Happy reading!
***
Selama prosesi pemakaman, Zevesh tidak menunjukkan ekspresi apapun. Saat peti mati mendiang ibunya diturunkan ke liang lahat, Zevesh tetap tenang, seolah hal yang ada di depan matanya bukanlah apa-apa.
Semua tamu yang berziarah memusatkan perhatian mereka pada Zevesh dengan berbagai tatapan. Beberapa memandang Zevesh sebagai anak yang aneh sebab tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan sedikitpun. Ada juga yang berpikir Zevesh ahli dalam menyembunyikan kesedihannya.
Berbanding terbalik dengan Andrew, pria itu tampak sangat hancur. Bahkan Leander sampai harus mengikat kedua tangannya agar tidak mengagalkan prosesi pemakaman.
Cesha melihat semua, ia menangis, hatinya justru terasa sangat sesak ketika melihat Zevesh sedari tadi hanya diam. Ia juga menyayangkan sikap Andrew yang bertingkah seolah pria paruh baya itu kini tidak memiliki siapapun, padahal jelas-jelas di sini masih ada putranya yang mungkin juga butuh dikuatkan.
Setelah prosesi pemakaman usai, hujan tiba-tiba turun, Andrew yang tidak mau meninggalkan makam mendiang istrinya ditarik paksa oleh Leander dan Arthur karena pria itu sudah terlihat sangat pucat, akan sangat berbahaya jika membiarkannya terguyur air hujan lebih lama.
Zevesh melepas jas hitamnya, menutupi kepala Cesha agar terhindar dari air hujan.
"Kamu nggak papa kan sayang?"
Cesha mendongak, memperhatikan Zevesh yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.
"Harusnya aku yang bertanya Zevesh, kamu baik-baik saja kan?" Namun, seakan ada rantai tak kasat mata yang membelenggu tenggorokannya, Cesha tidak bisa mengatakan hal itu. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengangguk.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di kediaman Andrew. Keadaan mansion masih tampak ramai karena beberapa tamu masih silih berganti berdatangan untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa.
Arthur dan Leander memapah tubuh Andrew untuk di bawa ke kamar. Sementara Cesha, setelah meminta izin pada Cinthya yang masih menyapa beberapa tamu, ia mengikuti Zevesh yang menariknya entah ke mana.
"Ganti ini, aku nggak suka kamu pakai warna hitam," perintah Zevesh menyerahkan sebuah dress berwarna putih selutut.
Cesha menerimanya, setelah gadis itu sudah sepenuhnya masuk ke dalam kamar mandi Zevesh melepaskan kemeja hitamnya dengan kaos berwarna putih yang terlihat lebih nyaman.
Zevesh duduk si tepi ranjang, membuka sebuah laci yang ada di meja nakas lalu mengambil salah satu foto dari dalam. Sebuah potret ketika ia masih kecil bersama kedua orang tuanya terpampang jelas. Matanya menghunus lurus memperhatikan foto lama itu, entah apa yang pemuda itu pikirkan, yang pasti beberapa menit setelahnya ketika mendengar pintu terbuka Zevesh segera memasukkan foto tersebut ke dalam laci.
Cesha berjalan ke arah Zevesh dengan langkah ragu, "Zevesh," panggilnya.
"Sini sayang," perintah Zevesh menepuk sisi sebelahnya.
"Kamu ada cardigan atau jaket? Dingin," tanya Chesa seraya mengusap bagian lengannya yang terbuka.
Zevesh memperhatikan wajah pucat Cesha sebelum segera berjalan ke arah walk in closet dan mengambil sebuah cardigan berwarna pink yang sudah ia beli beberapa waktu yang lalu khusus untuk gadisnya.
"Jangan sakit!" resah Zevesh. Memakaikan cardigan pada Cesha dengan lembut.
Chesa mengangguk, "Zevesh,"
KAMU SEDANG MEMBACA
LUMINESCENCE
Fiksi RemajaZevesh tegaskan gadisnya itu LUMINESCENCE untuknya. Zevesh percaya bahwa poros hidupnya hanya berpusat pada gadisnya. Zevesh berani bersumpah bahwa tak ada yang lebih berharga daripada gadisnya di dunia yang fana ini. Gadis Zevesh segala-galanya un...
