42. SETITIK RELA

386 29 3
                                        

SELAMAT MEMBACA ❤️

---------------------

Seribu pelukan pun takkan cukup
Mengobati rinduku padamu

Biarkan alam yang mengaminkan
Kisah kita berdua untuk selamanya


(Raissa Ramadhani - Seribu Pelukan)


●○•♡•○●

"Bi, lo beneran ngerestuin si Vanya sama si Pandu banget? Udah 2 tahun by the way kalo lo lupa." kata Catur sambil terkekeh.

"Kenapa, sih? Heran banget kayaknya." kata Pandu jengah.

Catur tertawa, "Soalnya, gue kesel aja. Kok bukan gue yang dapetin si Vanya."

Jaya yang saat itu tengah menikmati baksonya, seketika langsung berhenti mengunyah, lalu bertatapan bingung dengan Nayaka.

"Maksud lo apa, nyet?" Pandu mulai mendidih.

Jika sudah seperti ini, Bian hanya bisa memijat pelipisnya. "Jangan sampe ini sambel gue lempar ke muka lo satu-satu!" dengusnya.

Catur semakin tertawa. Entah kenapa membuat Pandu naik darah, dan Bian pusing itu menjadi agenda kesukaannya.

"Bercanda doang! Gila kali gue ngehancurin hubungan sahabat gue sendiri. Lagian nih, ya. Si Vanya kalo ketemu gue tuh berasa ketemu musuh bebuyutan. Galak banget buset kakak lo, Bi!" kata Catur sambil bergidik.

"Ya kelakuan lo kayak setan begitu, gimana kakak gue mau betah!" kata Bian ngasal yang membuat kelima sahabatnya tertawa.

"Sama jahatnya lo!" kata Catur seraya kembali memakan mi ayamnya.

"Gue kayaknya bakal jatuh cinta lagi." kata Bian tiba-tiba yang membuat keenam sahabatnya yang sedang bercengkrama, seketika hening.

"Bi? Lo baik-baik aja?" tanya Pandu khawatir. Namun, Bian terkekeh.

"Sejak kapan gue baik-baik aja semenjak orang yang gue sayangi pergi? Tapi, hidup gue masih terus berjalan. Semeronta apapun gue sama Tuhan, Kalani nggak akan pernah kembali lagi ke pelukan gue, kan? Gue udah sadar sama takdir yang gue jalani." tutur Bian.

"Udah lama juga dia pergi. Bohong kalo gue bilang udah lupain dia. Gue nggak pernah lupain dia. Gue cuma ..." kata Bian menggantung, lantas menarik napas dalam. "Cuma berusaha untuk rela." imbuhnya.

Pandu meremat pelan bahu Bian. Di banding sahabatnya yang lain, Pandu adalah saksi dimana kehancuran Bian selama ini. Bagaimana Bian menjalani hari-harinya setelah Kalani pergi, bagaimana Bian seperti orang yang kehilangan jiwanya, dan bagaimana Bian bangkit hingga detik ini.

"Kehilangan Kalani, emang bikin gue hancur. Tapi, nggak boleh bikin gue ikut mati." tuturnya lagi.

Keenam sahabatnya hanya saling berpandangan. Mereka takjub atas ketabahan Bian. Walaupun, mereka semua tahu. Di lubuk hati yang paling dalam, Bian masihlah berdarah-darah.

●○•♡•○●

Menjalani hubungan dengan Vanya, sebenarnya bukan perkara yang mudah untuk Pandu. Bagaimana pun juga, tanggung jawab Pandu untuk menjaga Vanya sangatlah tinggi. Pertama, karena Pandu mencintainya. Dan yang kedua, karena Vanya adalah kembaran dari Biantara. Sahabat terbaiknya.

"Sayang, kita udah dua tahun. Kamu udah ada niatan buat serius, belum?" tanya Pandu pada Vanya.

"Ndu? Kita baru banget lulus kuliah." kata Vanya.

LENGKARA ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang