Follow dulu sebelum baca supaya nggak ketinggalan update cerita ini ya💓
Happy Reading!
***
Sudah beberapa hari berlalu semenjak Rico menawarkan diri mendonorkan jantungnya untuk Cesha. Dan Zevesh tidak begitu terkejut akan pernyataan Rico. Sejak lama dia sudah tahu penyakit Rico, dia juga tahu bahwa pemuda itu menyukai gadisnya. Zevesh marah tentu saja, tapi karena Rico tidak melewati batas yang Zevesh tentukan dia membiarkan sahabatnya itu begitu saja.
Sedih? Tidak, Zevesh tidak sedih sang sahabat mengidap penyakit mematikan. Dia justru tenang, bahwa tidak ada lagi celah gadisnya akan direbut. Zevesh memang kejam, semua sudah tahu. Sehingga ketika Zevesh bertingkah tidak memiliki belas kasihan sama sekali kecuali untuk gadisnya tidak ada yang terkejut.
Bukankah manusia seperti Zevesh itu sangat kejam, dia tidak pantas hidup bebas di dunia ini. Tapi, bukankah dunia untuk Zevesh juga jauh lebih kejam?
Ketukan heels membuyarkan lamunan Zevesh, pemuda itu menoleh. Matanya yang redup beberapa saat yang lalu menjadi berbinar kala mendapati sang gadis yang tengah menuruni anak tangga itu terlihat begitu memukau.
Dress berwarna hitam begitu kontras dengan kulit putihnya. Kaki jenjangnya dibalut heels setinggi empat sentimeter, sementara rambutnya yang indah dibiarkan menjuntai, menutupi area dadanya yang sedikit terbuka. Riasannya natural, namun tetap membuat gadis itu seperti putri kerajaan yang tengah menghampiri sang ksatria.
"Bagaimana jika kita tidak jadi pergi?"
Dahi Cesha berkerut, "jangan bercanda Zevesh! Kamu sudah berjanji aku boleh ikut acara prom night kali ini."
Tangan Zevesh menyelipkan rambut Cesha ke belakang telinga, "kamu begitu cantik. Aku tidak rela membagikan kecantikan ini."
"Kamu juga tampan, tapi aku tidak masalah tuh!" dengus Cesha.
Bukan hanya Zevesh yang terpukau, Cesha juga. Pemuda yang dibalut tuksedo hitam itu sangat memesona. Rambutnya yang baru dipotong membuat Cesha terpana untuk sesaat. Zevesh terlihat jauh lebih tampan ketika berpakaian seperti ini. Itu mengapa setiap Zevesh akan ke kantor dengan setelan tuksedonya Cesha kerap kali curi-curi pandang.
Zevesh berdehem, menetralkan degup jantung dan wajahnya yang merah karena pujian dari sang gadis. "Janji setelah ini kita ke rumah sakit membahas mengenai operasi jantungmu?"
Cesha berdecak, "sudah berapa kali kamu tanya ini Zevesh! Kuping aku rasanya mau pecah."
"Kamu kerap kali membohongiku."
Hati Cesha sedikit tersentil, gadis itu mengangguk lelah. "Iya, iya aku janji. Puas?!"
"Baiklah kalau begitu mari berangkat tuan putri."
Aula sekolah begitu ramai diisi para murid dengan setelan formal mereka masing-masing. Acara prom night diadakan setahun sekali setelah mereka mengikuti ujian akhir semester. Sehingga banyak dari mereka yang sangat antusias merayakan berakhirnya masa ujian yang begitu menyiksa.
Acara utama dan paling wajib dari prom night adalah berdansa, sehingga mereka diharapkan untuk datang bersama dengan pasangan masing-masing.
"Kakak lo kemana Ces, ga datang dia?" tanya Leona begitu Cesha dan Zevesh menghampirinya dan Edgard.
"Datang kok Na, dia tadi baru bangun."
"Emang udah bisa jalan tuh curut?"
"Kak Edgard ga boleh gitu ih, kak Arthur bukan curut! Kalo dia curut aku juga curut dong!"
KAMU SEDANG MEMBACA
LUMINESCENCE
Roman pour AdolescentsZevesh tegaskan gadisnya itu LUMINESCENCE untuknya. Zevesh percaya bahwa poros hidupnya hanya berpusat pada gadisnya. Zevesh berani bersumpah bahwa tak ada yang lebih berharga daripada gadisnya di dunia yang fana ini. Gadis Zevesh segala-galanya un...
