SELAMAT MEMBACA! ❤️
———————————————————
Pagi yang sedikit gerimis, membuat ketiga sekawan yang tengah dalam perjalanan menuju kampus ini sedikit ogah-ogahan. Pasalnya, hanya Jaya, Pandu, dan juga Bian yang punya jadwal pagi. Catur dan Janu tidak memiliki jadwal. Sedangkan, Nayaka dan Renjana memiliki jadwal siang. Sambil memutar musik dangdut yang dipilih oleh Pandu, mereka pun menikmati perjalanan. Meskipun sebenarnya, jiwa mereka masih berada di dalam kamar masing-masing.
"Kalani hari ini punya jadwal nggak, ya?" Tanya Bian sambil menatap keluar jendela.
"Lo nanya kita?" Jaya yang duduk di depan di samping Pandu berbalik tanya.
"Nanya setan!"
"Ini nih. Manusia yang rada-rada tuh begini, nih!"
"Serius! Kalani punya jadwal nggak, sih?" Tanya Bian lagi. Kali ini, dengan wajah yang sedikit kesal.
"Yang lagi pedekate sama dia kan elu, Nyet! Ngapain nanya kita?" Pandu jengah dengan kebodohan Bian.
"Gue lupa nanya."
"Goblok!" Seru Jaya.
"Ndu, temen lo nih, Ndu! Nggak sanggup gue temenan sama ini orang!" Pandu langsung tertawa mendengar pernyataan Jaya.
"Gue bikinin sarapan padahal." Cicit Bian pelan.
"Anjir? Beneran?"
"Kapan gue bercanda sih, Ndu?"
"Udah lo cicipin?" Timbal Jaya. Bian hanya menggeleng.
"Bodohnya udah kelewat batas. Kalo masakan lo rasanya ancur-ancuran, nggak ngerti lagi gue sama pemikiran lo, Bi!" Jaya benar-benar sudah frustasi dengan Bian.
"Gue cobain dulu, deh. Tapi, nanti sendoknya kotor, dong?"
"Bi ... anjir. Ndu, jelasin, Ndu! Pengen gue banting ini manusia satu!"
Pandu tertawa, "Gampang, Bi. Tinggal di cuci lagi. Atau pinjem dulu ke ibu kantin, sih. Toh cuma sendok doang!"
Bian pun mengangguk, lalu membuka kotak bekalnya. Bian melahap satu sendok buatannya. Bian terdiam. Meresapi segala macam bumbu dalam hasil masakannya.
"Gimana, Bi?"
"Asin banget, sialaaaaan!" Bian lalu memuntahkan nasi yang ada di mulutnya.
"Bukannya lo bilang di bantu Vanya? Gue rasa Vanya orangnya pinter banget masak. Sini gue coba!"
Jaya pun membantu mengambil sesendok nasi goreng dari kotak bekal Bian, lalu menyuapi Pandu.
Nasi yang baru saja masuk ke mulut Pandu, langsung menyembur begitu saja mengotori mobilnya.
"Bajingan! Lo masukin garam berapa kilo, sih?"
Pandu langsung mengambil tissue dan mengelap lidahnya. Jaya yang tadinya mau mencicipi pun seketika langsung menyerah.
"Kata si Vanya secukupnya. Gue rasa sesendok makan cukup! Ini gue yang masak. Soalnya, si Vanya lagi mandi tadi."
KAMU SEDANG MEMBACA
LENGKARA ✔
Fanfiction"Bahkan, setelah gue tahu perjuangan gue akan semakin sulit, gue akan tetap memerjuangkan apa yang menurut gue layak untuk diperjuangkan!" -Biantara Kivandra
