19. RUMIT

350 42 8
                                        

SELAMAT MEMBACA ❤️
-----------------------

Seperti ada petir yang menyambar hati Kalani. Perasaannya seperti ditenggelamkan kedalam samudera yang tidak berdasar. Kalani mencoba mencerna apa yang Papa katakan. Walaupun, semuanya sudah terdengar dengan sangat jelas.

"Maksud Papa, putus apa?" Tanya Kalani.

"Putus! Papa nggak suka sama Bian!" Tegas Papa Kalani.

Kalani yang merasa terbebani dengan perintah Papanya pun bangkit dari duduknya, "Kalani nggak bercanda kali ini, Pa! Apa alasan Papa tiba-tiba nyuruh Kalani untuk putus dari Bian?"

"BIAN NGGAK BAIK BUAT KAMU, KALANI!"

"LALU APA YANG TERBAIK BUAT KALANI?" Balas Kalani. Kalani sangat tahu jika ia salah karena meneriaki Papanya dengan suara tinggi. Namun, kali ini Kalani benar-benar muak dengan sikap Papanya yang selalu seenaknya.

Papa yang merasa sudah keterlaluan pada Kalani pun lalu melunak, "Bian nggak akan bisa bahagiain kamu, Nak!" Papa Kalani mengelus pipi Kalani. Namun, Kalani tepis.

"Papa bilang, kalau Bian itu bisa menjaga Kalani. Lalu, kenapa sekarang sebaliknya? Apa yang sebenarnya terjadi, Pa? Apa yang Papa sembunyikan dari Kalani? Kenapa tiba-tiba Papa seperti ini, disaat Bian dan keluarganya datang kesini?" Tanya Kalani dengan air mata yang sudah meluncur bebas dari kedua matanya.

"Kenapa Papa tiba-tiba seperti ini, disaat Kalani sudah menaruh separuh dari kebahagiaan Kalani itu ke Bian?" Sambungnya.

"Maafin Papa, Nak."

"Kalani nggak butuh maaf dari Papa. Kalani cuma butuh alasan dan penjelasan, kenapa semuanya berubah secara tiba-tiba?"

"KAMU NGGAK NGERTI PERASAAN PAPA, KALANI!" Bentak Papa yang membuat Kalani terdiam.

Kalani tersenyum tipis, "Sampai kapan Kalani harus tahan dibalik kata yang Papa ucapkan itu? Apa selama ini Papa juga ngerti perasaan Kalani? Apa selama ini, Papa tahu apa yang Kalani mau? Apa selama ini Papa tahu kalau Kalani bahagia atau nggak? Dan sekarang, Kalani harus ngertiin perasaan Papa lagi?"

"Jaga mulut kamu, Kalani!!!"

Satu tamparan mendarat di pipi mulus milik Kalani. Kalani hanya bisa tertawa sambil memegang pipinya yang terasa panas. Ini adalah kali pertama Kalani merasakan tamparan dari tangan seorang Ayah.

"Kalani, Papa-"

"Selamat ya, Pa! Selain udah berhasil nyelingkuhin Mama, Papa juga udah berhasil mencoreng gelar seorang Ayah dimata anak Papa sendiri." Sarkas Kalani. Kalani pun langsung pergi dari rumahnya.

"KALANI!! KALANI!!"

Percuma saja. Kalani sudah berlari begitu jauh dari area perumahan.

-----------------------

Paginya, Bian dan Vanya hanya sarapan berdua. Mama dan Papa pagi-pagi sekali sudah pergi ke pasar.

"Kak, Kalani nggak ada ngehubungin kamu, gitu?" Tanya Bian yang baru saja turun dari lantai dua.

"Nggak ada. Lah kamu pacarnya! Gimana, sih!" Balas Vanya.

"Nggak aktif dari semalam."

"Oh. Palingan selingkuh!"

"Emang anjir lu, Van!"

Kata Bian sambil meninju pelan lengan Vanya.

"Datengin ke rumahnya aja kali, ya?"

"Cie ... ceritanya cowok gentle?" Goda Vanya.

Bian mendelik, "Si Pandu kalo sampe nggak gentle, gue sikat sih."

LENGKARA ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang