SELAMAT MEMBACA ❤️
---------------------
Rasa kecewa yang mendalam, mampu meruntuhkan seluruh perasaan. Kalani hanya bisa menangis di pelukan Bu Yanti, wanita paruh baya berusia hampir 60 tahun yang selama ini membantu mengurus Kalani, dan kakaknya ketika sang Ibu tengah bekerja. Sejak kecil, Kalani tidak mendapatkan figur seorang ayah yang seharusnya menjadi cinta pertamanya. Ayahnya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan, kepergian Nadia pun sama sekali tidak ayahnya tangisi. Kalani semakin membenci ayahnya.
Namun, setelah kepergian sang Ibu, ayahnya mulai melunak. Kalani pun mulai bisa menerima kembali ayahnya. Sebelum pada akhirnya, ayahnya kembali menghancurkan salah satu kebahagiaan yang ia punya.
"Kok Papa jahat banget sama aku ya, Bu?" Adu Kalani.
"Mungkin Papa lagi emosi." Bu Yanti dengan penuh kasih sayang mengelus rambut Kalani.
"Dari kecil pun Papa nggak pernah sayang sama Kalani."
Hati Bu Yanti begitu teriris mendengarnya. Bu Yanti tahu betul bagaimana kehidupan Kalani. Semenjak ditinggal meninggal oleh suaminya, dan anak-anaknya pergi merantau, Bu Yanti seperti memiliki keluarga lagi ketika mengenal Ibu Kalani. Namun, kini tinggalah Kalani yang tersisa. Ibu dan kakaknya sudah tiada.
"Kalani mau tinggal disini sama Ibu."
"Papa gimana nanti, Nak?"
"Kenapa Kalani harus mikirin Papa disaat Papa aja nggak mikirin Kalani?" Balas Kalani sambil terisak.
Bu Yanti pun tak henti-hentinya mengelus rambut Kalani, "Tinggalah disini selama yang kamu mau."
----------------------
Perasaan Bian seperti tengah berada di tengah-tengah jembatan yang sudah rapuh. Untuk mundur, ataupun terus berjalan, rasanya sulit. Sama-sama akan terjatuh, dan membuat sakit. Sudah hampir tiga hari, Kalani masih tidak bisa juga dihubungi. Berkali-kali juga Bian datang ke rumah Kalani. Namun, selalu kosong.
"Si Jaya galau karena lagi-lagi di jodohin sama eyangnya. Ini lagi datang-datang pake muka kusut. Kenapa sih, lu?" Tanya Renjana.
"Hubungan gue sama Kalani antara lanjut dan putus."
"ANJIR? PERASAAN BARU KEMAREN PERTEMUAN DUA KELUARGA?!" Kata Nayaka tiba-tiba.
"Bokap gue ternyata musuh bebuyutannya bokap si Kalani." Kata Bian sambil terkekeh.
"Bentar, bentar! Ini gimana ceritanya bisa sampe begini? Otak gue belum bisa memproses." Kata Janu.
Dengan sisa-sisa kerapuhan yang ada, Bian pun menceritakan semuanya. Bian tidak tahu lagi jalan mana yang harus Bian tempuh. Disatu sisi, Bian teramat sangat mencintai Kalani. Namun, disisi lain, Bian juga belum punya apa-apa yang bisa dijanjikan untuk kehidupan Kalani.
"Gue kayaknya nggak bisa lama-lama disini. Gue balik, ya?"
"Lo yakin nggak mau lebih lama disini? Kita emang nggak bisa ngehibur lo. Tapi, seenggaknya lo nggak sendirian." Kata Catur.
"Gue lagi pengen sendirian."
Bian pun benar-benar langsung pulang.
---------------------
"Pandu? Kamu kesini kok nggak bilang?" Kata Vanya yang membukakan pintu rumahnya.
"Ada Bian, Sayang?" Tanya Pandu sambil mengusak pelan rambut Vanya.
"Dikamarnya."
"Aku ketemu Bian dulu, boleh?"
Vanya mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
LENGKARA ✔
Fan-Fiction"Bahkan, setelah gue tahu perjuangan gue akan semakin sulit, gue akan tetap memerjuangkan apa yang menurut gue layak untuk diperjuangkan!" -Biantara Kivandra
