Kalo cerita ini jadi terbit, siapa saja yang mau ikut pre order? Komen ☝🏻 here!
Happy Reading!
***
Terakhir kali Zevesh merasakan kekalutan yang luar biasa seperti saat ini adalah ketika gadisnya pergi meninggalkannya. Saat itu Zevesh merasa dunianya hancur sebab seseorang yang selalu berada di sisinya tiba-tiba meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Terdengar berlebihan memang, tapi Zevesh tidak peduli. Biarpun seluruh dunia mencemoohnya sebagai budak cinta sekalipun dia tidak gentar, cintanya pada sang gadis melebihi apapun yang ada di dunia ini. Jika dia harus membakar alam semesta agar dapat tetap bersama gadisnya maka akan Zevesh lakukan.
Dalam perjalanan melintasi gelapnya malam dada Zevesh tak hentinya berdebar dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Kedua tangannya yang tengah memegang setir kemudi itu tidak bisa dia kontrol agar berhenti bergetar. Gadisnya, kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran negatif mengenai kondisi gadis miliknya.
"Fuck!" Zevesh menyugar rambutnya. Pemuda itu frustasi lantaran mobil Edgard yang berjalan di depannya tidak kunjung berhenti, itu berarti mereka belum juga sampai di tempat tujuan.
Satu jam setelah melewati hutan yang dipenuhi pepohonan lebat akhirnya mobil Edgard berhenti di sebuah lapangan yang tidak terlalu luas.
"Lo bohongin gue? Mana cewek gue kenapa lo malah bawa gue ke sini hah?!" sentak Zevesh begitu menyadari tidak ada tanda-tanda keberadaan gadisnya di sana.
Edgard mendorong Zevesh, "kendaliin diri lo Zev! Jangan sampai kekhawatiran lo itu malah buat kita nggak bisa selamatin Cesha!"
"Sttt.. " telunjuk Leona menempel di depan bibir. "Jangan berisik!" matanya melirik ke samping, mengode mereka jika ada orang lain selain mereka berlima.
"Ikutin gue!" perintah Edgard lirih agar tidak ada yang curiga akan kehadiran mereka.
Arthur menepuk punggung Edgard, "mobilnya gimana Gar, lo yakin nggak bakal ketahuan?"
Galen mengangguk setuju, "harusnya kita parkir agak jauhan, supaya nggak ada penjaga yang bisa nemuin mobil kita."
"Nggak ada waktu, kita nggak tahu apa yang bakal Fabio lakuin ke Cesha."
"Lari kak!" seru Leona begitu menyadari ada beberapa penjaga yang mulai mengejar mereka di belakang sana.
Mereka segera berlari tergesa menelusuri jalanan sempit dengan minim pencahayaan itu. Sesekali mereka menoleh ke belakang memastikan jika para penjaga itu tidak bisa menangkap mereka.
Dor!
Dor!
Sial, mereka membawa pistol!
"Zev lo udah hubungin bawahan lo?" tanya Arthur kian mempercepat langkahnya.
Zevesh mengangguk beberapa detik setelahnya dia tiba-tiba berhenti mengundang reaksi marah dari lainnya.
"Sialan! Ngapain lo berhenti Zev, sekarang bukan waktunya buat numbangin mereka!"
Zevesh tidak menghiraukan Edgard, dia mengeluarkan pistolnya dan menembak para penjaga itu hingga tumbang.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUMINESCENCE
Teen FictionZevesh tegaskan gadisnya itu LUMINESCENCE untuknya. Zevesh percaya bahwa poros hidupnya hanya berpusat pada gadisnya. Zevesh berani bersumpah bahwa tak ada yang lebih berharga daripada gadisnya di dunia yang fana ini. Gadis Zevesh segala-galanya un...
