa sekarang Azello ingin ke perpustakaan, tempat yang belum pernah dia kunjungi sama sekali karena memang merasa tak ada kepentingan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZELLO [END]
Teen Fiction"Woy, Kuning!" Duagh "Manggil gitu lagi, gue galiin kubur lo!" Pemuda bar-bar bernama Azello itu sungguh tak bisa diajak bercanda. Senggol sedikit langsung bacok. Tapi itu candaan yang menyebalkan, enak saja rambutnya ini blonde you know! Bukan kuni...
![AZELLO [END]](https://img.wattpad.com/cover/354235123-64-k629878.jpg)