Setelah mendengar cerita Saviera, Ronadio memandangi wajah Saviera dengan tatapan yang sulit di artikan. Lalu, ia menggenggam erat tangan Saviera. Saviera merasa sedikit terkejut.
"Kamu perempuan kuat, perempuan tangguh, perempuan hebat." ucap Ronadio.
Ronadio mengecup beberapa saat tangan Saviera yang sedang ia genggam. Setelahnya, ia membawa tangan Saviera ke pipinya. Sesaat, Ronadio dan Saviera saling bertukar pandang tanpa suara.
Tiba-tiba saja mata Ronadio kembali berkaca, tetes air mata turun membasahi pipinya. Saviera yang melihatnya tentu tidak tinggal diam, tangan Saviera bergerak membasuh air mata Ronadio.
"Sorry, Sa," ucap Ronadio.
"Stop say sorry, bukan salah kamu."
Saviera menarik pelan tangannya dari pipi Ronadio, lalu, beralih mengelus sesaat punggung tangan Ronadio, "Ron?" Saviera memanggil.
"Hm?" sahut Ronadio.
"Aku merasa ga asing dengan sorot mata orang yang tadi tusuk aku, orang yang aku tembak," ujar Saviera. Saviera masih penasaran dengan orang tersebut, benar-benar tak asing.
"Menurut kamu siapa orangnya?"
"Aku ga tau, tapi sorot matanya persis sorot mata Danish. Aku hafal betul gimana sorot mata Danish, sorot mata orang tadi benar-benar mirip dengan Danish." jelas Saviera.
Penjelasan Saviera membuat kerutan di kening Ronadio timbul, Ronadio bingung. "Maksud kamu Danish orangnya? Ga mungkin, Sa, Danish udah ga ada." balas Ronadio.
"Aku ga tau, tapi memang orang tadi benar-benar mirip Danish, sampai ke perawakannya pun sekilas mirip," sahut Saviera.
"Apa lagi yang kamu ingat tentang orang itu? Suara mungkin?" tanya Ronadio.
"Dia ga bersuara sedikitpun, hanya sorot mata dan perawakannya yang bisa aku amati. Selebihnya aku ga tau karena semua orang-orang tadi berpakaian tertutup." jawab Saviera.
"Orang itu benar-benar mau buat kamu celaka, Sa, dia ga biarkan kamu bernafas lega. Orang itu selalu mengawasi kamu, bahkan tadi saat aku pergi dari rumah kamu dia pun tau,"
Saviera menatap dalam Ronadio, Ronadio pun membalas, "Wait, dia tau saat kamu pergi dari rumahku dan dia menyebutkan nama kamu di surat, itu tandanya dia kenal kamu, Ron."
"Hm, sepertinya iya. Aku rasa kalau kita diamkan seperti ini terus orang itu ga akan berhenti, dia malah semakin menjadi. Secepatnya aku akan lapor polisi supaya kamu juga bisa lebih aman."
"Jangan lapor polisi dulu, aku udah cukup aman ada kamu yang lindungi aku walau kamu ga bisa selalu ada di samping aku." ujar Saviera.
"Kalau begitu, ayo kita menikah," ajak Ronadio.
"Menikah?" Saviera tersentak
"Ya, dengan aku menikahi kamu aku akan bisa lebih leluasa melindungi kamu dan aku bisa dua puluh empat jam selalu di sisi kamu."
"Melindungi ga harus dengan menikahi,"
Ronadio menatap lekat Saviera, "Tapi menikahi adalah cara melindungi yang paling tepat."
"Kita ga memiliki perasaan satu sama lain, ga mungkin tiba-tiba menikah. Menikah itu bukan permainan, tapi menyangkut masa depan."
"Ga ada yang mengatakan jika ajakanku menikah adalah sebuah permainan." ucap Ronadio. Saviera diam tak bersuara, ia menatap lekat kedua bola mata hitam pekat Ronadio. Saviera tak habis pikir dengan mudahnya Ronadio mengajaknya menikah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Similar Face
RomanceBagai keajaiban yang datang tak terduga, bagai bencana yang datang tak disangka. Begitulah pertemuan mereka, terjadi begitu tiba-tiba. Setiap manusia sudah digariskan takdirnya masing-masing, semuanya sudah ditulis dan dirancang dengan mendetail ole...
