[39]. LUMINESCENCE

6K 226 8
                                        

Happy reading!

***

"Ayah gila?!"

Damian menyeringai, "kau baru sadar?"

"Tolong sudahi semuanya Yah, Nes udah capek," gadis itu mulai terisak.

"Simpan air matamu itu! Tidak ada gunanya menangis, perusahaanku sedang diambang kehancuran tapi apa yang kau lakukan? Bisanya hanya menangis dan menangis! Ibumu di atas sana pasti sangat membenci tingkah lakumu yang sangat lemah dan bodoh!"

Nes mendongak, netra sendunya berubah tajam. "Jangan bawa-bawa bunda, tau apa Ayah soal Bunda?!"

"Kau!" tunjuk Damian, "sudah mulai berani melawanku?! DASAR KURANG AJAR!"

Damian berdiri mendekati Nes, tanpa perasaan pria itu menjambaknya. "Aku tidak mau tau kau harus membunuh sahabatmu itu secepatnya!"

"Tidak!"

Plak!

Damian menampar Nes, "Aku tidak menerima penolakan sedikitpun!" serunya.

"Kau! Bawa bocah ini ke kamar dan kunci rapat, jangan sampai kabur!" perintah Damian pada salah satu pengawalnya.

"Baik tuan."

"Ayah, Nes nggak mau!" Nes berontak, alhasil dia diseret menuju tangga.
"LEPASIN! NES BENCI AYAH, MULAI SEKARANG NES NGGAK MAU IKUT TERLIBAT RENCANA BUSUK AYAH, NES NYESEL JADI ANAK AYAH!"

"Anak itu! Jika aku tidak membutuhkannya sudah sedari dulu aku membuangnya!"

"Jadi, memang benar jika kau tidak memiliki belas kasihan sedikit pun padanya?"

Untuk sesaat Damian tersentak, "kau! Sejak kapan kau ada di sini?!"

Laki-laki yang tengah berdiri pongah di depan Damian itu terkekeh. "Tenang saja aku baru saja sampai, Nes tidak akan melihatku."

"Jangan muncul seenaknya, jika Nes melihatmu rencana kita bisa hancur," peringat Damian.

"Tenang saja," balas laki-laki itu sembari duduk di sofa dengan santai.

"Jadi, apa tujuanmu datang kemari?"

"Kau mau menghianatiku pak tua?"

"Apa maksudmu?" sembur Damian tidak terima.

"Ku dengar kau mau membunuh Cesha, bukankah hal itu tidak ada dalam perjanjian kita?!"

Damian menyesap kopinya, "tak kusangka kau memang benar-benar menginginkannya."

Laki-laki di depan Damian tiba-tiba mengeluarkan pistol dan mengarahkan padanya, Damian langsung mengangkat tangannya waspada. "Sudah kuperingatkan sejak awal, jangan melukai Cesha!"

"Baik anak muda, turunkan pistolmu, mari kita bicarakan ini secara baik-baik," tuturnya was-was.

"Tidak, sebelum kau berjanji."

"Bukankah aku sudah berjanji? Tapi apa, kau terlalu lama bergerak hingga membuat perusahaanku di ambang kehancuran."

"Tidak dengan membunuh Cesha! Lagi pula perusahaanmu dalam kondisi seperti sekarang bukan salahku melainkan salah putrimu yang gegabah."

"Oke aku akui itu, aku tidak akan membunuh anak itu, jadi turunkan pistolmu."

Laki-laki itu menurunkan pistolnya. Akhirnya Damian bisa bernapas lega. "Kau sudah berjanji, jika kau berani mengingkari aku tidak akan segan menyeret dan membunuhmu."

"Baiklah terserah kau, lalu apa rencanamu selanjutnya?"

"Itu rahasiaku, kau tidak perlu tahu."

"Lakukanlah rencanamu itu sesegera mungkin sebelum perusahaanku benar-benar hancur."

LUMINESCENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang