[37]. LUMINESCENCE

6.2K 228 5
                                        

Happy reading!

***

Setelah kejadian di mana Stevie mendapatkan ancaman dari Zevesh, gadis itu akhirnya pergi meninggalkan tribun.

Hal itu sontak membuat Cesha tersenyum puas. Ia merasa menang. Sebab sedari kecil Stevie selalu tidak mau kalah dalam segala apapun.

Cesha tahu betul Stevie tidak menyukai Zevesh dalam artian cinta. Gadis itu hanya ingin mengambil perhatian Zevesh yang notabenenya merupakan sepupunya. Stevie terobsesi ingin mempunyai kakak laki-laki. Sehingga gadis itu menjadikan Zevesh sebagai pusat obsesinya. Dan entah kenapa Cesha sangat tidak menyukai hal itu.

"Galen jago juga main basket, dia siapa lo sih Ces?"

Mata Leona berbinar segar kala tak sengaja menangkap Galen tengah mengganti jersey di pinggir lapangan. Pemuda itu menggantikan Fabio yang beberapa hari ini tidak masuk sekolah. Entah apa yang sedang laki-laki itu lakukan.

"Dia yang nemenin aku waktu di luar negeri."

Leona mendekat, gadis itu berbisik, "bukan selingkuhan lo kan Ces?"

"Apaan sih Leona! Mana mungkin aku berani selingkuh."

"Pokoknya jangan sampe lo buat kesalahan ya Ces, soalnya yang nerima akibatnya bukan lo tapi kita-kita semua," peringat Leona.

"Nes gimana, kamu ada kabar dari dia?" tanya Cesha mengalihkan topik pembicaraan.

Leona menepuk dahinya teringat sesuatu, "oh iya kemarin dia chat gue katanya mau ketemu, tapi karena gue males jadinya gue ngga bales," jelasnya ogah-ogahan.

"Kenapa?" Cesha mengernyit, "kalo ada hal penting yang mau Nes omongin gimana?"

"Ah bodo amatlah gue, lagian juga ngapain lo masih peduli sama dia sih Ces?!"

"Tap-"

"Anjing! Cowok lo gimana sih Ces! Masa dari tadi nggak mau ngoper bola ke Galen. Kalo kek gini terus besok sekolah kita bisa kalah!"

Cesha mengalihkan atensinya ke tengah lapangan. Memerhatikan bagaimana Zevesh yang tidak mau mengoper bola basket pada Galen, padahal jelas sekali posisi Galen tidak berada jauh dari ring, jika Zevesh mengoper bolanya pasti akan jauh lebih mudah mencetak poin.

Pluit tanda permainan harus dihentikan tiba-tiba berbunyi, seorang pelatih dengan kedua tangan diletakkan di pinggang berdecak kesal.

"Sebenarnya ada apa dengan kamu Zevesh?! Sudah saya ingatkan berulangkali jika kerjasama dan kekompakan dalam tim sangat penting untuk menenangkan pertandingan. Harusnya kamu oper bolanya ke Galen kenapa malah ke Arthur?!"

"Saya tidak mau ada dia di tim ini!" Zevesh menunjuk Galen dengan raut tak bersahabat.

Mendengarnya Galen turut menatap Zevesh tajam, "lo kira gue mau gabung di tim lo ini hah! Kalo bukan buat ganti nilai gue yang jelek juga gue ogah bangsat!"

Edgard meringis, ia menyikut lengan Arthur yang berdiri di sebelahnya. "Gawat Tur, tanda-tandanya mau ada adu jotos lagi."

Arthur menggela napas, melirik Cesha yang masih berada di tribun sejenak sebelum berjalan mendekati Zevesh dan berbisik.

"Inget ada Cesha, gue udah pernah peringatin lo!"

"Saya tidak mau tau, besok Galen akan tetap bermain dan kamu Zevesh suka atau tidak suka harus tetap bermain secara sportif. Ini pertandingan terakhir kalian, jadi— kamu mau kemana Zevesh saya belum selesai bicara!"

Zevesh pergi meninggalkan lapangan begitu saja, tak menghiraukan namanya yang terus menerus dipanggil oleh sang pelatih.

"Sumpah ya Ces gue kalo jadi lo gak bakal kuat pacaran sama Zevesh. Udah posesif mampus, kasar, susah dibiliangin. Bisa-bisa bukannya bahagia punya pacar, gue malah stress," beo Leona.

LUMINESCENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang