[45]. LUMINESCENCE

1.3K 102 5
                                        

Follow dulu sebelum baca supaya nggak ketinggalan update cerita ini ya💗

Happy Reading!

***

Pagi ini suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Angin yang berhembus terlalu kencang, sehingga rambut panjang Cesha yang dibiarkan terurai berkibar tak tentu arah, menutupi sebagian wajahnya yang perlahan menirus setiap hari. Bunga-bunga yang terombang-ambing di taman yang sepi itu menjadi pusat perhatian yang menyenangkan.

Flatshoes putih yang membungkus kakinya dilepas, jari-jarinya bergerak merasakan rumput hijau yang menggelitik telapaknya. Gadis itu terkikik sendiri di taman rumah sakit yang hanya diisi dirinya seorang tak menyadari jika sepasang mata elang sedari tadi tengah memperhatikannya dengan penuh kekaguman yang luar biasa.

Zevesh melangkah mendekati gadisnya, pemuda itu berlutut sebelum mencium punggung tangannya. "Sudah waktunya kita pulang sayang."

"Tapi--"

"Mereka tidak akan datang."

Sekali lagi Cesha menoleh, berharap kedua orangtua dan kakaknya turut menjemputnya. Gadis itu menghembuskan napas, semenjak kepergian mereka ada perasaan aneh yang tak bisa Cesha jelaskan pada siapapun.

***

"Mulai hari ini untuk sementara kamu tinggal bersamaku," lontar Zevesh memecah keheningan di dalam mobil.

Cesha mengangguk, lagipula dia tidak bisa menolak. Sangat jelas bahwa ucapan Zevesh itu berupa penyataan bukan sekedar pertanyaan yang bisa dia jawab sesukanya.

"Ada yang kamu inginkan sayang?"

"Leona, Kak Edgard, Kak Galen, aku pengin mereka juga tinggal sama kita."

"Tidak!" Zevesh tentu saja menolak dengan tegas. Suasana hatinya yang beberapa detik sedang membaik langsung berubah dalam sekejap. Apa-apaan gadisnya, kehadiran mereka bertiga hanya akan membuat dia tidak bisa bermanjaan.

"Kenapa? Aku kesepian Zevesh!"

"Tidakkah cukup dengan bersamaku saja baby?"

Cesha menyentak tangan Zevesh yang tengah memainkan rambutnya. Gadis itu mendengus, "beda! Kalo ada mereka pasti ramai, lagipula kamu bisanya cuman mesum ga bisa diajak main."

Zevesh terbatuk, pemuda itu membasahi bibirnya. Gadisnya ini, kenapa bisa sangat menggemaskan?

"Oke, tapi tidak dengan Galen," putusnya mengalah.

"Kak Galen kan kakak sepupu aku Zevesh, kamu udah tau itu tapi kenapa masih cemburu aja sih?!"

"Tidak ada yang tidak aku cemburuin tentangmu."

"Bahkan dengan pakaianmu pun aku cemburu. Aku sangat ingin menutupi tubuh indahmu itu dengan tubuhku," lanjutnya dalam hati.

"Tapi Kak Galen—"

"Iya atau tidak sama sekali!"

"Huh! Padahal Kak Galen lebih berhak mengurusku. Kamu hanya pacar bukan suami jadi tidak berhak mengaturku!"

Zevesh menghentikan mobilnya, belum sempat membalas Cesha sudah lebih dulu keluar dan membanting pintu mobilnya dengan keras. Hal itu mengundang tatapan ngeri para pelayan, setelah ini pasti mereka yang akan mendapatkan amukan dari tuan mudanya.

LUMINESCENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang