43. EVERYTHING IS A CHOICE (END)

832 31 2
                                        

SELAMAT MEMBACA ❤️

---------------------

Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan

(Maudy Ayunda - Kamu dan Kenangan)

●○•♡•○●

Dari banyaknya kesepian, sepi ini adalah yang paling sunyi untuk Bian. Sudah lama sekali, suara lembut milik Kalani tak terdengar lagi ditelinganya. Dan sudah lama sekali, paras indah milik wanitanya itu sudah menghilang dari pandangannya.

Bian duduk di sudut ruangan sebuah kedai kopi. Aroma kopi tercium memanjakan indera penciuman. Sayangnya, Bian tidak memesan kopi. Bian sadar diri dengan kondisi lambungnya. Di depan laptopnya, ditemani dua potong kue, Bian menatap layar laptopnya dengan lekat. Bian tidak tengah mengerjakan sesuatu. Bian hanya melihat-lihat kembali foto dirinya dengan Kalani dulu. Foto yang sengaja ia simpan rapat-rapat di laptopnya, kini baru berani ia buka kembali.

Sesekali, ia tersenyum. Namun, sesekali ia juga merasakan seperti ada hantaman kecil di hatinya. Tawa indah Kalani yang dulu selalu ada dihadapannya, kini hanya bisa ia nikmati kenangannya saja.

"Udah lama kamu pergi, Kal. Tapi, sampai detik ini pun aku masih bisa ngerasain kangen sama kamu," kata Bian pelan.

Pertahanan Bian sebenarnya roboh. Namun, sebisa mungkin ia harus menahannya. Setidaknya, selama masih di tempat umum.

"Aku udah baca novel yang nggak sempat kamu baca, Sayang. Endingnya, mereka nikah. Kamu pasti seneng banget kalau bisa baca itu," batin Bian melanjutkan.

Bian mencoba menarik napas dalam. Menekan dalam-dalam gejolak pedih yang meronta ingin keluar, dan menuntut untuk lekas pulih.

Bian membereskan laptopnya, kemudian beranjak keluar dari kedai kopi itu. Langit terlihat begitu mendung. Rintikan kecil air hujan, perlahan turun. Sebelum masuk ke dalam mobil, Bian sempat memandang nanar ke arah langit yang mulai menghitam.

"Kalani, I'm still loving you ..."

●○•♡•○●

Hidup memang tak pernah terlepas dari berbagai macam pilihan. Setelah berbicara dengan Bian, Vanya merasa jika keputusannya saat ini akan sangat berpengaruh besar untuk hidupnya di masa depan nanti.

Setelah berdiskusi panjang dengan Mama, Papa, dan Bian, Vanya akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri.

"Pandu,"

"Iya, Sayang?"

"Kalau kita jauh, kamu nggak pa-pa?" tanya Vanya, yang membuat Pandu langsung menoleh.

"Vanya? Kamu ..."

"Iya, Ndu. Aku udah mutusin buat ngelanjutin pendidikan aku ke luar negeri. Aku udah diskusi sama Papa, Mama, dan Bian juga. Sekarang, aku bilang ini ke kamu."

Untuk beberapa saat, Pandu terdiam. "Kemana kamu bakal pergi?" tanyanya.

"London," jawab Vanya.

Pandu hanya mengangguk. Namun, tak bisa di pungkiri jika hatinya juga berkecamuk.

"Udah bener-bener positif?" tanya Pandu lagi.

Dengan menghela napas berat, Vanya pun mengangguk, lalu menunduk. "Sorry ..." cicitnya.

Pandu tersenyum kecil, lantas mengusap rambut indah milik Vanya, "Nggak ada yang perlu aku maafin, Sayang. Kalau menurut kamu itu bisa mewujudkan masa depan indah yang kamu bayangkan, pergi!" katanya.

LENGKARA ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang