10. Trauma Dunk

10.6K 507 26
                                        

" gimana adik saya dok? "

" dia hanya demam dan terlalu lelah setelah beberapa hari istirahat keadaanya akan semula membaik "

" nanti saya tuliskan resep untuk ditebus di apotek semoga adikmu lekas sembuh tuan muda gaillard " joong hanya menganggukan kepalanya mendengarkan penjelasan dokter.

" oh iya tuan muda apakah adik mu pernah mengalami trauma sebelumnya? "

Joong diam tak tahu bagaimana kisah adik nya dulu tak tahu juga bagaimana dan kenapa papanya mengangkat dunk sebagai anak mereka.

" saya kurang tau dok "

" baiklah tak apa namun yang saya lihat seperti nya adik tuan mengalami trauma akan sesuatu membuat dirinya merasa terancam dan merasa badannya melemah, tuan muda mungkin bisa bicara dengan tuan gaillard terkait adik tuan jika mereka sudah pulang "

" baik dokter jimmy terimakasih "

Joong mengantar dokter jimmy hingga memasuki mobilnya, setelah sang dokter pergi kini joong mengambil kunci motor nya ingin menebus obat di apotek agar adiknya segera mungkin meminum obat, tapi sebelum itu joong sempat berpesan kepada maid di rumah nya untuk memasak bubur untuk dunk.

Setelah kembali dari apotek joong menuju kamar dunk melihat semangkuk bubur yang belum disentuh sama sekali meski dunk kini sudah membuka matanya enggan bangun dari posisi rebahannya.

" duduk dulu yuk adek harus makan "
" maaf ya tadi kaka nebus obat adek dulu di luar "

Tangan joong membantu dunk untuk dapat duduk nyaman di kasurnya bersandar pada ranjang tempat tidurnya.

Joong mengambil mangkuk yang terletak di nakas samping tempat tidur dunk mengaduknya perlahan lalu meniupnya sebelum menyuapkan pada mulut dunk.

" aaaa " dunk menggeleng enggan membuka mulutnya.

" makan dulu ya biar adek cepet sembuuh "
" ayo buka mulutnya aaaaa "

Lagi lagi hanya gelengan yang joong dapat. Kini joong menaruh kembali mangkuk yang ia pegang meraih pipi dunk yang masih cukup hangat dipegang mengelusnya perlahan.

" adek mau apa hmm? " yang tanya diam menatap wajah tampan kaka tirinya.

" tta kutt "

Kini joong memeluk dunk membiarkan dunk dalam pelukannya untuk beberapa saat mengelus surai yang lebih muda agar lebih tenang, setelah dirasa dunk lebih tenang joong kembali melepas pelukannya.

" makan ya " ucap joong sambil mengelus surai yang lebih muda, dunk hanya mengangguk kecil.

Joong menyuapi dunk dalam diam keduanya tak saling bicara hanya joong yg memastikan dunk memakan buburnya dan dunk yang mengunyah makannya dalam diam sesekali menatap sang kakak. 

" pintar sekali adik manis, sekarang minum obat " dunk menggeleng kencang ia tak pernah mau minum obat.

" biar sembuh dek "

" pahit ka dunk tidak mau " ucapnya pelan.

" obatnya manis ini ga pahit, percaya ga sama kaka? " yang ditanya menggeleng.

" lihat " dunk menatap joong melihat kakanya memasukan obat yang seharusnya dunk minum kedalam mulut joong menunggu reaksi joong selanjutnya karna dunk tahu semua obat di dunia itu pahit. 

Joong memajukan wajahnya memegang pipi dunk menempelkan bibirnya pada bibir dunk sedikit menggigit bibir yang lebih muda agar membuka mulutnya kesempatan itu joong pakai untuk memasukan obat yang sebelumnya ia masukan kedalam mulutnya membuat rasa pahitnya berpindah ke lidah dunk, dunk ingin mengeluh karena pahit namun joong justru melumat bibirnya sebelum melepaskan ciuman mereka.

" telen dek " ucap joong setelah melepaskan ciumannya segera mengambil minum yang berada di samping nya ia berikan kepada dunk. 

" tetap pahiittt " kesal dunk justru bertambah pahit karena obat yng sebelumnya masuk ke mulut joong pasti sudah basah oleh liurnya sehingga membuat obatnya mulai luntur.

Yang diprotes hanya senyum.

" ayo tidur adek perlu banyak istirahat, kaka temani " joong membantu dunk untuk kembali rebahan pada kasurnya lalu dirinya menempatkan badanya di sisi dunk, membawa yang lebih muda ke dalam pelukannya.

" ka archen ga pergi kuliah? " tanya dunk dalam pelukan joong enggan untuk mendongak.

" ngga, kaka mau jaga adek aja " dunk diam tak merespon, usapan tangan joong di badan belakangnya membuat ia merasa nyaman.

" ka archen "

" hmmm "

" ini boleh di lepas? " pertanyaan dunk buat kepala joong sedikit menunduk melihat adiknya sedang menarik kecil kaos yang ia kenakan.

" tapi kakak belum mandi dek " padahal dunk juga sama. Dunk diam tak mengomentari kalimat joong. 

" sebentar " joong berbicara sambil membenarkan posisinya untuk duduk melepas kaos yang ia kenakan lalu mengambil posisi semula membiarkan dunk menenggelamkan wajahnya di dada bidang joong.

" ga bau? " dunk menggeleng ia merasa lebih hangat ketika langsung bersentuhan dengan kulit joong, nyaman.

Setelah dirasa dunk sudah lelap dalam tidurnya, joong melepaskan dirinya pada dunk perlahan agar sang adik tak bangun dari tidurnya. 

Joong segera mandi mengganti pakaian nya lalu melalukan sarapan sebelum dunk kembali bangun,  dirinya memang tak berniat pergi ke kampus hari ini. Ditengah acara sarapannya video call dari daddy nya masuk ini pasti papanya yang khawatir dengan anak bungsunya yang sedang sakit.

" jooong " benar saja bukan muka daddy yang ia lihat namun papa nya, joong tak menyauti masih dengan kegiatan sarapannya hanya saja fokusnya kini ke layar ponsel di depannya.

" dunk manaaaa papa mau liat anak papa "

" ini anak papa " ucap joong santai tetap dengan sarapannya.

" JOOONGGG " papanya ini hobi beteriak ternyata.

" mana dunk joong? " itu suara daddy nya.

" lagi tidur dad habis minum obat " ia melihat daddy nya menggangguk.

" dokter jimmy bilang apa? " tanya mix

" kecapean aja pa sama dokter jimmy tanya dunk ada trauma apa, joong juga gatau pa cuma joong rasa dunk juga sedikit merasa ketakutan "

Kedua orang tuanya saling diam joong melihatnya seperti ada yang mereka sembunyikan.

" nanti papa dan daddy cerita kalau sudah di rumah,  joong jaga dunk dulu ya. Papa sama daddy mau ada meeting, byee joong "

" byee daddy "

STEP BROTHER [JoongDunk]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang