[41]. LUMINESCENCE

5.4K 201 9
                                        

Happy reading!

***

"Selama ini Ayah kerjasama sama kak Fabio." Nes menunduk, meremat kedua tangannya gelisah, tak berani menatap Zevesh yang seakan hendak mengulitinya hidup-hidup.

"BANGSAT! KENAPA LO BARU NGOMONG SIALAN!!"

"Lepashh—" Nes mencengkram tangan Zevesh yang tiba-tiba mencekik lehernya begitu erat.

"Lepas Zev! Dengerin penjelasan Nes dulu!" Edgard menarik tangan Zevesh namun tenaga pemuda itu tidak sebanding dengan tenaga Zevesh yang jauh lebih kuat.

"Fuck! Buat apa gue dengerin cewek nggak tau diri ini hah?!" Zevesh kian mengeratkan cekikannya hingga Nes mulai kesulitan bernapas. "Mati!" gumam Zevesh dengan iris tajam penuh sorot kedendaman.

Arthur mengacak rambutnya frustasi sebelum menerjang Zevesh dengan tendangan di perutnya hingga Zevesh jatuh terkapar di lantai, "kelakuan lo yang kayak gini bisa buat Cesha pergi dari lo selamanya sialan!"

"Kalau lo bunuh Nes sekarang, kita nggak akan bisa dapat informasi di mana Cesha di bawa kabur Fabio!" tambah Arthur sembari menarik Zevesh agar berdiri.

"Apa maksud kamu Nes, tolong jelaskan, Om benar-benar nggak paham apa yang sebenarnya Ayah kamu lakukan."

"Ayah, dia nggak suka sama Cesha karena selama ini Ayah pikir Cesha jadi satu-satunya penghalang yang buat dia nggak bisa jodohin aku sama Kak Zevesh."

Zevesh berdecih. Sampai kiamat pun dia tidak akan pernah mau melirik gadis itu. Dan apa tadi katanya? Dijodohkan? Lebih baik dia mati.

Nes menyentuh lehernya yang terasa sesak sebelum melanjutkan, "selama ini Ayah maksa aku buat deketin Kak Zevesh supaya Ayah bisa menjalin kerjasama bisnis sama keluarga Kak Zevesh. Dan karena aku nggak bisa deketin Kak Zevesh karena ada Cesha, Ayah berusaha cari cara buat bunuh Cesha. Tapi Ayah berubah pikiran waktu Kak Fabio tiba-tiba menawarkan diri buat jalin kerjasama."

Nes mendongak, "Kak Fabio—dia suka sama Cesha. Dia nyusun rencana sama Ayah buat bawa Cesha kabur—"

"Kenapa lo nggak ngasih tahu kita dari awal Nes? Kalo lo ngasih tahu kita lebih awal Cesha nggak bakal dibawa kabur sama Kak Fabio!" geram Leona.

"Aku udah nyoba hubungin kamu kan? Tapi apa? Kamu nggak balas pesanku satupun! Aku dikurung Na! Makanya aku minta tolong sama kamu buat bantuin aku keluar dari rumah supaya aku bisa ceritain semuanya."

"Bodoh!" Leona memutar matanya, "lo bisa ceritain semuanya lewat ponsel, kenapa harus susah-susah bawa lo kabur dulu? Kalo lo ceritain kebenarannya lebih dulu kita masih bisa cegah rencana Fabio sama bokap sialan lo itu, dan setelahnya baru kita bantu lo kabur!"

"Ponsel aku disadap—"

Edgard berdecih, "nggak mungkin gue sama Leona bisa bawa lo ke sini kalo ponsel lo disadap tolol!"

Nes mengigit bibirnya, "aku—"

"Nes, lo kira dengan lo kasih tahu semuanya bisa buat kita bersimpati sama lo? Nggak Nes gue tahu rencana busuk lo! Lo sengaja kan biarin Cesha dibawa kabur Kak Fabio supaya lo bisa deketin Kak Zevesh lagi. Dan setelah semuanya terjadi lo bersikap seakan-akan jadi pahlawan supaya bisa narik hati Kak Zevesh."

Leona tahu hal itu, saat dia dan Edgard tengah menelusup ke dalam kediaman Nes mereka tidak sengaja mendengar Nes sedang tertawa bahagia karena Fabio berhasil membawa Cesha kabur.

Nes menggeleng cepat, "nggak! Aku nggak mungkin ngelakuin hal kayak gitu, Leona aku tahu kamu benci sama aku tapi nggak segininya kan? Lagipula kamu juga salah! Harusnya dari kemarin kamu bantu aku keluar dari rumah bukan malah baru sekarang setelah Cesha dibawa kabur Kak Fabio!"

LUMINESCENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang