Mulai part ini aku akan mengeluarkan peringatan lagi, jangan baca saat penat, karena bahasannya lumayan.
"Mas mau ajak aku ke mana?" Gati yang duduk di boncengan motor Langgeng melongokkan kepala tertutup helm-nya, hasil pinjam dari Andri. Sedikit menoleh, Gati bisa dengan jelas melihat tampang Langgeng yang tak menunjukkan ekspresi berarti.
Tak seperti biasa yang datang pagi sekali, hari Minggu ini Langgeng datang ke kos sekitar pukul 08.30. Saat tiba, dilihatnya Gati tengah berbincang dengan beberapa anak kos lain di depan pintu kamar, baru selesai bersih-bersih. Gadis itu lumayan cepat beradaptasi dengan mereka.
Lelaki itu sekonyong-konyong memaksa Gati untuk ikut bersamanya, padahal Sabtu kemarin tak mengatakan apa pun.
Setengah kesal sebab belum membersihkan diri, Gati jadi harus buru-buru karena tak mungkin membiarkan Langgeng terlalu lama menunggu. Beginilah kondisinya sekarang. Berpakaian sederhana hasil membeli baju murah dari uang yang dipinjamkan Janggan beberapa hari lalu, serta muka pucat karena tak mungkin membeli alat make up dadakan dengan uang pas-pasan. Setidaknya penampilannya tak terlalu jomplang dari Langgeng.
"Nanti juga tahu. Lo belum makan, kan?" tanya Langgeng dengan suara sedikit dikeraskan.
"Nunggu sponsor," balas Gati sambil cekikikan.
Mendengar jawaban itu, Langgeng langsung mengayunkan kepala, sengaja membenturkan sisi kanan helmnya pada Gati. "Menikmati musibah banget lo kayaknya. Jangan dibiasain becandaan kayak gitu. Konotasinya nggak bagus, apalagi lo cewek."
"Cuma bercanda, Mas," elak Gati.
"Gue ngerti kalau lo cuma bercanda, tapi jangan dibiasain, ntar keterusan. Gimana kalau label negatif kayak gitu malah beneran melekat sama lo? Belajar nggak nyepelein omongan, paham?"
Gati mengangguk. "Iya, paham. Maaf."
"Kalau paham, coba ulangin omongan gue tadi!"
"Ah, Mas kalau mode ngasih bimbingan gini nggak asik," gerutu Gati, yang justru sukses membuat Langgeng tertawa.
"Kita cari makan sekitaran Alkid aja, ya?"
Gati langsung panik. "Kok Alkid? Kenapa harus di sana?"
"Gue bilang sekitaran sana, bukan di Alkid-nya, Gati."
"Tetep aja. Kenapa mesti di sekitaran Alun-Alun Kidul?" Gati masih keukeuh, seketika kepalanya blank.
"Ya karena tujuan gue ngajak lo ada di deket sana. Kenapa? Emang ada yang salah?" tanya Langgeng, sebenarnya ia sudah punya tebakan sendiri, hanya memastikan.
"Minggu-Minggu gini Ibuk sama Romo sering wara-wiri di sana, Mas. Sekalian buat lihat pertunjukan tari di Keraton. Bahaya dong, kalau tiba-tiba ketemu mereka," jelas Gati.
"Ya kalau ketemu orang tua lo, tinggal ajak ngobrol, sekalian lurusin masalah."
Tanpa rasa bersalah Gati menggeplak bahu Langgeng yang tertutup beige denim jacket keluaran merk ternama itu. "Jangan ngawur ya, Mas."
"Berdoa aja semoga lo nggak ketemu mereka nanti." Tahu kepala Gati tak lagi sejajar dengannya, Langgeng menyungging senyum miring.
Gati semakin pasrah saat Langgeng menghentikan motor di tempat yang sangat familiar baginya. Berada di Jalan Wijilan daerah Panembahan, mana mungkin Gati tak mengenal baik Warung Gudeg Yu Djum itu, salah satu cabang warung gudeg langganan kedua orang tuanya.
"Mas emang kayaknya niat jerumusin aku ini, sih," dengus Gati.
Langgeng hanya tertawa seraya meninggalkan gadis itu di parkiran. Toh Gati tak punya pilihan selain menyusulnya masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Re-Define
Ficção GeralDefinismu tentang banyak hal adalah subjektif, lebih sering persuasif, pun tak jarang manipulatif. Inginmu semua orang percaya, cara apa pun kauraba, termasuk lewat amarah juga memutarbalik fakta. Benar yang saling berbentur tak membuatmu kalah dala...
