"Gati, bangun! Bantu Ibuk sama Mbok bersih-bersih rumah." Kepala seorang wanita melongok dari balik pintu kamar, menyorot lekat gadis yang masih bergelung di balik selimut tebalnya.
Gati mengerjap lemah, memandang sang ibu penuh permohonan. "Gati nggak enak badan, Buk."
Tak ada yang berbohong, usai salat Subuh tadi, kepala Gati amat pusing hingga membuatnya kembali merebahkan diri. Padahal biasanya, ia langsung ikut berkutat di dapur bersama ibu juga asisten rumah tangga mereka. Selain itu, ia yakin asam lambungnya naik setelah seharian kemarin hanya makan sekali, ditambah hujan-hujan saat pulang sekolah.
Bukannya iba, yang Gati dapat justru pelototan tajam sang ibu. "Jangan manja kamu, paling cuma meriang karena mau pilek. Ayo ndang tangi, keburu Romo sama Mas-mu sarapan, eh kamu masih asik tiduran. Anak cewek ndak boleh males."
Ingin rasanya Gati mendesah keras-keras, ayolah ... saat seperti ini masih saja ia diminta mengutamakan yang lain. Tubuhnya sungguh butuh istirahat. Alhasil, mau tak mau Gati memaksakan bangkit, memberesi kamar seadanya sebelum menyusul ibunya yang sudah lebih dulu berlalu.
Mengerjakan banyak hal setengah terpaksa sebab pusing semakin mendera, Gati tak mengeluh. Tak ada gunanya, toh sang ibu tak akan peduli.
"Mbok, aku udah potong-potong sayurnya, ada lagi yang bisa dibantu?" tanyanya lemah.
"Sudah, tho, Mbak Gati istirahat saja. Itu mukanya sudah pucat sekali." Sarmi tak bisa menyembunyikan kekhawatiran. "Biar Mbok yang selesaikan pekerjaan lain."
Gati menggeleng lemah. "Nggak apa-apa, lagian nanti kalau aku istirahat malah dimarahin Ibuk, Mbok."
Merasa tak akan mendapat tugas lain di dapur, Gati sengaja beralih ke ruang keluarga meski mendapat protes dari Sarmi. Dibereskannya beberapa buku yang masih tergeletak sembarang di atas meja, disimpan ke tempat seharusnya. Ia juga membuang isi asbak ke dalam tong sampah di sudut ruang, sebelum mengosongkannya ke tempat pembuangan di samping rumah untuk kemudian diambil petugas kebersihan yang berkeliling.
Tidak berhenti di sana, Gati juga masih sempat menyapu pendopo yang luas sebelum tiba waktu sarapan bersama. Sudah menjadi kewajiban bahwa semua anggota keluarga harus berada di meja makan saat waktunya tiba. Tak boleh ada yang makan di ruang lain atau makan sendiri-sendiri, kecuali dalam situasi tertentu. Seperti Gati kemarin contohnya, dia melewatkan sarapan karena harus berangkat sekolah lebih pagi sebab menjadi panitia kegiatan, lalu pulang saat waktu sudah petang. Sampai rumah ia langsung bersih-bersih dan tidur.
Keluarga Gati bisa dibilang keluarga yang disiplin, semuanya serba teratur. Atau mungkin, hanya Gati yang merasakannya. Ia harus bangun sebelum subuh. Berbeda dengan dua kakaknya yang boleh bersantai setelah ibadah, ia harus membantu mengurus rumah. Keberadaan Mbok Sarmi sama sekali bukan alasan untuk dirinya berdiam.
Siang menjelang, jika sedang libur sekolah, Gati harus memasak dan ini mutlak menjadi tugas Gati. Katanya, berlatih sebelum menjadi istri, tak mengejutkan jika rasa masakannya bisa diandalkan, ia terbiasa dari kecil. Sore harinya, ia harus berusaha keras berlatih tari untuk memenuhi target yang Rukmi beri. Jika tidak, jangan harap ada waktu bersantai keesokan harinya.
Hari-hari tertentu, tiap sore, akan ada orang berbeda yang datang ke rumah untuk mengajari Gati banyak hal: Senin untuk membatik; Rabu untuk etiket; dan Jumat, Sabtu, Ahad untuk menari. Kadang juga Gati harus belajar menjahit di sela hari-hari itu. Mulai masuk SMA, Gati baru bisa sedikit bernapas lega karena hanya perlu belajar menari, tentu kesibukannya beralih pada kegiatan di sekolah.
Namun tetap saja, Rukmi selalu punya banyak jadwal untuk dikerjakan oleh sang putri. Sedang untuk kedua putranya ... mereka lebih dibebaskan dengan alasan karena nanti akan menjadi suami yang tugasnya mencari nafkah tanpa perlu repot memikirkan urusan rumah. Menggelikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Re-Define
Fiksyen UmumDefinismu tentang banyak hal adalah subjektif, lebih sering persuasif, pun tak jarang manipulatif. Inginmu semua orang percaya, cara apa pun kauraba, termasuk lewat amarah juga memutarbalik fakta. Benar yang saling berbentur tak membuatmu kalah dala...
