SELAMAT MEMBACA ❤️
(Direkomendasikan sambil dengerin lagu Agnes Monica - Tanpa Kekasihku)
---------------------
Malam yang semakin larut, juga dingin yang semakin membalut, menjadi teman dalam tangisan Bian malam ini. Sekuat apapun Bian menahan tangisannya, lukanya tidak bisa membohongi hatinya. Malam sebelumnya, Bian masih bisa mendengar suara Kalani, masih bisa mendengar tawanya, dan yang paling Bian sesali adalah Bian masih bisa mendengar kalimat 'aku sayang kamu' dari Kalani. Kalimat ungkapan terakhir, yang sialnya ungkapan itu tak berbalas.
"Kal, maafin aku, Kal..." ucap Bian di sela-sela tangisnya.
"Kamu marah karena aku nggak balas ungkapan sayang kamu? Demi Tuhan, Kal. Aku sayang banget sama kamu. Kenapa kamu pergi dengan cara kayak gini?"
Tangisan Bian terdengar sangat pilu. Kepergian Kalani yang mendadak, membuat dunia yang baru saja Bian bangun, harus runtuh dalam sekejap mata. Impiannya membangun keluarga kecil di masa depan dengan Kalani, selamanya tidak akan pernah terwujud.
●○•♡•○●
Papa Bian datang kembali ke rumah Kalani untuk mengucapkan rasa bela sungkawa atas kepergian Kalani. Anak dari sahabatnya-dulunya sekaligus kekasih dari putranya, Biantara.
"Hendra,"
Papa Kalani yang mendengar namanya dipanggil pun langsung menoleh. Ketika melihat Papa Bian yang datang, Hendra-Papa Kalani pun langsung bangkit, lalu memeluk Papa Bian.
"Turut berduka cita atas perginya Kalani, Hen," ucap Papa Bian.
"Maafkan aku, Adnan. Tolong sampaikan juga maafku pada Bian. Tolong, maafkan aku yang sudah merenggut separuh waktu bahagia dari anakmu, Nan..."
Adnan, yang merupakan Papa Bian pun hanya bisa menepuk pelan punggung Hendra. Hendra menangis tersedu. Kalani adalah satu-satunya dunianya yang tersisa. Dan kini, Kalani pergi. Dunia Hendra lenyap semua.
"Apa ini hukuman dari Tuhan buat aku, Nan? Kau tahu betul bahwa aku adalah lelaki bajingan yang bahkan tidak bisa membahagiakan keluargaku."
"Kau sudah berusaha menebus segalanya, Hen. Kalani juga pasti pergi tanpa penyesalan karena kau sudah berubah," tutur Adnan.
"Duniaku hilang semua, Nan. Aku sendirian, Nan. Kalani, anakku sayang. Dia ternyata lebih memilih untuk pergi, dan bahagia bersama Mama dan Kakaknya. Kalani enggan hidup lebih lama bersamaku, Nan..."
Air mata penyesalan Hendra terus luruh tanpa henti. Kematian Kalani, seolah kematian jiwanya juga. Rasa sakit bertubi-tubi menghantam jiwa Hendra. Banyak sekali hal-hal buruk yang Hendra berikan untuk Kalani semasa hidupnya. Padahal, Kalani hanyalah seorang anak perempuan yang membutuhkan kasih sayang.
"Kalani tidak sejahat itu, Hen. Anakmu berhati malaikat. Berhentilah berpikir jika Kalani pergi seolah-olah itu salahmu! Kalani pergi, karena memang sudah waktunya ia pergi," tutur Adnan.
"Kalani... anak Papa tersayang..."
Hendra semakin mengeratkan pelukannya pada Adnan. Menumpahkan segala rasa sakitnya dalam pelukan Adnan.
●○•♡•○●
Masih dengan lukanya, Bian menangis sendirian di kamarnya. Sesekali, Vanya yang khawatir mengetuk pintu kamar Bian. Namun, Bian enggan membiarkan siapapun mengganggunya-setidaknya, untuk saat ini.
