Hari ini, pukul 14.00, Ronadio dan Saviera baru bisa duduk santai di ruang keluarga rumah Saviera. Ronadio baru selesai mengurus kepindahannya ke rumah Saviera. Ia mengambil pakaian dan beberapa kepentingan lain dari rumahnya. Tentu didampingi Saviera, Saviera membantunya.
Saat ini, mereka sedang berbincang dan bercanda tawa sambil memakan cemilan. Ronadio terus bertanya banyak hal mengenai Saviera, entah itu hal yang Saviera suka, hal yang tidak disukai Saviera, bahkan hal sepele pun Ronadio tanyakan sebab ia ingin lebih mengenal Saviera.
"Sa, tapi kamu okay kan kalau aku tinggal di sini?" tanya Ronadio sambil menatap Saviera yang duduk tak jauh darinya.
"Kalau ga okay aku ga akan sampai bantu kamu pindahan kaya tadi dong, Ron," Ronadio tersenyum mendengar jawaban Saviera, "Kamu bisa anggap rumahku rumahmu juga, kamu bebas mau ngapain aja di sini. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa minta ke pelayan. Pelayan selalu standby untuk kamu." lanjut Saviera.
"Kalau aku butuhnya kamu, apa kamu bisa standby untuk aku?" tanya Ronadio.
Saviera tak langsung menjawab, ia berpikir sejenak. Lalu, Saviera menampilkan senyum manisnya kepada Ronadio. "Aku usahakan untuk selalu standby." katanya. Ronadio pun ikut tersenyum manis kepada Saviera. Ia senang mendengar jawaban Saviera, hatinya damai.
"Nanti sore aku keluar ya," ucap Saviera. Ia memberi tahu. Akan tetapi, itu lebih terdengar seolah ia sedang meminta izin kepada Ronadio.
"Ke mana?" tanya Ronadio.
"Ke Quello di Vier, terus lanjut ke rumah sakit pelita." jawab Saviera.
"Mau ngapain ke rumah sakit pelita? Are you okay?" Ronadio bertanya, ia merasa khawatir dengan Saviera.
"I'm okay. Tanggal segini memang biasanya aku ke rumah sakit pelita untuk antar makanan dan beberapa keperluan pasien sana." Ronadio terlihat bingung, Saviera yang menyadari kebingungan Ronadio pun lanjut menjelaskan.
"Dari dulu aku memang selalu menyuplai makanan dari Quello di Vier ke rumah sakit pelita, beberapa keperluan pasien sana juga aku suplai, terkhusus pasiennya Polix." seperti di awal sudah pernah dijelaskan, Saviera memang selalu melakukan hal tersebut, terkhusus untuk pasien gangguan mental Polixa di rumah sakit pelita.
"Oh, iya? Wow.. Hebat kamu. Kalau nanti sore aku ikut ke rumah sakit pelita boleh?"
Saviera diam, ia tak menjawab. Satu hal yang ia takutkan jika Ronadio ikut denganya, Saviera takut Ronadio mengingat kembali masa-masa ia dirawat di rumah sakit pelita. Ronadio memang sudah pernah ke rumah sakit pelita pada saat Saviera dirawat waktu itu, tetapi itu bukan di mental disorder areanya.
"Sa?" panggil Ronadio karena merasa tak mendapat jawaban apapun dari Saviera.
"Kamu di rumah aja ya?" jawab Saviera.
"Kenapa memangnya?" tanya Ronadio.
"Aku takut—" ucap Saviera menggantung.
"Takut kenapa?" sahut Ronadio.
"Takut nantinya kamu keingat masa-masa kamu dirawat di rumah sakit pelita. Aku takut kamu keingat Oxa lagi, aku takut kondisi kamu down lagi karena pasti nanti aku ke mental disorder areanya." jelas Saviera.
Ronadio yang mendengar penjelaskan Saviera bangkit dari duduknya, ia lalu mendudukkan diri di sofa samping Saviera. Ronadio menatap dalam kedua bola mata perempuan cantik yang terduduk di sampingnya, Saviera pun membalas tatapan mata Ronadio, "Sa, kamu percaya aku?"
"Aku percaya kamu, tapi aku khawatir," jawab Saviera penuh kekhawatiran. Ronadio bisa melihat sorot kekhawatiran dari mata Saviera. Senyum Ronadio seketika timbul, Ronadio senang dikhawatirkan seperti ini oleh Saviera.
KAMU SEDANG MEMBACA
Similar Face
RomanceBagai keajaiban yang datang tak terduga, bagai bencana yang datang tak disangka. Begitulah pertemuan mereka, terjadi begitu tiba-tiba. Setiap manusia sudah digariskan takdirnya masing-masing, semuanya sudah ditulis dan dirancang dengan mendetail ole...
