Happy reading!
***
Sedari tadi Zevesh dan Edgard tidak henti-hentinya berdecak kesal. Pasalnya pertandingan basket akan dimulai dalam hitungan beberapa menit akan tetapi belum ada kabar atau tanda-tanda kapan Arthur akan datang. Sialnya lagi bukan hanya Arthur, Galen yang dijadikan sebagai pengganti Fabio pun ikut menghilang.
Ponsel keduanya tidak dapat dihubungi. Zevesh sudah mencoba menghubungi Cesha, sebab bisa jadi Arthur masih di rumah, namun sayangnya gadisnya itu juga tidak dapat dihubungi. Zevesh tentunya masih berpikiran positif, gadisnya pasti masih tidur apalagi kemarin gadis itu terlihat belum sembuh total.
Akan tetapi pikiran positifnya itu seketika lenyap kala ponsel kedua orang tua Cesha pun tidak dapat dihubungi. Berbagai macam bentuk pemikiran negatif langsung berputar-putar dalam otaknya.
"Cewek lo nggak akan kemana-mana Zev, tenang aja, lagian udah biasa kan Arthur telat," ujar Edgard mencoba menenangkan.
Tidak, Zevesh tidak bisa tenang. Sejak semalam setelah mengantar gadisnya pulang perasaan Zevesh memang sudah tidak tenang, ditambah sejak dia bangun tidak mendapatkan satu pesan pun dari gadisnya perasaannya semakin kacau. Bagaimana dia bisa mengikuti pertandingan jika perasaan dan pikirannya seberantakan ini?
Tanpa pikir panjang Zevesh menghubungi orang suruhannya untuk memastikan sesuatu, "bagaimana Mark?"
"Rumah nona Cesha sangat sepi tuan. Sepertinya tidak ada orang hanya ada beberapa pelayan dan pengawal. Akan tetapi tuan tenang saja, nona Cesha sepertinya hanya pergi keluar bersama kedua orang tuanya."
"Kau tidak melihatnya membawa koper?"
"Tidak tuan, saya juga sudah mengecek ke beberapa bandara dan tidak ada tanda-tanda nona Cesha memesan tiket."
Zevesh memejamkan matanya, perasaannya sudah sedikit jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Pantau terus dan jangan sampai terkecoh."
"Baik tuan."
"Kata gue juga apa Zev, tenang aja, Cesha nggak akan kemana-mana lagi."
Meskipun sudah mendapat informasi dari Mark, Zevesh belum tenang sepenuhnya. Bukankah Cesha sudah berjanji akan beristirahat total. Lantas sebenarnya kemana gadis itu akan pergi. Memikirkannya membuat Zevesh pusing, pernah ditinggal oleh Cesha membuatnya menjadi terlalu berlebihan. Bisa jadi gadis itu pergi berbelanja bersama kedua orang tuanya kan?
"Yo what's up bro!"
"Anjir! Dari mana aja lo Bi udah seminggu nggak berangkat sekolah?!" Kejut Edgard saat Fabio tiba-tiba datang entah dari mana.
"Sakit gue."
Zevesh menaikkan sudut alisnya, "kenapa nggak ada kabar?"
"Lo liat muka gue," Fabio menunjuk wajahnya yang babak belur. "Gue dipukulin Kakek gue gara-gara kepergok ke club. Gue dikurung dan ponsel gue disita, makanya gue nggak bisa hubungin kalian berdua."
Edgard terkekeh, "rasain! Udah gue bilangin kurang-kurangin ke club nggak lo dengerin. Akhirnya kena damprat Kakek lo juga kan."
"Sialan lo!"
"Bagaimana, sudah dapat kabar dari Arthur dan Galen?"
"Belum coach, mereka berdua belum bisa kami hubungi," jawab Edgard.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUMINESCENCE
Teen FictionZevesh tegaskan gadisnya itu LUMINESCENCE untuknya. Zevesh percaya bahwa poros hidupnya hanya berpusat pada gadisnya. Zevesh berani bersumpah bahwa tak ada yang lebih berharga daripada gadisnya di dunia yang fana ini. Gadis Zevesh segala-galanya un...
