44. Keputusan

93 17 9
                                        

Gati sungguh tak kembali ke kos yang ia tempati, memilih menginap di tempat Dree. Toh sudah terlanjur petang begitu sesi curhatnya usai, tak mungkin ia kembali dengan bus trans. Bagi Gati yang terbilang baru keluar kandang, masih cukup mengerikan.

"Mbak Dree beneran nggak ada jadwal kelas abis ini?" tanya Gati begitu si empu kamar masuk usai Zuhur.

Dree menggeleng. "Kelasku cuma sampai setengah dua belas. Jadi ini sudah free."

Gati menggigit bibir, dalam kepalanya menyusun pertimbangan akan mengutarakan hal yang sejak tadi dipendam atau tidak. 

"Mbak, mau temenin aku, nggak?" tanya Gati pada akhirnya.

Satu alis Dree terangkat, gerakan tangannya yang baru hendak melepas jilbab terhenti: urung. "Ke mana?"

Gati lebih dulu melirik penampilannya. Ia mengenakan rok pliskit putih dengan pola bunga hitam kecil-kecil, sedang sebagai atasan adalah kaos lengan pendek berwarna hitam, hasil dipinjami Dree. "Aku mau ambil beberapa baju lagi dari rumah."

"Oke, tapi aku salat dulu, ya?" Dree mengangguk.

Senyum mengembang di bibir pucat Gati.

Dree melanjutkan kegiatan melepas jilbab yang sempat tertunda, bersiap mengambil air wudu. Sampai di ambang pintu kamar, ia menoleh. "Kamu udah salat?"

"Udah tadi, Mbak."

"Oke."

Usai melaksanakan ibadah Zuhur ditambah wirid untuk beberapa waktu, Dree langsung bersiap. Kebetulan waktu sudah menunjukkan pukul 13.30. 

"Mau naik apa ke sana? Trans apa pesen taksi online?" Dree bertanya sambil memakai sepatu kets putihnya.

Gati yang sudah berdiri di samping tiang teras kos tampak berpikir. "Kayaknya trans aja, Mbak. Lebih terjangkau."

Begitu berdiri, Dree mengangguk. "Ayo."

Keduanya berjalan menyusuri jalanan gang menuju jalan utama. Jika dipikirkan, Gati masih heran kenapa ia bisa sedekat ini dengan Dree yang notabene adalah seniornya di kampus. Tentu saja berkat Gale. Namun tetap saja, rasanya memang perempuan di sampingnya ini memiliki frekuensi yang sama dengannya.

"Mas Gale nggak ada tanya-tanya tentang aku kan, Mbak?" Gati memindah goodie bag yang tadinya di tangan kiri ke tangan kanan. Isinya adalah bajunya yang kotor. Sedang di tubuhnya kini, melekat pula cardigan rajut milik Dree.

"Nah, ini yang mau aku kasih tahu ke kamu tadi, tapi lupa. Untung kamu ingetin. Dia nggak nanya sih, Gat. Bahkan nggak kelihatan khawatir atau semacamnya. Malah, habis kelas tadi tiba-tiba masmu nyeletuk kalau dia lagi nunggu kejutan dari kamu dengan muka happy."

"Kejutan?" Gati tak bisa menyembunyikan raut bingungnya. 

Dree mengangguk. "Aku sempet tanya kejutan apa, tapi jawabannya juga nggak jelas. Gale cuma bilang, 'Aku nunggu Gati merealisasikan rencana besarnya.'."

Kerutan di dahi Gati semakin dalam. Sambil terus berjalan, ia masih memikirkan apa yang kiranya dimaksud oleh sang kakak. 

Sampai di ujung gang, sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyeberang, Gati berujar, "Kayaknya Mas Gale bahas hal yang sama kayak usulan Mbak Dree kemarin. Soalnya aku emang pernah ngomongin niatan aku itu ke dia dulu. Mungkin Mas Gale inget."

"Nggak salah lagi," balas Dree yakin dengan senyum lebar tersungging di bibir. "Pasti itu maksud dia. Bagus dong, Gat? Kamu punya pendukung tambahan."

Mereka menyeberang kemudian dan langsung menuju halte serta duduk sambil menunggu bus datang. 

Re-DefineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang