Hari ini adalah hari dimana pond akan wisuda, setelah empat tahun dengan malas dirinya berkuliah ternyata tak membuat pond telat wisuda. Pond tengah bersiap di aula universitasnya dengan baju toga yang ia kenakan merapihkan toganya sebelum acara dimulai. Kelurga pond datang kok, kedua orang tuanya dan adik perempuanya telah duduk di bagian kursi tamu undangan disebelah kanan dan kiri panggung wisuda sedangkan bagian depan panggung akan diisi wisudawan lalu bagian tribun atas ruangan tersebut dipenuhi mahasiswa lain yang ingin melihat proses wisuda tersebut, termasuk phuwin dan dunk yang dapat meliat semuanya dari atas.
Dunk menatap orang orang yang mulai memenuhi area wisuda dilantai bawah, melihatnya tanpa senyum dirinya ada diatas karena pond dan phuwin tentunya, jika saja joong masih berada disini pasti dunk duduk dibawah dengan daddy dan papanya melihat joong menerima sertifikat sarjananya namun sayang sampai hari ini dirinya tak mendapatkan kabar dari joong sama sekali entah sampai berapa tahun kedepan dirinya bisa bertemu dengan joong.
Proses wisuda akan dimulai pembawa acara bersiap membuka acara tersebut, acara yang sakral bagi orang orang yang berada di ruangan tersebut.
Sementara itu pond tak duduk sendirian selain ratusan teman lainnya yang ikut dalam prosesi wisuda tak jauh dari tempat duduknya juga berada joong yang tengah duduk di ruangan yang sama, iya joong juga melakukan wisudanya tahun ini bersama pond hanya saja hanya pond yang mengetahui keberadaannya disini dan ratusan orang lainnya tak menyadarinya.
Acara wisuda dimulai dengan pembukaan yang dilakukan oleh pembawa acara yang memberitahu rangkaian acara hari ini, satu demi satu rangkaian acara dilewati oleh orang orang di dalam ruangan tersebut, hingga moment dimana setiap wisudawan akan maju keatas panggung untuk menerima penghormatan atas gelar yang diterimanya langsung dari rektorat.
Satu demi satu nama nama wisudawan disebutkan, hingga sampai pada waktunya pond yang mulai beranjak dari tempat duduknya menuju panggung dimana jajaran petinggi kampus berada. Phuwin tengah melihatnya tersenyum bangga pada pond dengan bunga yang sedari tadi ia pegang untuk diberikan pada pond nantinya.
Pond Naravit dengan predikat sangat memuaskan
" senyum mulu phu kaya ke pacar aja " ucap dunk melihat phuwin yang terlihat tak bisa mengontrol perasaannya.
" berisik lo " ucap phuwin singkat sebelum kembali melihat pond.
" lo si gantung ka pond lama, gitu gitu juga banyak yang suka nanti giliran diambil orang nangesss " dunk sepertinya tak ingin berhenti menggoda phuwin membuat phuwin menengok menatapnya cemberut dengan bibir yang ia kerucutkan kedepan.
" lo mahh ga support bangett " ucap phuwin sedikit merengek membuat dunk terkekeh ringan.
" bercanda phu, lagian gw yakin ka pond sukanya sama lo doang "
" tapi kalo lo gantung terus juga dia lama lama capek phu, jadi kalo lo ada rasa sama dia jangan kelamaan digantung kek jemuran kolor tuh orang " ucap dunk kembali terkekeh sambil melihat pond yang baru saja turun dari panggung.
Phuwin menatap pond kembali, apa yang dunk bilang ada benarnya juga jika dirinya terus keras kepala dan berujung kehilangan pond apakah phuwin akan menyesal? Phuwin tak menginginkannya, lalu apakah dirinya perlu terus terang duluan tentag perasaannya. Satu persatu nama wisudawan mulai selesai dipanggil hingga saat mc menyebutkan nama terakhir.
Joong Archen Gaillard dengan predikat sangat memuaskan
Dunk terkejut begitu juga dengan phuwin, keduanya segera menuju pembatas yang membatasi tempatnya duduk dengan ruangan dibawahnya ingin melihat dengan jelas apakah dunk tak salah dengar. Seseorang melangkah diurutan terakhir menuju panggung untuk menerima penghargaannya dapat dunk lihat meski dari jauh namun dunk yakin jika itu joong benar benar joong, orang yang ia rindukan selama dua tahun ini, orang yang telah lama tak ia temui, orang yang pergi tanpa kabar kini kembali membuatnya terkejut joong berada di satu ruangan yang sama sejak pagi tanpa dunk sadari.
Dengan teliti matanya mengikuti arah joong melangkah mulai dari menuju panggung hingga dirinya turun dari panggung membawa ijazah ditangannya untuk kembali ke tempat duduknya, dunk melihat semuanya bahkan saat joong melihat kearahnya melakukan eyecontact dunk dapat melihat dengan jelas jika joong menatapnya, air matanya turun begitu saja rasa rindunya sudah diujung tanduk melihat joong didepannya, joong baik baik saja membuat dirinya tersenyum dengan mata yang masih basah.
Dunk segera lari kebawah menuruni tangga dengan cepat diikuti phuwin di belakangnya, ingin segera menemui joong, memeluk tubuh yang ia rindukan tersebut dunk merindukannya sangat merindukannya. Dunk menunggu pintu besar ruangan tersebut terbuka, menunggu joong keluar dari ruangan besar tersebut, menunggu seseorang yang sangat ia rindukan dengan air mata yang tak bisa ia hendikan, dunk bahagia sangat bahagia dengan adanya joong hari ini.
Saat pintu besar tersebut terbuka, wisudawan dan para tamu undangan mulai keluar ruangan namun sama sekali tak membuat dunk merubah posisinya yang berdiri dilewati banyak orang yang ingin keluar, bahkan dirinya tak lagi mengingat phuwin yang bersamanya, joong hanya joong yang berada di pikirannya. Dunk membiarkan bahunya terus terusan disenggol banyak orang hingga ruangan mulai sepi sampai menampilkan joong yang tengah berjalan keluar ke arahnya membuat air mata dunk semakin tak tertahankan semakin banyak air matanya yang keluar, tak tahan dengan langkah joong dunk membawa kakinya berlari masuk menuju badan tegap joong, badan yang selama ini ia rindukan.
Dunk menabrak badan tegap tersebut dengan keras memeluk joong yang memiliki tubuh yang lebih besar dari dirinya. Memeluk joong seolah olah joong alan meninggalkannya kembali sambil terisak tak berhenti, dengan pelan joong membawa tangannya menuju pundak dunk mengelusnya perlahan mengeratkan pelukan keduanya, membawa bibirnya untuk mengecup puncak kepala dunk yang tengah tenggelam dalam pelukannya.
Joong juga rindu, merindukan tubuh mungil dipelukannya, merindukan lelaki cantik dipelukannya, merindukan pujaan hatinya yang telah lama memgambil alih perasaan dirinya, joong juga rindu dunk sama halnya dengan lelaki manis yang masih memeluk erat dirinya dengan isakan isakan yang masih terdengar jelas, mulai sekarang joong akan memperjuangkan cintanya apapun halangannya joong berjanji pada dirinya sendiri akan memenangkan dunk untuk keduanya, masih mengecupi kepala dunk agar yang lebih muda sedikit tenang.
--
Sementara di jalanan yang sangat padat earth dan mix berada di mobil yang sama dengan perasaan yang bercampur aduk, beberapa jam sebelumnya pihak kampus memberitahu jika joong hari ini mengikuti prosesi wisuda, membuat mix dengan cepat menggeret earth untuk segera ke kampus anaknya tersebut. Perasaan mix sangat bercampur aduk sama halnya dengan dunk rasa rindu, bahagia namun juga kesal dengan tingkah anak sulungnya itu, bagaimana jika berita yang ia dapatkan adalah kematian anaknya bukan kabar bahagia ini. Lain halnya dengan mix, earth justru terlihat santai entah menyembunyikan perasaannya atau justru memang sudah percaya bahwa anak sulungnya akan baik baik saja meski hilang seribu tahun lamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
STEP BROTHER [JoongDunk]
Random" mau kaka gendong? " " kaki adek sakit " lanjutnya. yang ditanya diam masih terduduk disamping trotoar, yang sakit kakinya tapi kenapa hatinya ikut berantakan. " adek berat " jawabnya pelan hampir tak terdengar " kemaren lusa kaka juga gendong...
![STEP BROTHER [JoongDunk]](https://img.wattpad.com/cover/358788527-64-k302437.jpg)