Pastikan follow dulu sebelum baca supaya nggak ketinggalan update cerita ini, terima kasih💗
Happy Reading!
***
"Kau bohong Marco! Putraku baik-baik saja. Dia sehat!"
Arthur dan Marco menoleh ke arah pintu masuk. Cinthya dan Leander berdiri di sana. Raut terkejut dari keduanya tidak dapat disembunyikan.
"Tidak mungkin dia sakit! Selama ini kami rutin mengecek kesehatan Arthur dan Cesha!" lanjut Cinthya.
"Katakan yang sebenarnya Marco!" sentak Leander penuh ancaman.
"Tanyakan saja pada putra kalian, apa yang sebenarnya dia sembunyikan selama ini."
Kedua tangan Arthur mengerat. "Bohong!" Arthur menatap Marco seakan memberikan peringatan. Lalu beralih menatap kedua orang tuanya, "Mom, Om Marco bohong. Jangan percaya dia. Arthur baik-baik saja, nggak usah khawatir."
"Dengar kan Marco putraku baik-baik saja!"
"Aku seorang dokter. Tidak mungkin berbicara omong kosong mengenai kondisi pasien!"
"Baca ini Leander, aku tidak berbohong. Arthur menyembunyikan hal ini dari kalian. Dan sekarang adalah waktunya kalian mengetahui rahasianya sebelum terlambat."
Leander menerima kertas yang disodorkan Marco padanya. Kedua matanya meneliti kata demi kata. Hingga suatu kalimat di baris paling akhir berhasil mengguncang seluruh tubuhnya.
Pria itu membeku. Matanya menyorot Arthur dengan tatapan sendu. "Kenapa kamu menyembunyikan hal sepenting ini dari kami Arthur?!" Leander membanting kertas di tangannya. "Dan apa tadi, Kanker darah stadium akhir? Sebenarnya seberapa lama kamu menyembunyikan hal ini?!"
Sebelumnya Leander tidak mau mempercayai hal ini. Namun, Marco adalah Kakaknya. Pria itu tidak pernah berbicara omong kosong padanya.
Cinthya mengambil kertas hasil laporan kesehatan itu dengan tangan gemetar. Air matanya tak dapat dibendung lagi ketika membaca hasil diagnosa tersebut.
"Kenapa kamu menyembunyikan hal ini dari kami Arthur?!" Cinthya mengguncang kedua lengan Arthur. "Apa kami tidak berarti bagi kamu?"
Arthur tentu menggeleng, "nggak Mom, bukan begitu!" kedua tangannya menggenggam tangan Cinthya mencoba meyakinkan. "Maaf-tapi Arthur cuman nggak mau buat kalian khawatir. Cukup dengan Cesha tapi nggak buat Arthur. Mommy sama Daddy harus percaya, Arthur bisa mengatasi semuanya sendiri."
"Kamu tidak bisa mengatasi hal separah ini sendiri," Marco tiba-tiba bersuara. Hal itu berhasil membuat Arthur geram.
"Bisa! Aku pasti bisa Om! Lihat, aku masih bisa bertahan sampai detik ini. Itu artinya aku baik-baik saja, tidak ada masalah yang serius."
Marco menggelengkan kepalanya, merasa frustasi dengan sikap keras kepala keponakannya. "Pengidap kanker memang kebanyakan tidak memberikan tanda-tanda yang serius. Namun jika dibiarkan terlalu lama tentu akan menjadi masalah yang sangat serius dan mengancam nyawa."
"Kanker yang kamu alami sekarang sudah sampai pada tahap akhir Arthur. Itu artinya kecil kemungkinannya bisa sembuh. Namun di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika kamu mau berusaha. Oleh karena itu, Leander, Cinthya, cepat bawa Arthur berobat ke luar negeri."
"Om-"
"Arthur jangan keras kepala!" sela Leander. "Bagi kami kamu dan Cesha sama, tidak ada bedanya. Jadi berhenti bersikap seakan kamu bisa mengatasi semuanya sendiri!"
KAMU SEDANG MEMBACA
LUMINESCENCE
Teen FictionZevesh tegaskan gadisnya itu LUMINESCENCE untuknya. Zevesh percaya bahwa poros hidupnya hanya berpusat pada gadisnya. Zevesh berani bersumpah bahwa tak ada yang lebih berharga daripada gadisnya di dunia yang fana ini. Gadis Zevesh segala-galanya un...
