Happy Reading!
***
Zevesh tidak henti-hentinya mengelus pipi, mencium punggung tangan, dan menggumamkan nama Cesha di sela-sela perjalanan mereka menuju rumah sakit. Tangan kirinya masih menekan luka di perut Cesha untuk meminimalisir darah yang tidak berhenti keluar.
"Cepetan bangsat!" intonasinya terdengar sedikit gemetar, akan tetapi siapapun yang melihat ekspresinya pasti akan ketakutan setengah mati.
Arthur kian melajukan mobilnya hingga batas paling atas. Pemuda itu juga sama khawatirnya seperti Zevesh. Kedua manik hitamnya terlihat sangat merah karena menahan tangis. Sebelah tangannya mencengkram bungkus obat yang ada di saku celanya.
Sembari mengemudi Arthur sesekali melirik ke arah Cesha yang sedang berada di pangkuan Zevesh. Semakin bertambah menit, wajah gadis itu semakin memucat. Dan hal itu berhasil membuat sekujur tubuh Arthur menegang.
Arthur tidak bisa membayangkan akan seberantakan apa jika Zevesh sudah mengetahui kebenarannya.
Diam-diam Arthur menatap tajam luka Cesha. "Kenapa harus di sana?!"
"Tolong Tuhan, jangan sekarang."
Gemuruh hujan tiba-tiba datang. Namun hal itu tidak membuat Arthur memelankan laju mobilnya.
Beberapa menit setelah keluar dari dalam hutan akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Bersamaan dengan Zevesh yang keluar dari dalam mobil, sambaran petir terdengar begitu menggelegar.
Orang-orang yang ada di sana berteriak histeris. Bukan karena suara petir yang tiba-tiba datang akan tetapi karena kedatangan pemuda dengan seorang gadis di gendongannya yang sudah dibanjiri darah.
Beberapa perawat menghampiri mereka dengan membawa brankar rumah sakit. Zevesh membaringkan Cesha sangat hati-hati di sana. Tangannya yang tidak henti menekan luka Cesha digantikan oleh seorang suster. Mereka semua berlari tergesa menuju ruang IGD.
"Maaf tidak ada yang diperbolehkan masuk," cegah seorang perawat ketika mereka sampai di depan pintu IGD.
"Lo siapa hah?! Gue cowoknya!" berontak Zevesh menarik pintu yang hendak ditutup.
Edgard dengan sigap menahan tubuhnya, "tenang Zev, Cesha bakal baik-baik saja. Malah kalo lo kayak gini Cesha bakal makin lama ditanganin."
Zevesh mengumpat kala pintu IGD sudah ditutup rapat, "fuck!"
Brak!
Sebelum menjatuhkan tubuhnya di lantai dia menendang pintu itu hingga mengeluarkan suara yang cukup keras.
Tangannya merogoh ponsel di saku celananya, "cari dokter terbaik sekarang juga Mark!" serunya tak mau dibantah.
Dari ujung lorong seorang pria paruh baya dengan jas dokternya berlari menghampiri mereka, "Galen, Arthur, kenapa Cesha bisa sampai terluka?!"
"Om!" Arthur berdiri. Dia menyeka air matanya, "tolong selamatin Cesha sekarang juga Om! Dia terluka parah!"
"Kenapa bisa! Sudah Om katakan jangan sampai Cesha terluka, atau kondisinya akan semakin buruk!"
Zevesh terdiam dia mengepalkan tangannya lalu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang basah karena air mata.
"Ayah!" Galen memperingati ayahnya agar tidak berbicara macam-macam.
Ayah? Zevesh mengernyit, bukankah pria yang ditemuinya di cafe saat bersama Cesha itu adalah pamannya? Itu berarti Galen adalah sepupu Cesha. Dan dia baru mengetahui fakta ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUMINESCENCE
Fiksyen RemajaZevesh tegaskan gadisnya itu LUMINESCENCE untuknya. Zevesh percaya bahwa poros hidupnya hanya berpusat pada gadisnya. Zevesh berani bersumpah bahwa tak ada yang lebih berharga daripada gadisnya di dunia yang fana ini. Gadis Zevesh segala-galanya un...
