"Arep langsung balik, Bro?" Masih menenteng sebuah helm, lelaki berambut jabrik itu menghampiri Janggan yang berdiri di samping motor trailnya.
Sebab lelah, si target tanya menyandarkan tubuh pada motor, menyugar rambut ke belakang. "Iyo, Dan. Wis janji karo Mas Gale, arep mabar." (Sudah janji sama Mas Gale, mau mabar)
Mata lelaki bernama Danu itu langsung berbinar, semringah seketika, pun langsung cengengesan. "Titip salam kanggo Gati yo, mengko mesthi ketemu tho? Bilang sama dia, dapat salam dari calon bojo, gitu." (Titip salam buat Gati ya, nanti pasti ketemu, kan?)
Janggan langsung memutar bola mata malas, selalu saja begitu. Teman-teman pemuda itu rata-rata memang mengenal Gati dan Gale. Pasalnya, kakak beradik tersebut sering ikut ke sirkuit, entah untuk melihat Janggan berlatih atau bahkan menontonnya berkompetisi. Jangankan yang di Jogja, Gati malah sering ikut mengekor Janggan ke luar kota.
Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa Danu tergila-gila dengan Gati gara-gara saat pertama kali bertemu, ia mendapat semprot gadis itu karena tak sengaja menumpahkan minuman di atas bukunya. Aneh memang, tetapi begitulah ketertarikan bermula.
"Gati yang nggak mau sama kamu," ujar Janggan.
"Halah, bilang aja kamu yang nggak mau nyampaiin salamku, takut kalah saing, tho?" Danu sengaja mendongakkan kepala, menantang Janggan.
Decakan lolos dari bibir Janggan. "Kalah saing opo? Gati itu temenku, jelas aku nggak ikhlas kalau dia sama garangan macam kamu."
"Asu tenan bocah iki!" Umpatan Danu tentu berpengaruh apa pun, selain karena diucapkan dengan kekehan keras, Danu juga sudah biasa seperti itu, Janggan sudah hafal. Toh, ditambah sering menghadapi Gati yang juga suka mengumpat membuat Janggan tak kaget lagi.
"Pokoknya salam buat Gati, awas aja nggak kamu sampaiin ke dia." Danu masih terbahak sambil berlalu meninggalkan Janggan, membuat pemuda itu menggelengkan kepala tak habis pikir.
"Sekalipun Gati mau sama kamu, paling baru ketemu ibu sama romo-nya udah buat kamu ciut duluan." Janggan ikut tertawa sebelum menaiki motornya dan melesat meninggalkan Sirkuit Forlantas Yogyakarta itu.
Sampai di rumahnya yang berada tepat di samping rumah keluarga Gati, Janggan dibuat menautkan alis saat memeriksa ponselnya yang berdering. Nama Gale tertera di sana.
"Halo, assalamu'alaikum. Ada apa, Mas?" sapa Janggan begitu mengangkat panggilan.
Jawaban salam terdengar dari seberang.
"Iya jadi, lah. Ini aku baru sampai di rumah tapi, habis Isya' pas aku langsung ke sana."
"Kowe rene jam delapanan aja Ja, ada tamunya Romo di rumah. Ini aku sama Gati lagi pusing mikirin cara buat kabur, soalnya nanti masih disuruh gabung. Pokoknya ke sini jam delapan, lewat pintu samping aja."
"Oke, jadi bisa rebahan dulu aku."
"Jangan sampe ketiduran juga, Ja. Diseret Gati kowe mengko."
Mata Janggan memicing. "Lah kok jadi Gati?"
"Ojo ngomong nek kowe lali pesenane Gati, Ja. Perang dunia ketiga tenan." Saking kerasnya Gale membalas, Janggan sampai harus menjauhkan ponsel dari telinga. (Jangan bilang kalau kamu lupa pesanannya Gati, Ja. Perang dunia ketiga beneran)
Namun setelah ingat, pelan Janggan mengumpat, "Shit! Cromboloni cokelat!"
"Wes-wes, aku ora melu-melu, Ja. Siap-siap perang dingin sama Gati kalau kamu nggak bawa tuh roti. Mending kamu nyari sekarang."
Di seberang, tepat sebelum menutup panggilan, Gale berderai tawa.
-o0o-
Tanpa kata, Dree duduk di kursi dapur bersama di indekosnya. Dalam balutan celana training dengan kaos pendek berwarna navy, dibiarkannya rambut hitam lurus sepunggungnya terurai. Tentu Dree bebas melakukannya di sana, mengingat itu adalah indekos khusus putri yang ketat dengan peraturan tidak boleh memasukkan teman lelaki, kecuali menerimanya sebagai tamu di teras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Re-Define
Fiksi UmumDefinismu tentang banyak hal adalah subjektif, lebih sering persuasif, pun tak jarang manipulatif. Inginmu semua orang percaya, cara apa pun kauraba, termasuk lewat amarah juga memutarbalik fakta. Benar yang saling berbentur tak membuatmu kalah dala...
