Follow dulu sebelum baca supaya nggak ketinggalan update cerita ini ya💗
Happy Reading!
***
Cesha sudah bangun dari pingsannya beberapa menit yang lalu. Namun gadis itu memilih untuk diam, tidak memanggil Zevesh yang tengah tertidur di samping ranjang rumah sakitnya. Gadis itu menghembuskan napasnya lega ketika tidak mendapati jarum infus di tangannya, itu berarti kondisinya baik-baik saja.
Ingatan Cesha kembali terlempar pada kejadian beberapa menit yang lalu. Dia sejak lama sudah menduga hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat Zevesh pasti akan tahu rahasianya. Padahal dari lubuk hatinya yang terdalam dia tidak ingin Zevesh mengetahui segalanya, dia ingin ketika dia pergi dari dunia ini hanya tersisa rasa benci di hati Zevesh. Sehingga pemuda itu tidak akan menggila karena kepergiannya.
Namun, setelah ini bagaimana. Apa yang harus dia lakukan, semua rencananya hancur. Cesha mulai menyesali kembalinya dia di sini. Seharusnya dia tidak pernah kembali, seharusnya dia mengubur perasaanya dalam-dalam. Dan berbagai macam kata seharusnya yang memenuhi otak dan hatinya.
"Apa yang kamu pikirkan?!"
Cesha terlonjak, lamunannya buyar. Wajah Zevesh tiba-tiba sudah ada di depannya, sangat dekat sehingga dia harus memundurkan wajahnya beberapa inci. Namun Zevesh mencegahnya, menarik tengkuk gadis itu agar lebih dekat dengan wajahnya.
"Aku sudah memaafkanmu,"
"Jangan, jangan maafkan aku Zevesh."
"Perkataanku tadi—aku tidak membencimu."
"Tolong benci aku, benci aku sepuasmu."
"Jangan salah paham sayang, kamu tahu sendiri aku tidak akan pernah bisa membencimu sekeras apapun kamu mencoba mengecewakanku."
"Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa membenciku?"
Pada akhirnya Cesha hanya bisa mengatakannya dalam diam. Matanya yang tidak diperbolehkan berpaling dari Zevesh itu mengeluarkan bulir-bulir air mata yang tidak bisa dicegah. Cesha sudah mencoba, mencoba tetap kuat untuk pemuda itu. Tapi hatinya yang rapuh dan kerongkongannya yang tercabik-cabik tidak bisa menahannya.
"Jangan menangis," jempol Zevesh mengusap pipi gadisnya yang basah. "Aku minta maaf, karena sudah menyakiti hatimu dengan perkataan brengsekku tadi."
"A—aku yang seharusnya minta maaf," suara Cesha serak saat mengatakannya.
Zevesh menggeleng, "tidak, kamu tidak salah apapun. Itu pilihanmu untuk merahasiakannya dariku, di sini aku yang salah karena terlalu bodoh untuk memahami semuanya."
Bibir Cesha bergetar, dia menarik Zevesh dan memeluknya. Lagi dan lagi pemuda yang ada dalam pelukannya ini selalu membuat dia merasakan perasaan yang bersalah jauh lebih besar. Zevesh selalu menyalahkan dirinya, dan hal ini membuat hati Cesha semakin sakit. Zevesh selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuknya, tapi dirinya? Cesha bahkan lupa kapan terakhir kali dia membuat Zevesh bahagia.
Zevesh mendorong perlahan tubuh Cesha, dia mengangkat jari kelingkingnya tepat dihadapan wajah cantik itu. "Berjanjilah untuk tetap bertahan?"
Beberapa menit Zevesh tidak mendapat balasan, sehingga dia mengambil tangan kanan Cesha dan mengangkatnya. Membuka sela-sela jarinya yang terkepal dan menyatukan kelingking mereka, "demi aku?" lagi Zevesh tidak mendapat jawaban. "Baik jika bukan karena aku, demi kamu sendiri. Demi hidupmu dan segala mimpimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
LUMINESCENCE
Teen FictionZevesh tegaskan gadisnya itu LUMINESCENCE untuknya. Zevesh percaya bahwa poros hidupnya hanya berpusat pada gadisnya. Zevesh berani bersumpah bahwa tak ada yang lebih berharga daripada gadisnya di dunia yang fana ini. Gadis Zevesh segala-galanya un...
