Berulang kali Janggan celingukan mencari Gale, tetapi sepertinya masih sibuk bersama tamu di depan. Pemuda itu memutuskan merebahkan diri di sofa nyaman ruang santai rumah keluarga Gale setelah meletakkan sebuah goodie bag berisi cromboloni pesanan Gati. Jujur saja, arsitektur rumah ini dengan perabot di dalamnya menurut Janggan sangat bertolak belakang, unsur klasik sama sekali tak tercermin dari isi perabotannya yang sudah amat modern.
Membunuh bosan, ia memilih mengutak-atik ponsel pintar, memeriksa beberapa pesan yang masuk. Sejak tadi benda itu bergetar tiada henti, memenuhi bilah notifikasi dengan percakapan grup kelas yang tengah membahas tugas Mata Kuliah Pancasila. Rata-rata keributan yang dibuat sama, mengenai pembagian kelompok. Tangannya sibuk menggulir laman percakapan grup, membaca cermat sebelum berdecak sampai beberapa kali saat menemukan namanya disebut.
"Gene, Ja?" Gale urung menggeplak kaki Janggan seperti biasa mendapati tampang suntuk pemuda itu. Tangannya malah membuka goodie bag, mengintip isinya. (Kenapa, Ja?)
"Jangan dibuka sek, Mas. Ntar aku yang diambekin Gati," protesnya seraya bangkit, duduk bersandar.
Tawa tak bisa ditahan Gale, tentu saja ia tahu adiknya begitu sensitif perkara makanan miliknya. Namun tak urung, langsung dilepaskannya tangan dari benda tersebut.
"Kenapa kamu kesel gitu? Gara-gara cromboloni?" ulang Gale.
Satu tarikan napas panjang menjadi respons alami Janggan sebelum mengembuskannya. Sorot lelah menghias iris cokelat gelap dengan bulu mata lentik miliknya, menambah kesan suram pada wajah berahang tegasnya. "Itu salah satunya, tapi iki gara-gara tugas, Mas. Masa' dari awal semester aku selalu dijadiin rebutan buat jadi partner kelompok?"
Bantal sofa langsung melayang dan mendarat tepat di wajah Janggan. Menyingkirkan benda berisi busa tersebut, Janggan langsung meringis lebar.
"Sok ganteng kamu, Ja," cemooh Gale.
"Emang Janggan ganteng sih, Mas," sambung Gati yang baru menjatuhkan tubuh di samping Janggan. Tak sabar dibukanya goodie bag di atas meja. Tahu apa isinya, gadis itu langsung semringah, meskipun sejak memasuki ruangan itu Gati sudah menebaknya.
Ditubrukannya bahu kanan Janggan pada bahu kiri Gati, membuat posisi duduk gadis itu oleng hingga hampir tersungkur. "Halah, kamu muji kalau ada maunya doang."
"Biarin," balas Gati tak acuh, tak mempermasalahkan tindakan Janggan sebelumnya.
Tak peduli sekitar, Gati langsung makan salah satu jenis roti itu dengan khidmat, tak mau repot-repot menawari keduanya.
"Ini tuh bukan perkara tampang, Mas. Mereka kayak ketergantungan sama aku, ya salah aku juga sih, pas awal-awal terlalu rajin. Tugas kelompok kukerjain sendiri, presentasi 80 persen aku yang handle, jawab-jawab pertanyaan menjebak aku juga yang trabas. Mereka jadi keenakan." Janggan menjelaskan setelahnya dengan menggebu. "Lagian, materi kali ini aku belum terlalu paham."
"Matkul apa?" tanya Gale.
"Pancasila, bahas-bahas etika gitu."
"Materiku juga sampe situ, padahal perasaan itu udah di semester satu deh, tapi tugasku individu, sih," timpal Gati, "dan emang belum paham juga, makanya belum kukerjain. Mas Gale mau bantu, kan?" Mata Gati memicing, setengah melempar ancaman.
"Dosen kita emang sama, Gati." Janggan memutar bola mata malas.
"Aku mana inget sama materi semester satu. Minta ajarin Dree coba, ingatan dia bagus."
"Mbak Dree yang itu?" Janggan kembali mengubah posisi duduk, menjadi bersila di atas sofa.
"Emang ada yang lain?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Re-Define
Ficción GeneralDefinismu tentang banyak hal adalah subjektif, lebih sering persuasif, pun tak jarang manipulatif. Inginmu semua orang percaya, cara apa pun kauraba, termasuk lewat amarah juga memutarbalik fakta. Benar yang saling berbentur tak membuatmu kalah dala...
