"Kamu benar-benar buat malu keluarga, Diajeng Gati Rukma," tekan Rukmi, tak merasa bersalah sedikit pun.
"Apa, Buk? Buat malu apa lagi?" Air mata Gati sudah berjatuhan, kelewat frustrasi.
Yang lain bungkam. Tadinya Janggan hendak maju, tetapi tangannya langsung dicekal oleh sang ibu.
"Siapa Danu?" tanya Rukmi tanpa tedeng aling-aling. "Ibuk tanya, siapa dia?"
Gati diam, apa yang perlu dibahas dari Danu? Lelaki itu hanya teman Janggan yang kebetulan suka padanya, tentu tidak berkaitan dengan nama baik keluarga. Gati juga tak menanggapi lelaki itu.
Namun Gati salah, keterdiamannya malah membuat Rukmi makin naik darah.
"Ibuk sudah bilang sama kamu, calonmu, itu Ibuk yang menentukan. Kamu malah main-main di belakang Ibuk? Mentang-mentang dia belum datang ke rumah dan nembung, bukan berarti kamu bisa seenaknya berhubungan sama orang lain di luar sana."
Untung saja Rukmi masih sedikit tahu tempat, ia mengecilkan suara meski kalimatnya penuh penekanan.
"Dan sekarang, kamu mau main siapa cepat dia dapat, begitu? Jangan buat Ibuk malu, Gati. Kamu tahu pasti, pantang bagi keluarga kita melarang siapa pun yang ingin datang untuk menyampaikan niat baik. Kamu tahu Ibuk ndak mungkin menolak. Terus apa? Ini rencana kamu biar Ibuk ndak jadi memilihkan calon buat kamu? Diam-diam kamu minta dia datang ke rumah secepat mungkin biar calon pilihan Ibuk keduluan dan ndak punya kesempatan."
Gati sungguh tak mengerti apa maksud ucapan sang ibu.
"Apa maksud Ibuk?" tanya Gati lirih.
Rukmi mendengus. "Masih pura-pura ndak tahu. Laki-laki bernama Danu tadi datengin Ibuk sama Romo, minta izin buat datang ke rumah dengan tujuan kamu. Dia bilang, dia punya hubungan yang baik sama kamu."
Bahu Gati turun seketika. "Dan Ibuk izinin dia datang?"
"Jelas, sudah Ibuk bilang, Ibuk ndak akan bisa menolak niat baik. Itu kan, yang kamu mau? Memojokkan Ibuk, membuat Ibuk ndak punya pilihan lain."
Gati memejamkan mata rapat. Setelah kembali membuka mata, sorot matanya kosong seketika. Dibuangnya pandangan ke lintasan untuk beberapa waktu sambil menggigit bibir bawah, ia tidak bisa berpikir. Sakit di pipi bahkan tak lagi dirasa saking bingungnya.
Tawa miris lantas lolos dari bibir Gati. Ia mendongak untuk beberapa waktu, menahan air mata yang lagi-lagi hendak mendesak keluar. Kemudian, dilihatnya sang Romo dengan tatapan sedih, meminta pertolongan pada lelaki itu pun percuma. Selama ini, rasa cintanya untuk sang istri membuat Wira tak banyak menentang keputusan Rukmi. Satu hal yang tak disukai Gati dari sosok sang romo.
Giliran menatap Gale, Gati juga mendapati tangis di mata lelaki itu. Gati paham, bagaimanapun, Gale tak akan bisa menentang sang ibu meski ingin. Rasa hormat untuk perempuan yang satu itu, tak akan bisa dialihkan oleh apa pun.
Gati juga secara bergiliran menatap Hanasta dan Langgeng, mengucapkan permintaan maaf tanpa suara karena harus melihat drama keluarganya. Beralih pada Runi, Gati memberikan medali milik Janggan padanya. Pada akhirnya tatapan Gati jatuh pada Janggan.
Kakinya melangkah mendekati Janggan. Dengan sepenuhnya sadar, Gati melepas cincin di jari manis. Diraihnya tangan pemuda itu sebelum meletakkan benda berbentuk lingkaran tersebut di atasnya, lantas memaksakan senyum.
Mereka semua terhenyak.
"Masa depan kamu masih panjang, Ja. Bukan aku." Gati langsung berbalik, tak bisa lebih lama menekuri nelangsa yang menggelayut di ujung mata Janggan. Pun tak ada yang bisa dilakukan lelaki itu setelah sukses dibuat membisu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Re-Define
General FictionDefinismu tentang banyak hal adalah subjektif, lebih sering persuasif, pun tak jarang manipulatif. Inginmu semua orang percaya, cara apa pun kauraba, termasuk lewat amarah juga memutarbalik fakta. Benar yang saling berbentur tak membuatmu kalah dala...