Bian memeluk lututnya. Menangis hebat tanpa suara, adalah hal tersakit yang pernah Bian rasakan selama hidupnya. Selama ini, Bian selalu hidup dalam lingkungan dan keluarga yang penuh cinta. Hingga Kalani masuk ke dalam hidupnya, dan membuka kebahagiaan baru.
Meski kisah mereka sempat terpisah, namun karena perasaan yang masih terikat satu sama lain menuntun mereka untuk kembali bersama. Hingga pada akhirnya, pepisahan paling menyakitkan menghantam kisah mereka.
Perpisahan karena kematian.
"Bian, kalau kamu pergi, aku gimana, ya?" tanya Kalani sambil mengusap rambut Bian yang tengah berbaring di pahanya.
"Kamu pasti bakal nangis, sih," ledek Bian.
Kalani mendengus sebal. "Kamu kepedean! Aku nyari lagi lah."
"Yakin emang kalau cowok lain lebih baik dari aku?" tanya Bian.
Kalani mengerucutkan bibirnya. "Nggak, sih."
Bian yang mendengar jawaban kekasihnya itu pun lantas tergelak.
"Lagian kamu nanya aneh-aneh. Aku mau pergi kemana, emang? Kan rumah aku disini," tutur Bian.
"Tapi, ini rumah aku?"
Bian yang merasa gemas pun mencubit hidung Kalani. "Rumah aku itu kamu, bodoh!"
"Berarti hati kamu juga rumah aku, dong?" tanya Kalani polos.
Bian yang gemas pun lantas bangun, lalu menangkup pipi Kalani. "Nggak cuma hati aku. Aku itu rumah kamu. Jadi, kamu nggak boleh ninggalin rumah kamu. Kalau pun kamu pergi, jangan lupa untuk pulang! Ngerti?"
Kalani hanya bisa mengangguk sambil mengerjap-ngerjapkan matanya ketika Bian mengecup bibirnya sekilas.
"Gemes banget, sih! Udah boleh aku nikahin, belom?" ucap Bian.
"Kita masih kuliah?"
"Ayok lulus tepat waktu, Sayang! Aku bakal kerja keras buat nikahin kamu!" kata Bian serius.
Kalani mengangguk, seraya mengelus pipi Bian. "Aku kok bisa ya beruntung punya kamu?"
"Iya, nggak ada lagi yang seganteng aku soalnya." ujar Bian dengan pedenya.
Kalani tersenyum, lalu mencium kening Bian. "Iya. Pokoknya, aku mau sama kamu. Kita berjuang sama-sama, ya?"
Bian hanya mengangguk, lalu memeluk kekasihnya itu.
Sekelebatan ingatan tentang Kalani, seolah berlomba-lomba menghampiri Bian. Membuat rasa sakit di dadanya, juga seolah akan membawanya mati juga.
"Sayang, tolong pulang..." lirih Bian.
"Katanya mau sama aku? Katanya mau menua sama aku?"
"Kalani, aku sayang kamu, Kal..."
"Kal, jangan hukum aku kayak gini, Kal. Kenapa kamu harus pergi disaat aku juga pergi? Sekarang, aku udah kembali. Tapi, kenapa kamu nggak kembali lagi?"
Tidak ada yang bisa Bian lakukan di malam pertama setelah kepergian Kalani. Suara Kalani, kini selamanya akan hilang. Tawanya, kini tak bisa lagi terlihat. Dan raganya, selamanya tak akan pernah bisa lagi Bian dekap.
"Kalani..."
Kematian Kalani, adalah pukulan paling hebat bagi Bian.
Kalani, adalah wanita ketiga yang Bian cintai sepenuh hatinya setelah Mama, dan kembarannya, Vanya.
Kini, Kalani, kekasihnya sudah pergi.
Kini, Kalani selamanya tak akan pernah kembali lagi.
-
-
-
bersambung...
tak semua cinta pertama, akan berakhir bahagia
cara kerja dunia memang tak akan bisa diterka
pada akhirnya, Biantara harus merelakan cinta pertamanya, menjadi dukanya selamanya
Love, Grace ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
LENGKARA ✔
Fanfiction"Bahkan, setelah gue tahu perjuangan gue akan semakin sulit, gue akan tetap memerjuangkan apa yang menurut gue layak untuk diperjuangkan!" -Biantara Kivandra
