10

1.5K 137 18
                                        

Setelah berbincang di taman, Ronadio langsung pergi begitu saja. Sepertinya, Ronadio pergi ke kamarnya. Saviera yang merasakan perubahan sikap Ronadio dibuat risau, akhirnya, ia memutuskan untuk menghampiri sang tuan.

Tok.. Tok..

Saviera mengetuk pintu kamar Ronadio, tetapi, tidak ada jawaban. Ia akhirnya memutar handle pintu, ternyata pintu tidak terkunci. Saviera mengintip ke dalam, terlihat punggung Ronadio yang sedang merebah di atas bed dengan posisi membelakangi pintu.

"Onad?" panggil Saviera sembari memunculkan kepalanya dari balik pintu. Ronadio tetap pada posisinya, "Boleh masuk?" tanya Saviera. Ronadio mengangguk tanpa menoleh.

Saviera masuk ke dalam kamar, ia berjalan mendekat ke arah sofa sudut kamar dan duduk di sofa yang letaknya lumayan jauh dari Ronadio tersebut. Saviera memperhatikan Ronadio yang sedang memejamkan mata.

"Kamu kenapa? Boleh aku tau apa yang kamu rasa sekarang?" tanya Saviera. Ronadio membuka pejaman matanya, ia menatap Saviera.

"Aku bingung dengan perasaanku, aku sangat terkuras secara mental dan emosional karena kebisingan dipikiranku. Hatiku mati rasa saat ini, aku merasa hampa, hanya lelah secara emosional dan mental yang aku rasakan,"

Saviera yang mendengar penuturan Ronadio sangat tersayat dibuatnya, apakah sebegitu tersiksanya Ronadio karena pikiran-pikirannya itu. Oh, God.. Saviera tidak tega dengan lelaki tersebut.

"Setelah bicara sama kamu di taman, aku merasa saat ini aku bukan hidup di duniaku, aku merasa banyak perbedaan. Aku merasa kamu bukan Oxa, kamu bukan kembaranku, bukan adikku. Tapi disisi lain, wajah kamu mirip dengan Oxa. Kamu sebenarnya siapa? Aku ga ingat sama sekali."

Ronadio lalu bangun dari rebahnya dan berjalan mendekat ke arah Saviera yang sedang duduk di sofa. Ronadio ikut duduk tepat di sebelah Saviera, Ronadio menatap kedua bola mata Saviera.

"Kenapa kamu bisa berpikir kalau aku bukan Oxa?" Saviera ingin mengetahui alasan Ronadio mulai menyadari jika dirinya bukan Oxa.

"Karena aku sadar kalau sikap, kepribadian, dan penampilan kamu jauh berbeda dengan Oxa. Kamu rapi sedangkan Oxa berantakan. Kamu memiliki pribadi yang lembut, sedangkan Oxa memiliki pribadi yang keras. Banyak hal yang kamu bisa, tapi Oxa ga bisa. Banyak hal yang kamu suka, tapi Oxa ga suka. Saat ini, aku memang susah membedakan wajah kamu dan Oxa, tapi, aku sadar saat ini aku sedang down. Pikiranku kacau dan ga bisa memproses siapa kamu. Aku mulai sadar setelah melihat dan merasakan sikap kamu, wajah kamu dan Oxa serupa, tapi kalian ga sama."

Ronadio berbicara dengan suara lirih. Ia terus memandangi wajah Saviera, ia berharap Saviera berbicara tetapi Saviera tetap bungkam seperti enggan berbicara. Saviera hanya menatap sorot mata Ronadio yang mulai menajam.

Sorot mata tajamnya mulai kembali seperti semula, seperti saat kondisinya normal. Ronadio akan kembali menjadi Ronadio yang Saviera temui di Quello di Vier waktu itu jika ia tahu bahwa yang di hadapannya ini adalah Saviera, bukan Oxa.

"Who are you?" tanya Ronadio.

Saviera menatap dalam bola mata Ronadio. Ia tidak langsung menjawab, ia memberi jeda terlebih dahulu. Barulah sesaat kemudian ia tersenyum dan menjawab, "I'm Saviera."

Ronadio mencerna jawaban Saviera, ia sedang mengingat-ingat siapa Saviera, "Kenapa kamu berpura-pura menjadi Oxa? Kenapa kamu mau aku anggap Oxa? Kenapa kamu ga jujur kalau kamu bukan Oxa? Kenapa?!" Ronadio sedikit menaikkan nada bicaranya kepada Saviera.

Setelah itu, Ronadio langsung memejamkan matanya. Ia menahan segala rasa yang bercampur aduk dipikirannya. Ronadio menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, rasanya energinya saat ini sudah benar-benar terkuras habis.

Similar FaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang