Baru sampai di sana, Gale dibuat terkejut karena Dree tak sendirian, asyik mengobrol dengan seorang perempuan lain. Ia pikir gadis itu setidaknya akan menunggunya sambil membaca buku atau melakukan sesuatu di atas papan tik laptop. Siapa sangka, ini di luar perkiraan.
"Oh, kamu sudah sampai," ucap Dree begitu menyadari kehadiran Gale.
Sambil mengangguk, Gale menarik kursi kosong dan duduk di sana, di sisi lain dua perempuan itu.
"Sorry ya, aku jadi ganggu acara kalian," celetuk perempuan satunya, menatap Gale dengan senyum lebar.
Gale menggeleng, tanda tidak ada masalah dengan itu. Yang membuatnya heran, ia tak mengenal perempuan tersebut. Padahal, ia mengenal hampir semua teman Dree. Barangkali yang satu ini adalah teman kos.
"Gale, kan?" tanya perempuan itu.
"Loh, Mbak kenal saya?" Alis Gale tertaut.
Perempuan itu mengangguk dan mengulurkan tangan. "Santai aja. Aku temen kosnya Dree, Chizalum."
Mau tak mau, Gale membalas uluran tangan tersebut, matanya tak henti melirik Dree, meminta penjelasan lebih.
"Mbak Chiza tahu kamu karena beberapa kali lihat kamu anter aku, jadi sekalian kuceritain, deh. Dia juga sering lihat kamu nongkrong sama anak-anak UIN di sekitar sana, Mbak Chiza ini dosen di sana btw, Gal."
Gale terbelalak. "Oh, sorry, Mbak."
Meski begitu, raut wajah Gale jauh lebih santai sekarang.
"Aku yang harusnya bilang sorry, malah gangguin acara weekend kalian. Maklum, lagi penat sama kerjaan, jadi aku rasa keluar sesekali saat akhir pekan bukan ide yang buruk," jawab, Chiza, "nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa, Mbak. Malah bagus, Dree jadi nggak bosen kelamaan nunggu aku," ungkap Gale jujur, "kalau boleh tahu, ngobrolin apa tadi? Kayaknya seru banget."
Sebelum membalas, Chiza menoleh ke arah Dree seraya terkekeh kecil. "Waktu itu Gati, sekarang kebagian ngobrol sejarah sama abangnya."
"Loh, udah pernah ketemu adikku, Mbak?"
"Waktu Gati nginep di kosku, Gal." Dree menggeser pesanan Gale yang baru saja diantar, mendekatkannya pada si empu yang duduk sedikit di ujung.
"Emang ngobrolin apa? Tadi aku nggak sengaja denger dikit masalah harta-harta rampasan gitu." Tangannya sibuk mengaduk lemon tea sebelum meminumnya satu tegukan. Gale lantas fokus pada keduanya, menatap Chiza dan Dree bergiliran.
Dengan senyum lebar di bibir, mantap Dree menjawab, "Sejarah Penaklukkan Konstantinopel."
"Kayak yang waktu itu kita omongin?" Satu alis Gale terangkat. "Jadi selama ini kamu emang suka bahas ini sama Mbak Chiza?"
Dree mengangguk.
"Intinya gini, sepanjang pergolakan yang terjadi, pada faktanya nggak semua pasukan Utsmani itu berjuang dan rela mengorbankan nyawa demi cinta pada Tuhan. Banyak dari mereka yang bahkan dipaksa untuk masuk Islam. Mungkin kalian pernah dengar juga, dalam periode waktu yang berbeda pun, banyak anak-anak Kristen yang sengaja diambil paksa dari keluarganya untuk masuk Islam dan dijadikan Pasukan Janisari."
Gale tak menginterupsi, ikut tenggelam dalam penjelasan Chiza, meski tidak tahu dari mana perempuan itu memulai tadi.
"Maksud Mbak Chiza, mereka mau ikut pasukan Utsmani karena iming-iming harta rampasan yang akan didapat?"
Chiza mengangguk.
Tak bisa dielak, Mehmet pernah mengumpulkan para pejabat militer untuk melakukan rapat, tepatnya Minggu, 27 Mei 1453. Dalam pertemuan tersebut, semua panglima perang hadir, mendengar titah yang disampaikannya, pun gambaran betapa besar harta rampasan perang yang bisa mereka dapatkan ketika berhasil menaklukkan Konstantinopel: tumpukan emas dan rumah-rumah, sesembahan dan relik-relik di gereja, perempuan cantik dan bocah-bocah bangsawan yang dapat ditawan, dinikahi, atau dijadikan budak. (Roger Crowley, 1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim: 245)
KAMU SEDANG MEMBACA
Re-Define
Fiksi UmumDefinismu tentang banyak hal adalah subjektif, lebih sering persuasif, pun tak jarang manipulatif. Inginmu semua orang percaya, cara apa pun kauraba, termasuk lewat amarah juga memutarbalik fakta. Benar yang saling berbentur tak membuatmu kalah dala...
