"Tuan Muda, sudah ditunggu tuan besar di mobil," kata Johnson yang baru saja datang. Pria itu mengambil posisi, berjaga-jaga jika Azello jatuh.
Karena anak itu ada di atas pohon, dengan santainya memakan jambu.
"Bentar, tanggung Om."
Lima menit kemudian, barulah Azello turun dengan Johnson yang menangkapnya.
Johnson berharap dia diberi umur panjang, semoga jantungnya tetap aman saat menjaga Azello. Menjaga satu anak sudah seperti menjaga 10 anak yang sulit diatur. Dosa apa Johnson bisa begini. Dia lebih baik melawan musuh daripada menjadi anggap saja baby sitter.
Azello sedikit terkejut kala mendapati Gillion yang menjemputnya.
"Masuk, kenapa malah melamun?"
"Bagaimana di sekolah?" tanya Gillion setelah sekian lama keheningan menyelimuti mereka.
"Tadi ada ulangan, gurunya galak."
"Galak? Kamu dimarahi? Katakan, siapa yang berani memarahimu?"
"Papa."
"Maksudmu?"
"Gurunya nggak marahin Aze, Papa yang marah, liat matanya melotot kayak Hulk."
Memang sejak sakit waktu itu, Azello seakan mengganti kosakatanya pada orang terdekat. Mungkin kembali ke setelan pabrik, karena dulunya memang sudah seperti itu. Atau lebih tepatnya karena Azello yang sudah terbiasa dengan kehadiran mereka. Mereka yang dimaksud adalah Gillion, Dariel, Asher, Keegan, dan jangan lupakan ketiga sahabat Azello.
Gillion berdehem. Apa dia semenyeramkan itu?
"Papa punya kejutan untukmu."
"Apa?"
"Nanti kamu akan tahu."
Setengah jam kemudian mereka sampai di suatu tempat. Azello dituntun oleh Gillion berjalan menuju tempat tujuan. Karena mata Azello ditutup dengan sebuah kain, yang membuat Azello tak henti untuk mendumel.
Sampai di tempat yang dimaksud, Gillion membuka kain yang menutupi mata anaknya.
"Ini semua milikmu."
"Hah? Papa beneran beli pabrik lolipop?!"
"Benar, jadi kamu mau memaafkan Papa kan, Prince?"
Lutut Azello jadi lemas, demi apa? Padahal kan waktu itu dia asal bicara saja. Buat apa pula papanya buang-buang duit untuk membeli pabrik ini?! Kepalanya jadi pening. Ditambah lagi plang itu, apa-apaan itu 'Azello Sweet'.
"Disini ada kamera nggak sih, mau lambaiin tangan kesana," lirih Azello.
Azello bahkan tak bisa mengira-ngira berapa luas tempat ini.
"Papa jangan buang-buang duit, ganti namanya, Aze malu tau!"
Sungguh Azello membayangkan jika nama produk permen itu menjadi namanya, sungguh menggelikan sekali. Dia menutup wajahnya, merinding.
"Aze maafin Papa, kemarin yang aku minta pabrik cuma bercanda, jadi jual lagi aja."
"Baiklah, apapun untuk anak Papa."
Gillion terkekeh melihat tingkah Azello yang malu, sampai telinganya ikut memerah.
Kemudian asisten Gillion memberikan sebuah tas kantong pada Azello.
"Apa ini?"
"Lihat saja."
"Banyak banget, makasih Papa."
Tidak perlu repot-repot membelikan satu pabriknya, hanya dengan permen sebanyak itu saja sudah membuat anak itu senang.
"Ingin kemana? Akan Papa turuti."
KAMU SEDANG MEMBACA
AZELLO [END]
Novela Juvenil"Woy, Kuning!" Duagh "Manggil gitu lagi, gue galiin kubur lo!" Pemuda bar-bar bernama Azello itu sungguh tak bisa diajak bercanda. Senggol sedikit langsung bacok. Tapi itu candaan yang menyebalkan, enak saja rambutnya ini blonde you know! Bukan kuni...
![AZELLO [END]](https://img.wattpad.com/cover/354235123-64-k629878.jpg)