Follow dulu sebelum baca supaya nggak ketinggalan update cerita ini ya💗
Happy Reading!
***
"Zev lo mau kemana? Tenangin diri lo Zev!"
Yang dipanggil tidak menyahut, Zevesh tetap berlari. Membuka sebuah laci di ruang kerjanya dan mengambil dokumen yang sudah lama tidak berani dia buka. Tangannya bergetar, mata tajamnya bergerak samar membaca setiap detail apa yang tertulis di dokumen tersebut.
Acaesha Queenauror Bartlett : 100% terindikasi gagal jantung stadium akhir.
Sebelumnya Zevesh meyakinkan diri bahwa apa yang dikatakan Nes adalah omong kosong belaka. Selama ini dia mencoba untuk mengubur dokumen itu, menguburnya dalam-dalam bahwa gadisnya tidak apa-apa. Dokumen yang diberikan Marco hanyalah sebuah kertas yang tidak membeberkan apapun.
Tapi ketika kata-kata yang keluar dari Nes yang dia anggap adalah kebohongan besar berhasil menggetarkan hatinya untuk berani membaca setiap detail dari dokumen itu. Berharap apa yang dikatakan perempuan jalang itu tidak benar, tapi sebuah fakta tetap berhasil menamparnya hidup-hidup. Hatinya seakan diremas hebat, tenggorokannya seakan terbelenggu oleh besi panas tak kasat mata.
Beribu pertanyaan kenapa dan mengapa menggerogoti otaknya bak kaset rusak yang terus berputar. Mengapa gadisnya merahasiakan hal sebesar ini padanya, apakah gadis itu benar-benar ingin dia hancur sehancur-hancurnya. Dan pada kenyataannya gadis itu memang telah membuatnya hancur berkeping-keping. Sejak gadis itu meninggalkannya, sejak gadis itu berpura-pura membencinya, dan sejak detak ini. Sejak fakta yang baru saja terungkap, gadis itu telah berhasil membuat dia seperti sosok pemuda lemah yang tidak bisa berguna sama sekali.
"Zev-Cesha, dia-cewek lo bakal baik-baik saja. Percaya sama gue," ada nada sedikit tidak yakin ketika Edgard berusaha menenangkan Zevesh.
"Jadi lo tahu? Selama ini kalian tahu? Kenapa nggak ada satupun yang bilang sama gue bangsat!"
Brak!
Prang!
Zevesh menendang meja disampingnya, guci dibelakangnya dia banting sekuat tenaga. Menyalurkan rasa amarah dan frustasinya.
"Bukan begitu Zev, kita cuman-"
"Cewek gue," napas Zevesh memburu. Dokumen yang masih ada di tangannya dia cengkram erat, melemparnya sebelum melanjutkan ucapannya. "Dia yang larang kalian semua hah?!"
Edgard terdiam, tidak berani menjawab apa-apa. Dia takut salah berucap, dia takut mengecewakan Cesha tapi juga takut pada apa kenyataan yang Zevesh ketahui.
"Zevesh!" Pintu tiba-tiba terbuka. Menampakkan sosok Cesha yang berlinang air mata, diikuti Leona yang juga ikut menangis di belakangnya.
"Mommy, daddy, kak Arthur mereka kecelakaan."
Zevesh mematung, gadis yang selama ini menodai hubungan mereka dengan berbagai macam kebohongan itu sekarang berdiri di depannya seolah-olah tidak ada yang dia coba sembunyikan.
"Zevesh, mereka baik-baik saja kan?" Cesha memeluk Zevesh erat. Tidak menyadari ada yang berubah dari pemuda itu.
Tangan Zeveh yang masih sedikit bergetar membalas pelukan sang gadis. Mengusap punggungnya lalu mencium kepalanya. Dia tidak boleh egois, meskipun rasa kecewa perlahan mengiris hatinya dia harus tetap memperhatikan sang gadis.
"Tenang, mereka akan baik-baik saja," ucap Zevesh pelan. Nadanya sedikit bergetar.
"Gue dapet informasi semua korban dibawa ke rumah sakit kemarin Cesha dirawat, kita ke sana sekarang," papar Edgard diangguki ketiganya
KAMU SEDANG MEMBACA
LUMINESCENCE
Novela JuvenilZevesh tegaskan gadisnya itu LUMINESCENCE untuknya. Zevesh percaya bahwa poros hidupnya hanya berpusat pada gadisnya. Zevesh berani bersumpah bahwa tak ada yang lebih berharga daripada gadisnya di dunia yang fana ini. Gadis Zevesh segala-galanya un...
